Zikir, Doa dan Silaturahim UMI, Rektor Paparkan Arah Pengembangan Kampus Digital hingga 2050

Zikir, Doa dan Silaturahim UMI, Rektor Paparkan Arah Pengembangan Kampus Digital hingga 2050

MAKASSAR, UPEKS.co.id – Universitas Muslim Indonesia (UMI) menggelar zikir, doa, dan silaturahmi bersama seluruh civitas akademika di Gelanggang Olahraga (GOR) UMI, Jumat (5/6/2026).

Dalam kesempatan itu, Rektor UMI, Prof. Hambali Thalib, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut bukan sekadar agenda rutin bulanan, melainkan momentum refleksi untuk mensyukuri perjalanan yang telah dilalui, mengevaluasi kondisi saat ini, dan menatap masa depan dengan optimisme.

Bacaan Lainnya

“Hari ini bukan sekadar agenda rutin bulanan. Hari ini adalah momentum refleksi. Momentum untuk melihat ke belakang dengan rasa syukur, melihat ke dalam dengan kejujuran, dan melihat ke depan dengan penuh harapan,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, saat menerima amanah sebagai Pelaksana Tugas Rektor pada 28 September 2024 dan kemudian ditetapkan sebagai Rektor pada 27 Desember 2024, dirinya menyadari bahwa tanggung jawab tersebut tidaklah ringan.

Menurutnya, tantangan yang dihadapi saat itu bukan hanya menjaga administrasi universitas, tetapi juga menjaga kepercayaan masyarakat, ketenangan sivitas akademika, serta nama baik UMI yang telah dibangun para pendiri dan pendahulu selama lebih dari tujuh dekade.

Dalam menghadapi berbagai dinamika yang berkembang, Prof. Hambali menekankan bahwa tidak semua persoalan harus dijawab dengan kata-kata.

“Ada yang harus dijawab dengan kerja keras, ada yang diselesaikan dengan kesabaran, ada yang ditunjukkan melalui keteladanan, dan ada pula yang hanya bisa diserahkan dalam doa,” katanya.

Ia menjelaskan, prioritas awal kepemimpinannya adalah memastikan aktivitas akademik tetap berjalan normal, dosen tetap mengajar, mahasiswa tetap belajar, dan kepercayaan masyarakat terhadap UMI tetap terjaga.

Setelah itu, UMI memasuki fase konsolidasi dengan menyatukan seluruh energi kelembagaan, mulai dari yayasan, senat akademik, pimpinan universitas, fakultas, lembaga, tenaga kependidikan, mahasiswa, hingga alumni.

“Universitas sebesar UMI tidak mungkin dibangun oleh satu orang. UMI hanya bisa maju apabila seluruh keluarga besarnya bergerak ke arah yang sama,” tegasnya.

Selain memperkuat tata kelola kelembagaan, UMI juga terus melakukan upaya pemulihan dan penguatan kepercayaan publik melalui transparansi informasi, penguatan komunikasi kelembagaan, hubungan alumni, kemitraan nasional dan internasional, serta peningkatan partisipasi dalam berbagai forum strategis nasional.

Di bidang tata kelola, UMI telah melakukan berbagai pembenahan. Antara lain penyelarasan Statuta UMI 2024, penyusunan Rencana Strategis (Renstra) dan Rencana Operasional (Renop) 2025–2029, penerapan Rencana Anggaran Tahunan (RAT) berbasis Indikator Kinerja Utama (IKU) dan akreditasi.

Kemudian, penataan sistem pengendalian keuangan, pengelolaan aset universitas bersama yayasan, serta penerapan kebijakan larangan gratifikasi.

“Universitas besar tidak boleh dibangun berdasarkan kebiasaan. Universitas besar harus dibangun berdasarkan sistem,” ujarnya.

Salah satu agenda besar yang sedang dijalankan UMI adalah transformasi digital melalui Master Plan Digital UMI 2025–2029. Program tersebut dikembangkan bersama mitra global dari Tiongkok melalui pembangunan ekosistem digital bertajuk “UMI Connection”.

Sistem tersebut dirancang untuk mengintegrasikan berbagai layanan kampus, mulai dari akademik, keuangan, sumber daya manusia, penelitian, kemahasiswaan, infrastruktur, dashboard pimpinan, kecerdasan buatan (AI), hingga konsep smart campus.

