MAKASSAR, UPEKS.co.id – Rektor
Universitas Muslim Indonesia (UMI), Prof Hambali Talib menyampaikan pesan penting kepada wisudawan wisudawati saat menutup rangkaian Wisuda Periode I Tahun 2026 hari ketiga, pada Sabtu (18/42026) di Hotel Claro, Makassar.
Diketahui, pada hari ketiga wisuda, UMI melepas 1.081 lulusan yang didominasi profesi-profesi strategis, yakni Fakultas Agama Islam 130 orang, Fakultas Teknologi Industri 147 orang, Program Profesi Insinyur 115 orang dan Fakultas Kedokteran 312 orang.
Kemudian, Program Profesi Dokter 172 orang, Fakultas Farmasi 106 orang, serta Program Profesi Apoteker 99 orang. Selama tiga hari pelaksanaan wisuda, UMI secara keseluruhan telah melepas 3.024 wisudawan dan wisudawati.
Dalam pidatonya, Rektor UMI menegaskan bahwa hari wisuda bukan sekadar hari kelulusan, melainkan hari penyerahan masa depan bangsa kepada para lulusan yang akan mengabdi di tengah masyarakat.
Menurut Rektor, angka tersebut bukan sekadar statistik, tetapi representasi dari penjaga kehidupan, pembangun peradaban, dan pelayan kemanusiaan yang akan berkiprah di berbagai bidang strategis.
Rektor juga mengingatkan bahwa di balik toga dan gelar, ada perjuangan panjang yang telah dilalui para lulusan. Ada yang harus berjaga malam, menghadapi kegagalan praktik, kelelahan menyelesaikan skripsi atau tugas akhir, hingga hampir menyerah karena beratnya perjalanan studi.
Namun semua perjuangan itu, menurutnya, menjadi bukti bahwa para lulusan UMI adalah petarung sejati yang telah memilih untuk bertahan.
Karena itu, ia menekankan dua hal penting kepada para wisudawan. Yakni profesi bukan sekadar pekerjaan, tetapi kepercayaan yang dipinjamkan Allah kepada manusia, dan gelar hanya akan bermakna bila dijalankan dengan integritas.
Secara khusus, Rektor menyampaikan pesan kepada setiap rumpun profesi. Kepada Fakultas Kedokteran dan Profesi Dokter, ia menegaskan bahwa masyarakat tidak hanya membutuhkan dokter yang mampu membaca hasil laboratorium, tetapi juga dokter yang mampu membaca rasa takut pasien.
Kepada Program Profesi Insinyur dan Fakultas Teknologi Industri, ia menekankan bahwa bangsa membutuhkan pembangun yang jujur, bukan sekadar perancang sistem.
Sementara itu, kepada Fakultas Farmasi dan Profesi Apoteker, ia menekankan pentingnya integritas dalam menjaga keselamatan obat dan layanan kesehatan.
Adapun kepada Fakultas Agama Islam, ia mengingatkan bahwa para lulusan adalah penjaga nurani masyarakat yang harus memastikan ilmu agama hidup dalam perilaku, bukan sekadar dibaca dalam teks.
Dalam pidatonya, Rektor juga menyinggung tantangan masa depan yang ditandai perubahan teknologi sangat cepat, hadirnya kecerdasan buatan, dan persaingan global yang semakin ketat.
Namun ia menegaskan bahwa teknologi mungkin dapat menggantikan sebagian keterampilan manusia, tetapi tidak akan pernah mampu menggantikan hati nurani.
Pesan ini menjadi penegasan bahwa keunggulan lulusan tidak hanya terletak pada kecakapan akademik, tetapi juga pada kualitas moral dan kemanusiaannya.
Pada kesempatan tersebut, Rektor turut memaparkan penguatan mutu kelembagaan UMI. Saat ini UMI memiliki 67 program studi pada jenjang Diploma Tiga, Sarjana, Profesi, Spesialis, Magister, dan Doktor.
Dari jumlah itu, 50 persen telah terakreditasi Unggul dan A, 48 persen terakreditasi Baik Sekali, B, dan Baik, sedangkan sekitar 2 persen merupakan program studi baru dengan akreditasi sementara.
Hingga saat ini, jumlah alumni UMI telah mencapai 142.995 orang, dan kampus ini juga memiliki 117 Guru Besar, yang disebut sebagai jumlah terbanyak pada perguruan tinggi swasta di Indonesia.
Disebutkan Rektor, capaian akademik UMI juga diperkuat dengan raihan 85 judul hibah nasional Program Bantuan Insentif Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Tahun 2026 dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
“Capaian itu menempatkan UMI sebagai satu-satunya perguruan tinggi swasta di luar Pulau Jawa yang masuk 10 besar peneliti terbanyak nasional,” ucap Rektor.
