KGSB dan Psikologi UB Dorong Pendidikan Berbasis Soft Skills untuk Generasi Adaptif

KGSB dan Psikologi UB Dorong Pendidikan Berbasis Soft Skills untuk Generasi Adaptif

Jakarta, Upeks– Perubahan dunia kerja yang berlangsung semakin cepat membawa tantangan baru bagi dunia pendidikan. Generasi muda tidak cukup hanya dibekali kemampuan akademik, tetapi juga perlu memiliki kemampuan beradaptasi, berkomunikasi, berkolaborasi, serta menyelesaikan persoalan secara kreatif.

Menjawab kebutuhan tersebut, Komunitas Guru Sekolah Belajar (KGSB) berkolaborasi dengan Departemen Psikologi FISIP Universitas Brawijaya menghadirkan webinar bertajuk “Mempersiapkan Generasi Adaptif di Dunia Kerja” pada Sabtu (20/6/2026).

Bacaan Lainnya

Kegiatan ini menjadi bagian dari kerja sama berkelanjutan antara KGSB dan Departemen Psikologi FISIP Universitas Brawijaya yang telah terjalin sejak 2023. Webinar diikuti ratusan peserta dari berbagai daerah di Indonesia yang terdiri atas guru, tenaga kependidikan, orang tua, siswa, serta masyarakat umum.

Menghadirkan Dr. Ika Widyarini, MLHR., Psikolog, dosen Departemen Psikologi FISIP Universitas Brawijaya sebagai narasumber, webinar ini mengangkat pentingnya membangun generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kesiapan menghadapi perubahan dunia kerja masa depan.

Pendidikan Masa Kini Tidak Cukup Hanya Mengejar Prestasi Akademik

Dalam sambutannya, Koordinator Program dan Pelatihan KGSB, Riki M. Iskandar, menyampaikan bahwa perkembangan zaman menuntut adanya perubahan cara pandang dalam proses pendidikan.

Menurutnya, sekolah memiliki peran penting dalam membangun fondasi pengetahuan, namun pendidikan juga perlu memberi ruang bagi pengembangan karakter dan keterampilan nonteknis yang akan menjadi bekal anak menghadapi masa depan.

“Perubahan yang terjadi begitu cepat menuntut generasi muda tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga berbagai keterampilan nonteknis atau soft skills yang menjadi fondasi penting dalam kehidupan dan dunia kerja, khususnya di era Society 5.0. Kemampuan berkomunikasi, berkolaborasi, berpikir kreatif, mengelola diri, hingga menghadapi ketidakpastian merupakan keterampilan yang perlu dibangun sejak dini melalui proses pendampingan yang tepat,” ujar Riki.

Ia menambahkan bahwa melalui kolaborasi antara komunitas pendidikan dan perguruan tinggi, diharapkan lahir ruang belajar yang mampu menjawab tantangan nyata para pendidik di lapangan.

“Melalui webinar ini, kami berharap kegiatan ini dapat memberikan wawasan dan perspektif baru bagi para peserta, baik pelajar, guru, orang tua, maupun masyarakat umum, mengenai pentingnya penguatan soft skills dan peran mentoring dalam mempersiapkan generasi yang adaptif dan siap menghadapi masa depan,” katanya.

Soft Skills adalah Jembatan Menuju Dunia Profesional

Dalam sesi utama, Dr. Ika Widyarini menjelaskan bahwa perubahan dunia kerja membuat ukuran keberhasilan generasi muda tidak lagi hanya dilihat dari capaian akademik.

Menurutnya, banyak kemampuan teknis yang dapat terus dipelajari sesuai perkembangan zaman. Namun, kemampuan menghadapi perubahan, membangun relasi, bekerja sama, dan mengambil keputusan membutuhkan proses pembentukan sejak dini.

“Ketika berbicara tentang masa depan anak, sebagian besar orang tua masih fokus pada satu pertanyaan yakni, bagaimana agar anak berprestasi secara akademik? Padahal dunia kerja hari ini berubah jauh lebih cepat dibandingkan sebelumnya,” jelas Dr. Ika.

Ia kemudian mengajak orang tua dan pendidik untuk mengubah sudut pandang. “Pertanyaan yang lebih relevan saat ini bukan hanya ‘Apakah anak saya pintar?’, tetapi ‘Apakah anak saya siap menghadapi perubahan?’ Karena kemampuan teknis dapat dipelajari kapan saja, tetapi kemampuan beradaptasi, bekerja sama, berkomunikasi, dan menghadapi ketidakpastian membutuhkan proses pembentukan yang panjang,” lanjutnya.