“Kampus masa depan tidak boleh hanya sibuk membangun gedung. Tetapi harus mulai membangun sistem, membangun peradaban,” katanya.

Prof. Hambali juga mengungkapkan sejumlah capaian positif yang berhasil diraih UMI. Diantaranya peningkatan publikasi ilmiah, penguatan skor SINTA, bertambahnya jurnal yang terindeks GARUDA, meningkatnya pendanaan penelitian, serta tren positif pada berbagai pemeringkatan internasional seperti Webometrics, EduRank, dan UniRank.

Selain itu, prestasi mahasiswa terus meningkat dan jejaring kerja sama internasional semakin luas.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa tantangan yang lebih besar justru berada di depan, terutama menghadapi perkembangan kecerdasan buatan yang akan mengubah cara belajar, mengajar, bekerja, hingga model bisnis perguruan tinggi.

Ia juga menyoroti semakin ketatnya persaingan dalam memperoleh mahasiswa baru. Di mana perguruan tinggi kini tidak hanya bersaing secara lokal maupun nasional, tetapi juga dengan institusi global yang mampu menjangkau mahasiswa melalui platform digital.

“Karena itu, UMI harus mulai mempersiapkan diri untuk jangka panjang hingga puluhan tahun ke depan.UMI harus mulai berpikir 10 tahun ke depan, 20 tahun ke depan, bahkan 50 tahun ke depan,” bebernya.

“Karena gedung yang kita bangun hari ini akan digunakan oleh generasi yang mungkin belum lahir saat ini. Karena keputusan yang kita ambil hari ini akan menentukan nasib anak-anak UMI di masa depan,” sambungnya.

Menurutnya, arah pengembangan UMI ke depan akan berfokus pada enam pilar utama, yakni kampus digital, kampus berbasis data, kampus berbasis kecerdasan buatan, kampus berbasis penjaminan mutu, kampus berbasis keberlanjutan, serta kampus berbasis kemanusiaan.

Meski terus bertransformasi, Prof. Hambali menegaskan bahwa UMI tidak boleh kehilangan jati dirinya sebagai lembaga pendidikan dan dakwah yang berlandaskan nilai keislaman, keilmuan, perjuangan, dan pengabdian.

Dalam rangka Milad ke-72 UMI, berbagai kegiatan telah disiapkan, termasuk penyelenggaraan konferensi internasional yang menghadirkan akademisi dan ilmuwan dari berbagai negara serta rencana penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

“Ini bukan sekadar seremoni. Ini adalah simbol bahwa UMI sedang menyiapkan dirinya memasuki panggung yang lebih luas, bukan untuk menjadi besar sendirian, tetapi untuk memberi manfaat yang lebih besar bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Yayasan Wakaf UMI, Prof Masrurah Mokhtar, berharap UMI bisa lebih maju. Apalagi UMI Milad ke-72 yang akan datang semuanya bisa saja berubah, perekonomian dan tradisi.

“Zikir dan doa kita lakukan sebagai bentuk komitmen dalam memegang prinsip-prinsip islam. Zikir yang kita lakukan untuk mengintropeksi diri bagaimana kita, apakah betul-betul niat kita tulus, bukan sekedar mencari sesuap hidup di sini,” ucapnya.

Prof Masrurah pun mengajak menjaga persatuan, bagaimana UMI dalam menghadapi situasi yang serba canggih ini agar tetap dijamah oleh nilai-nilai Islam.

Sementara itu, Ketua Pembina Yayasan Wakaf UMI, Prof Dr Mansyur Ramly mengatakan, dalam pendekatan IT harus tepat, tidak terlalu cepat dan tidak lambat. Apalagi era sekarang kecepatan waktu mencapai 1/120 detik.

“Alhamdulillah berdoa semua, tapi tolong jangan lupakan para pendiri UMI, tadi menyebut para pendahulu kita, baguslah. Tapi lebih khusus mari kita doakan para pendiri UMI, kita tidak ada di sini tanpa mereka. Kita tidak ada sekarang tanpa pendahulu kita. Tapi kita ada sekarang sebagai bentuk masa depan UMI,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, pihak kampus juga memberikan penghargaan kepada mahasiswa dan mahasiswi yang berprestasi. Selain itu, dilakukan pemutaran film pendek yang diketahui produsernya adalah Prof Zakir Sabara selaku Wakil Rektor 2 UMI.(Jay)

Pos terkait