NEWS

Jaringan Kesehatan None Sisir Kecamatan Lakukan Penyemprotan Disinfektan

Jaringan Kesehatan None Sisir Kecamatan Lakukan Penyemprotan Disinfektan

MAKASSAR, UPEKS.co.id – Kasus covid-19 terdeteksi pertama di Indonesia pada 2 Maret dengan diumumkan langsung oleh Presiden Joko Widodo. Sontak kabar tersebut menimbulkan beragam reaksi di masyarakat. Tak terkecuali bagi warga Makassar dan Sulawesi Selatan.

Namun, di saat semua masih kebingungan, hadir beberapa relawan yang dengan sigap mencoba membantu menenangkan dan memberikan bantuan kepada masyarakat secara langsung. Salah satunya tim JKN atau Jaringan Kesehatan None yang diinisiasi oleh Irman Yasin Limpo.

“Hal pertama adalah memberikan hand sanitizer dan penyemprotan disinfektan,” ujar relawan JKN Fajri.

Tim JKN telah bergerak jauh sebelum pandemi ini positif masuk ke Sulawesi Selatan pada 19 Maret atau selang 17 hari dari ditemukannya kasus pertama kali di Depok.

Hampir semua kecamatan disisir tim JKN untuk melakukan penyemprotan. Mulai rumah penduduk, tempat ibadah, rumah sakit, kantor pemerintahan, pasar, dan beberapa lokasi yang berpotensi dikunjungi banyak orang.

“Sejak awal Pak None (Irman YL) sudah berpesan bahwa cara memutus rantai penyebaran adalah dengan social distancing. Makanya kami juga tak henti memberi himbauan. Namun, jika terpaksa pergi, kami berusaha mensterilkan lokasi-lokasi yang kemungkinan menjadi tujuan mereka,” tegasnya.

Ketika wabah makin merajalela, bentuk bantuan pun diperluas dengan menyediakan beberapa lokasi cuci tangan beserta sabun. Tujuannya, jika terpaksa harus ada kontak, tangan segera steril kembali.

Tak berhenti di situ, ketika warga sudah merasakan bahwa pandemi ini berpengaruh pada kondisi perekonomian. Lagi-lagi tim JKN ambil bagian dengan membagi-bagikan puluhan ribu paket sembako. Bahkan, Irman sendiri turun langsung ke lapangan guna memastikan bahan pangan yang akan dibagikan memiliki kualitas terbaik.

“Kalau bagi pekerja harian seperti tukang ojek online, atau pekerja yang ada di jalanan, kami juga siapkan ratusan nasi kotak selama beberapa hari. Fokusnya agar masyarakat tetap terpenuhi kebutuhan gizinya,” imbuh Fajri.

Perhatian juga tidak hanya diberikan kepada masyarakat saja, tetapi bagi tenaga kesehatan yang berjibaku di garis terdepan. Saat mereka bekerja dengan alat-alat seadanya, None langsung mencari APD yang sesuai standarisasi untuk dibagikan pada mereka.

Total ribuan baju APD sudah terdistribusikan dengan baik ke beberapa rumah sakit dan puskesmas. Tak ayal beberapa perawat sampai haru menerima bantuan tersebut. Salah satunya seperti video yang viral di lini sosmed. Dalam video berdurasi 2 menit itu, perawat mengatakan apresiasinya terhadap gerakan cepat tim JKN membantu tenaga medis. “Kami benar-benar mengucapkan terima kasih banyak. Alat ini sungguh berarti,” tegas salah satu tenaga kesehatan Dasrianto.

Ya, selama ini, dari berbagai fakta yang ada, tim JKN memang yang bergerak paling cepat dan massif di lapangan. Tanpa gembar-gembor media, mereka terus bergerak menyentuh berbagai lapisan masyarakat.

Menariknya, justru penerima bantuan lah yang memviralkan adanya bantuan tersebut. Tak heran jika kemudian, pada laman Instagram dan Facebook pada medio Maret hingga April, bantuan dari tim JKN banyak mendapat perbincangan. Mayoritas memuji langkah cepat dan tepat dari sosok mantan Kepala Dinas Pendidikan Sulsel itu.

Diwawancarai lewat telepon, Irman YL mengaku semua yang dia lakukan adalah karena dasar kemanusiaan. Bukan hal lain. “Apa yang kita hadapi saat ini adalah sesuatu yang luar biasa. Butuh penanganan konkret dan cepat agar tidak memberikan dampak makin buruk,” tegas adik Mentan Syahrul Yasin Limpo itu.

Disinggung soal bantuan ini berdekatan dengan Pilkada, Irman mengelak. “Saat ini pilkada bukan prioritas. Semua ikhlas demi sesama. Jangan sampai ada lagi korban yang berjatuhan,” tegas None.

Setelah ditelusuri, statement None bukan isapan jempol. Hal itu terlihat dari akun social media miliknya. None menjadi salah seorang kandidat kepala daerah yang pertama kali menyuarakan bahwa di masa pandemi seperti saat ini, Pilkada sebaiknya ditunda dan dana pemilu dialihkan untuk penanganan Covid 19.

Hal senada dia lakukan juga dalam kapasitasnya sebagai Ketua PGRI yang mendesak Menteri Pendidikan untuk menghapuskan Ujian Nasional karena memiliki potensi membahayakan anak-anak didik dan pengajar. Usul itu pun menjadi kenyataan.(mah)

#TRENDING

To Top