Dr. Ika menjelaskan bahwa sekolah dan perguruan tinggi memberikan bekal pengetahuan serta kompetensi akademik. Namun, terdapat kemampuan penting yang menjadi jembatan antara dunia pendidikan dan dunia kerja, yaitu soft skills.

Kemampuan seperti komunikasi, kerja sama tim, kepemimpinan, manajemen diri, hingga kemampuan memecahkan masalah menjadi faktor yang semakin menentukan keberhasilan seseorang dalam lingkungan profesional.

“Dunia kerja tidak hanya membutuhkan orang yang pintar. Dunia kerja membutuhkan orang yang mampu mengelola dirinya, bekerja dengan orang lain, dan menemukan solusi ketika menghadapi situasi yang tidak selalu memiliki jawaban pasti,” ujar Dr. Ika.

Menurutnya, kemampuan tersebut tidak terbentuk secara instan, melainkan melalui pengalaman sehari-hari, interaksi sosial, serta pola pendampingan yang tepat.

Salah satu pendekatan yang dibahas dalam webinar adalah pentingnya pola mentoring dalam mendampingi anak.

Dr. Ika menjelaskan bahwa pola pendampingan tradisional sering kali membuat orang tua atau pendidik langsung memberikan solusi ketika anak menghadapi masalah. Padahal, dalam menghadapi dunia yang semakin kompleks, anak perlu dilatih untuk berpikir dan mengambil keputusan.

“Seorang mentor tidak selalu memberi jawaban. Mentor membantu anak berpikir. Mentor menciptakan ruang aman untuk mencoba, gagal, memperbaiki diri, dan bertumbuh. Tujuannya bukan menciptakan anak yang selalu benar, tetapi anak yang mampu belajar dari kesalahan,” paparnya.

Melalui pendekatan mentoring, anak didorong untuk memahami proses, bukan hanya mengejar hasil akhir.

Empat Pilar Membangun Generasi Adaptif

Dalam paparannya, Dr. Ika menjelaskan terdapat empat pilar utama yang perlu dikembangkan untuk membangun generasi siap menghadapi masa depan.

Pertama, komunikasi dan kemampuan interpersonal. Anak perlu belajar menyampaikan pendapat, mendengarkan orang lain, memahami perbedaan karakter, serta membangun empati. Kemampuan komunikasi menjadi salah satu fondasi penting karena hampir seluruh profesi membutuhkan interaksi dengan manusia.

Kedua, kerja sama tim dan kepemimpinan. Dunia kerja modern membutuhkan individu yang mampu berkolaborasi, berbagi peran, menyelesaikan konflik, serta bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambil.

Ketiga, manajemen diri dan etos kerja. Anak perlu memahami pentingnya mengatur waktu, menentukan prioritas, mengelola tanggung jawab, serta memiliki kegigihan ketika menghadapi tantangan.

Menurut Dr. Ika, fase sulit dalam belajar merupakan bagian penting dalam membangun ketahanan mental. “Orang yang berhasil bukan mereka yang tidak pernah gagal. Melainkan mereka yang mampu bangkit setelah gagal,” ujarnya.

Keempat, pola pikir kewirausahaan (entrepreneurial mindset). Kemampuan ini bukan hanya berkaitan dengan membangun bisnis, tetapi juga kemampuan melihat peluang, menciptakan solusi, berinovasi, dan berani mengambil risiko yang terukur. “Dunia masa depan membutuhkan individu yang tidak hanya menunggu instruksi, tetapi mampu menemukan jalan ketika petunjuk belum tersedia,” ungkap Dr. Ika.

Menyiapkan Generasi yang Terus Belajar Menghadapi Masa Depan

Melalui webinar ini, KGSB dan Departemen Psikologi FISIP Universitas Brawijaya berharap kolaborasi antara dunia akademik dan komunitas pendidikan dapat terus berkembang dalam menghadirkan program-program yang relevan dengan kebutuhan generasi masa depan.

Pesan utama yang disampaikan dalam kegiatan ini adalah bahwa masa depan anak tidak hanya dibentuk oleh apa yang dipelajari di sekolah, tetapi juga oleh pengalaman, percakapan, serta pendampingan yang mereka terima dalam keseharian.

Menjadi mentor bukan berarti menjadi orang tua atau pendidik yang sempurna, tetapi hadir untuk mendampingi, mendengarkan, mengajukan pertanyaan, serta memberi ruang bagi anak untuk tumbuh.

“Jadilah mentor hari ini, untuk melahirkan pemimpin masa depan esok hari,” menjadi pesan penutup webinar yang mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama mempersiapkan generasi yang tangguh, adaptif, dan siap menghadapi perubahan zaman.

-Selesai-