Bedah Buku “Menembus Dimensi Esoterik Al Quran”, Prof Nasaruddin: Jangan Berhenti pada Iqra Kedua

Bedah Buku "Menembus Dimensi Esoterik Al Quran", Prof Nasaruddin: Jangan Berhenti pada Iqra Kedua

Makassar, Upeks.co.id– Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta, Prof Dr KH Nasaruddin Umar MA, mengatakan buku karya Anregurutta DR. H. Baharuddin, HS “Menembus Dimensi Esoterik Al Quran” sangat penting karena akan menembus batas spiritualis Alquran.

Hal itu diungkapkan saat memberikan testimoni pada kegiatan bedah buku dari Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Makassar, di Kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Samata,  Sabtu (30/7/2022).

Bacaan Lainnya

Menurut mantan Wakil Menteri Agama ini, ada hikmah mengapa malaikat Jibril As mengenalkan empat macam Iqra. Yakni Iqra pertama dimaknai ma ana biqari. Iqra kedua bermakna ma ana biqari. Ketiga Iqra bismi rabbik’ dan Iqra warobbukal akrom.

“Dikatakan hendaknya manusia tidak hanya berhenti pada Iqra yang kedua seperti selama ini dilakukan di Pondok (Pesantren, red). Tapi masuk ke Iqra yang ketiga dan keempat,” terangnya.

Sementara Ketua PWNU Sulsel Selatan Dr. KH. Hamzah Harun Al-Rasyid, Lc., MA. menyebutkan buku karya Anregurutta DR. H. Baharuddin, sangat membanggakan bagi NU Sulawesi Selatan karena tidak semua bisa melakukannya. 

Wakil Rektor UIN Prof Dr Darussalam, M.Ag dalam sambutannya, memuji buku tersebut dan patut dikembangkan warga NU, dirindukan dan dambakan kegiatannya.

Ketua PCNU Kota Makassar Dr KH Kaswad Sartono, menyebutkan, bedah buku menjadi kegiatan awal dalam menyemarakkan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1444 H. Kata dia, bedah buku adalah tradisi yang ada di NU melalui Lembaga Bahtsul Masail.

Penulis buku Anregurutta H. Baharuddin, dikutip dari bukunya menjelaskan, jika ditimbang dengan timbangan ilmu-ilmu modern maka  aspek esoterik Alquran seolah tidak mendapatkan tempat, termasuk di perguruan tinggi keislaman sekalipun.

“Terasa kering membaca karya-karya berkaitan Alquran yang hanya berkutat pada dimensi eksoterik (zahir) semata. Hal itu disebabkan manusia lebih banyak cenderung memperoleh informasi melalui guru atau dosen dalam wujud manusia,” ungkap Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Makassar ini.

Padahal, lanjutnya, Alquran adalah kitab suci dan kalamullah. Yang paling berhak mengajarkan adalah Pemilik kalam itu sendiri, Allah Swt. Selain itu, manusia seringkali menafsirkan epistemologi keilmuan melalui malaikat Jibril seperti ketika Nabi Muhammad Saw. Ketika mengajarkan Islam, Iman, dan Ihsan dan ketika menerima wahyu yang pertama kali. Atas Perintah Allah Swt., 

“Itu berarti berguru kepada selain manusia adalah cara yang diakui oleh Islam. Islam mengakui dua jenis ilmu dilihat dari segi cara, memperolehnya. Sebuah epitemologi yang hampir tidak ditemukan dalam sistem pendidikan saat ini, termasuk epistemologi keilmuan huduri dan ‘irfani,” tandasnya.

Selain pemateri Prof Dr Muhammad Ghalib, MA (Direktur Pasca Sarjana UIN Alauddin), Dr KH M Ruslan Wahab MA (Wakil Rektor IV UIM Makassar).

Sejumlah tokoh hadir dalam kegiatan tersebut seperti Rais Syuriah PWNU Sulsel Prof Dr Najamuddin Abd Safa MA, Ketua Baznas Kota Makassar, Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kota Makassar,Pengurus Cabang NU, Lembaga, Lajnah, Badan Otonom, Majelis Wakil Cabang NU Kecamatan, Ranting NU Kelurahan dan kader NU untuk meramaikan kegiatan yang dilaksanakan Lembaga Ta’lif Wan Nasr (LTN NU) Kota Makassar.(*)