Makassar,Upeks.co.id– Tim Riset Bestari Saintek Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene Kepulauan (Polipangkep) memperkenalkan Cocodye, inovasi pewarna alami berbahan limbah sabut kelapa, pada pameran Hari Ulang Tahun (HUT) ke-46 Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) 2026 di Trans Studio Mall (TSM) Makassar, tanggal 8-12 Juli 2026.
Selain mengembangkan Cocodye, tim riset juga menghasilkan Cocopeat Blok sebagai produk bernilai ekonomi dari limbah kelapa. Cocodye merupakan pewarna alami untuk batik dan tekstil yang dihasilkan melalui ekstraksi serat sabut kelapa.
Dalam pameran tersebut, Tim Bestari Saintek Polipangkep menampilkan berbagai produk berbahan pewarna alami, mulai dari kain, outfit, tunik, blazer, tas hingga syal yang menarik perhatian ribuan pengunjung.
Ketua Tim Riset Bestari Saintek Polipangkep, Dr. Zulfitriany D. Mustaka, SP., MP, mengatakan antusiasme masyarakat terhadap produk Cocodye sangat tinggi. Bahkan, dalam dua hari pertama pameran, stok sejumlah produk fesyen seperti outfit, tunik, dan blazer hampir habis terjual.
“Animo masyarakat sangat luar biasa. Setelah pembukaan pameran oleh Ketua Dekranas, Ibu Selvi Gibran, stan kami langsung diserbu pengunjung, termasuk Ibu Seruni dan Ibu Gubernur Sulawesi Selatan. Mereka tidak hanya berbelanja, tetapi juga antusias mempelajari pemanfaatan warna hasil ekstraksi sabut kelapa,” ujar Dr. Zulfitriany yang juga Pengurus Dekranasda Provinsi Sulsel, Bidang Wirausaha Baru, Senin (13/7/2026).
Pameran HUT Dekranas 2026 mengusung tema “Berkarya untuk Bangsa, Berdaya untuk Negeri” dan menghadirkan berbagai produk unggulan UMKM binaan Dekranasda dari seluruh Indonesia. Momentum tersebut dimanfaatkan Tim Bestari Saintek Polipangkep untuk memperkenalkan inovasi hilirisasi hasil riset kampus kepada masyarakat luas.
Ketua Dekranasda Sulsel, Naoemi Octarina, yang meninjau stan Cocodye memberikan apresiasi terhadap inovasi tersebut. Ia juga membeli sejumlah produk dan berharap lahir komunitas pewarna alami di Sulsel yang mampu memperkuat industri wastra ramah lingkungan.
Perhatian juga datang dari istri Menteri Koperasi yang menyempatkan diri berdiskusi dan mendokumentasikan produk Cocodye. Menurutnya, inovasi tersebut menjadi contoh nyata hilirisasi riset perguruan tinggi karena mampu mengubah limbah sabut kelapa menjadi produk bernilai ekonomi yang ramah lingkungan dan diminati pasar.
Selain mengembangkan Cocodye, Tim Bestari Saintek Polipangkep juga menargetkan pengembangan Cocopeat Blok sebagai produk turunan limbah kelapa yang memiliki nilai tambah. Selama pameran, tim membuka layanan pre-order, menjalin komunikasi bisnis dengan pengrajin dari 37 provinsi, serta menargetkan ekspansi ke pasar global melalui penerapan standar eco-labelling.
“Kami berharap Cocodye semakin dikenal luas dan siap memasok kebutuhan serta mendampingi UMKM yang ingin beralih menggunakan pewarna alami,” harap Zulfitriany.(*)

