Prof. Niam: Muktamar ke-35 NU Harus Jadi Ruang Adu Gagasan, Bukan Sekadar Kontestasi

Prof. Niam: Muktamar ke-35 NU Harus Jadi Ruang Adu Gagasan, Bukan Sekadar Kontestasi

JAKARTA, UPEKS — Ketua Umum Presidium Majelis Alumni Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (MA IPNU), Prof. Dr. KH. Asrorun Niam Sholeh, menegaskan bahwa Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama harus menjadi momentum mempertemukan gagasan dan merumuskan arah masa depan NU, bukan sekadar arena kontestasi figur untuk memperebutkan posisi Ketua Umum PBNU.

Hal tersebut disampaikan Prof. Niam dalam Silaturahmi Nasional MA IPNU di Jakarta, Jumat (7/8/2026), yang salah satu agendanya menghadirkan sejumlah tokoh yang masuk dalam bursa bakal calon Ketua Umum PBNU untuk berdiskusi bersama alumni IPNU.

Bacaan Lainnya

“Muktamar bukan sekadar soal kandidasi, tetapi harus menjadi ruang kontribusi pemikiran dan gagasan bagi NU di abad kedua. Kalau kita ingin melihat NU abad kedua gemilang, salah satu kuncinya adalah kesiapan kader-kader muda hari ini,” ujar Prof. Niam.

Menurutnya, proses menuju Muktamar harus mengedepankan adu gagasan, kapasitas, rekam jejak, dan komitmen para calon terhadap masa depan Nahdlatul Ulama.

“Yang harus kita lihat bukan hanya siapa orangnya, tetapi apa gagasannya, bagaimana kapasitas dan rekam jejaknya, serta apa yang akan dilakukan untuk membawa NU ke depan,” katanya.

Prof. Niam juga menekankan pentingnya regenerasi kepemimpinan dengan memberikan ruang kepada kader-kader potensial, khususnya alumni IPNU, untuk mengambil peran lebih besar dalam kepemimpinan NU.

“Regenerasi bukan sekadar pergantian figur, tetapi proses menyiapkan kader yang memiliki kapasitas keilmuan, integritas, pengalaman organisasi, dan kemampuan membaca tantangan zaman,” jelasnya.

Selain regenerasi kepemimpinan Tanfidziyah, Prof. Niam mendorong penguatan kepemimpinan Syuriyah melalui peningkatan tafaqquh fi al-din dan penguasaan khazanah kitab kuning.

“NU adalah jam’iyah ulama. Karena itu, modernisasi organisasi harus tetap memiliki akar yang kuat pada tradisi keilmuan dan pesantren. Adaptif terhadap perubahan tidak berarti tercerabut dari akar,” tegasnya.

Prof. Niam juga mendorong PBNU ke depan memperkuat kemandirian ekonomi melalui pengelolaan sumber daya manusia dan sumber daya alam secara amanah, profesional, transparan, dan berkeadilan.

Ia berharap Muktamar ke-35 berlangsung dalam suasana sejuk dan bermartabat.

“Perbedaan pilihan adalah hal yang biasa, tetapi jangan sampai merusak persaudaraan dan keutuhan jam’iyah. Kita ingin Muktamar menjadi ruang musyawarah yang sejuk, bermartabat, menggembirakan, dan menghasilkan kepemimpinan terbaik untuk NU,” pungkas Prof. Niam.(*)