MAKASSAR, UPEKS— Pemerintah Kota Makassar memperkuat upaya penanggulangan Tuberkulosis (TBC) melalui gerakan tracing yang terintegrasi dengan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG).
Kepala Dinas Kesehatan Kota Makassar, dr. Nursaidah Sirajuddin, mengatakan salah satu tantangan yang masih dihadapi pemerintah adalah rendahnya capaian Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) bagi kontak serumah pasien TBC.
Hingga evaluasi 2026, baru 516 orang atau sekitar 0,71 persen dari target 72.240 kontak serumah yang telah memperoleh terapi pencegahan.
Angka tersebut menunjukkan masih besarnya pekerjaan rumah dalam menemukan dan memberikan perlindungan kepada orang-orang yang memiliki risiko tertular TBC dari anggota keluarga yang telah terdiagnosis.
Sekretaris Komisi D DPRD Kota Makassar, dr. Fahrizal Arrahman Husain, mendukung langkah Pemkot Makassar dalam memperluas tracing dan pemeriksaan TBC.
“Dulu waktu saya masih sempat bekerja di Puskesmas dan rumah sakit, memang banyak masyarakat yang tidak mengetahui bahwa mereka terjangkit TB, tetapi tetap melakukan sesuatu aktivitas yang bisa menyebabkan penyakit itu tertular langsung,” ujarnya saat ditemui di Gedung DPRD Makassar, Rabu (12/8/2026).
Ia menjelaskan, TBC merupakan penyakit yang dapat menular sehingga masyarakat yang belum mengetahui status kesehatannya perlu segera mendapatkan pemeriksaan.
Karena itu, menurutnya, upaya pemerintah untuk memperluas pemeriksaan TBC harus diarahkan pada penemuan kasus sedini mungkin. Dengan begitu, masyarakat yang terdiagnosis dapat segera mendapatkan pengobatan dan risiko penularan kepada orang lain dapat ditekan.
“Kalau saya untuk menyarankan langsung kepada Pemkot Makassar khususnya Dinas Kesehatan Kota Makassar, yang paling utama adalah puskesmas-puskesmas yang ada di seluruh Kota Makassar itu harus turun langsung ke masyarakat,” katanya.
Fahrizal menyebut posyandu dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk memperluas sosialisasi sekaligus pemeriksaan TBC di masyarakat. Selain posyandu, ia juga mendorong pemeriksaan dilakukan di sekolah-sekolah. Menurutnya, pemeriksaan langsung dapat membantu meningkatkan cakupan penemuan kasus.
“Kalau bisa siswa-siswi juga bisa dites langsung mengenai TB-nya, karena kalau saya tidak salah itu alat untuk pengecekan TB itu sudah hampir tersedia semua di setiap puskesmas,” katanya.
Menurut Fahrizal, pola tersebut sebenarnya sudah mulai dilakukan di sejumlah sekolah. Ia mengaku pernah mengetahui adanya sekolah yang didatangi Dinas Kesehatan melalui puskesmas untuk melakukan pemeriksaan.
Karena itu, ia meminta langkah tersebut diperluas agar setiap puskesmas memiliki gerakan pemeriksaan yang menjangkau seluruh wilayah kerjanya.
“Kalau bisa memang sarannya kepada Kadis Kesehatan untuk bisa memerintahkan setiap kepala puskesmasnya untuk mencanangkan ini, kalau bisa untuk mencakup semua wilayahnya seperti sekolah ataupun dinas-dinas yang ada di situ ataupun semua kantor-kantor yang ada di sekitar wilayah puskesmas tersebut,” tuturnya.
Fahrizal menekankan bahwa peningkatan capaian pemeriksaan tidak cukup hanya dengan mengandalkan program di fasilitas kesehatan. Sosialisasi dan pemeriksaan secara langsung dinilai perlu berjalan beriringan agar masyarakat memahami pentingnya mengetahui status TBC.
“Karena untuk mengurangi, untuk membuat hasil dari pengecekan TB ini bisa meningkat, yaitu pastinya harus melakukan sosialisasi dan pengecekan langsung,” katanya.
Fahrizal juga menilai penemuan kasus TBC menjadi semakin penting karena orang yang belum mengetahui dirinya terjangkit penyakit tersebut berpotensi tetap beraktivitas seperti biasa dan melakukan kontak dengan orang lain.
Ia menjelaskan, pasien TBC harus menjalani pengobatan sesuai ketentuan medis dan tidak boleh menghentikan pengobatan secara sembarangan. Ia menyebut pengobatan TBC berlangsung dalam beberapa tahap dan dapat membantu menekan risiko penularan setelah pasien menjalani terapi pada fase awal.
“Jadi, ada kan prosesnya itu, pengobatan TB itu ada enam bulan, Kak. Setelah satu bulan awal, itu penyakit tersebut tidak bisa lagi menular, kalau sudah diobati satu bulan awalnya,” katanya.
Di sisi lain, Fahrizal mengingatkan masyarakat agar mengenali sejumlah gejala yang dapat menjadi tanda seseorang terinfeksi TBC. Ia menyebut penurunan berat badan secara drastis, keringat berlebih pada malam hari, penurunan nafsu makan, serta batuk berdahak sebagai beberapa gejala yang perlu diperhatikan.
“Jadi, ciri-cirinya penyakit TB itu biasanya penurunan berat badan secara drastis, penurunan berat badan secara drastis, kemudian biasanya itu sering berkeringat pada malam hari,” katanya.
Menurutnya, keringat pada malam hari dapat muncul meskipun kondisi lingkungan sedang dingin. Selain itu, perubahan nafsu makan dan kebiasaan batuk berdahak, terutama pada pagi hari, juga perlu menjadi perhatian.
“kemudian penurunan nafsu makan, itu juga penurunan nafsu makan, terus biasanya sering mengeluarkan dahak pada pagi hari setelah bangun, batuk-dahak,” pungkasnya. (jir)