Bagi Rektor, prestasi tersebut menegaskan bahwa UMI bukan hanya mengajar, tetapi sedang membangun peradaban ilmu dan menyiapkan pemimpin masa depan Indonesia.
Tidak hanya itu, UMI juga terus memperkuat posisinya sebagai kampus yang berjejaring global. Saat ini mahasiswa dari Palestina, Aljazair, Yaman, Irak, Mesir, Timor Leste, dan berbagai negara lain belajar bersama di kampus tersebut. Bahkan hingga saat ini terdapat 35 calon mahasiswa internasional yang mendaftar ke UMI.
Khusus pada bidang profesi dan kesehatan, Fakultas Kedokteran juga tengah merampungkan dokumen pembukaan Program Magister Biomedik, Program Spesialis Anastesiologi dan Terapi Intensif, Program Spesialis Radiologi, Program Spesialis Bedah, serta Program Spesialis Mata.
“Langkah ini menunjukkan bahwa UMI tidak hanya meluluskan profesi strategis hari ini, tetapi juga sedang menyiapkan ruang pengabdian yang lebih luas untuk masa depan,” bebernya.
Menutup pidatonya, Rektor menyampaikan terima kasih kepada para orang tua atas kepercayaan kepada UMI dalam mendidik putra-putri mereka. Ia juga mengingatkan para lulusan agar tidak hanya mengejar kesuksesan pribadi, tetapi menjadikan ilmu sebagai jalan untuk memberi manfaat sebesar-besarnya bagi umat manusia.
“UMI tidak ingin kalian hanya sukses, tetapi ingin kalian bermakna dan bermanfaat untuk sebanyak-banyaknya umat manusia,” demikian penegasan Rektor UMI yang menjadi inti pesan wisuda hari ketiga tersebut.
Sementara itu, Ketua Pengurus Yayasan Wakaf UMI, Prof. Dr. Hj. Masrurah Mokhtar, menegaskan komitmen Yayasan dalam memperkuat pembangunan fisik, layanan, dan transformasi digital kampus.
Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa UMI dibangun di atas nilai wakaf, keikhlasan, dan pengabdian, sehingga lulusan yang dilepas tidak hanya membawa gelar, tetapi juga amanah untuk hadir dan bermanfaat di tengah masyarakat.
Pada kesempatan itu, Yayasan juga memaparkan dukungan dari berbagai mitra strategis, di antaranya penyerahan dua unit ambulans Toyota Hiace dari Bank Muamalat Indonesia untuk penguatan layanan kesehatan RS Ibnu Sina dan dana kebajikan Rp152 juta dari CIMB Niaga Syariah.
Kemudian, bantuan program dan kendaraan dari Bank Mega Syariah, serta dukungan operasional, beasiswa, sarana umrah, dan tenda kegiatan dari Bank Syariah Nasional. Bank Sulselbar Syariah juga menyerahkan satu unit motor Viar kepada Yayasan Wakaf UMI.
Selain itu, Yayasan Wakaf UMI menyebut sejumlah pembangunan yang telah selesai, seperti Gedung Perkuliahan UMI di Kabupaten Bantaeng dan Gedung Olahraga Mahasiswa berkapasitas 3.000 orang.
“Sementara itu, beberapa proyek lain masih dalam tahap penyelesaian, termasuk gedung tujuh lantai Fakultas Kedokteran Gigi, penataan lingkungan Rumah Sakit Ibnu Sina, dan lingkungan Kampus II Jalan Urip Sumoharjo,” jelasnya.
Prof Masrurah juga menerangkan bahwa arah besar pengembangan UMI ke depan melalui percepatan transformasi digital kampus. Ditargetkan paling lambat akhir 2027 atau awal 2028, UMI menjadi kampus digital yang adaptif, terintegrasi, dan berkelas dunia.
“Sebagai langkah konkret, UMI telah menjalin kesepahaman strategis dengan PT Ruijie Networks dari Tiongkok untuk penguatan infrastruktur jaringan kampus, peningkatan kapasitas digital LMS, integrasi sistem akademik berbasis teknologi, dan dukungan pembelajaran modern berbasis AI,” terangnya.
Menutup sambutannya, Ketua Pengurus Yayasan Wakaf UMI berpesan kepada para wisudawan agar tidak memisahkan ilmu dari akhlak. Ia juga menegaskan bahwa yang membesarkan UMI bukan hanya gedungnya, tetapi keikhlasan orang-orang di dalamnya.
“Ilmu tanpa akhlak akan kehilangan cahaya, sedangkan akhlak tanpa ilmu akan kehilangan arah dan yang membesarkan UMI bukan hanya gedungnya, tetapi keikhlasan orang-orang di dalamnya,” tutupnya.(Jay)




