MAKASSAR,UPEKS.co.id— Neraca perdagangan Provinsi Sulawesi Selatan hingga Desember 2025, tetap mencatatkan surplus meski kinerja ekspor menunjukkan perlambatan.
Data Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Sulawesi Bagian Selatan (Kanwil DJBC Sulbagsel) menunjukkan, sepanjang 2025 nilai ekspor dan impor masih menjaga tren positif, dengan neraca perdagangan yang konsisten berada di zona surplus sebesar USD 71,56 juta.
Kepala Kanwil DJBC Sulbagsel, Djaka Kusmartata, mengatakan kondisi tersebut ditopang oleh peningkatan ekspor sejumlah komoditas unggulan, khususnya produk kakao yang mencatatkan pertumbuhan signifikan sepanjang 2025.
“Sejak 2021, surplus perdagangan kita selalu positif. Terakhir hingga akhir Desember 2025, surplus perdagangan kita berada di angka USD 71, 56 juta. Ini artinya, kekuatan ekonomi Sulsel cukup optimis sehingga ini menjadi modal penting menghadapi tantangan 2026,” kata Djaka, kemarin.
Berdasarkan data, komoditas ekspor utama Sulsel hingga Desember 2025 masih didominasi oleh mate nikel dengan nilai mencapai USD 888,6 juta, atau sekitar 44,7% dari total devisa ekspor. Komoditas ini turun 13,8% secara tahunan. Lalu Fero-nikel menyusul dengan nilai 265,3 juta dolar AS atau 13,4%. Angka ini terkontraksi 40,9% secara tahunan.
Adapun produk kakao mencatatkan kinerja paling menonjol dengan nilai ekspor 151,4 juta dolar AS atau 7,7% dari total ekspor. Tumbuh tajam hingga 108,4% secara tahunan.
Selain itu, rumput laut dan karaginan masing-masing menyumbang 138,4 juta dolar AS dan 71,6 juta dolar AS terhadap devisa ekspor Sulsel.
Dari sisi negara tujuan ekspor, Jepang masih menjadi pasar utama dengan nilai mencapai 947,62 juta dolar AS, diikuti China sebesar 660,64 juta dolar AS, Amerika Serikat 52,87 juta dolar AS, Taiwan 42,29 juta dolar AS, dan Vietnam 28,68 juta dolar AS.
Sementara itu, nilai impor Sulsel hingga akhir 2025 didominasi oleh komoditas gandum yang mencapai 186,9 juta dolar AS atau 17,5% dari total impor, meski turun 19% secara tahunan.
Gula tercatat sebesar 141,6 juta dolar AS, diikuti bungkil dan residu padat dari kedelai sebesar 127,3 juta dolar AS. Impor minyak petroleum mencapai 85,2 juta dolar AS dengan pertumbuhan 83%, sedangkan aksesoris dan suku cadang perangkat telepon seluler melonjak hingga 908% dengan nilai 78,2 juta dolar AS.
China menjadi negara asal impor terbesar Sulsel dengan nilai 262,07 juta dolar AS, disusul Brasil 199,59 juta dolar AS, Australia 139,82 juta dolar AS, Singapura 85,42 juta dolar AS, dan Malaysia 63,64 juta dolar AS.
Djaka menambahkan, secara kumulatif, nilai devisa ekspor Sulsel pada 2025 tercatat sebesar 1,98 miliar dolar AS, angka tersebut mengalami kontraksi 2,8% jika dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara devisa impor tercatat sebesar 1,04 miliar dolar AS, turun 11,8% secara tahunan.(eky)



