MAKASSAR, Upeks.co.id – Pengusaha nasional yang juga Pendiri Bosowa Corporindo, HM Aksa Mahmud, resmi menjadi pemegang saham terbesar di PT Fajar Indonesia Corporindo setelah mengakuisisi saham milik Jawa Pos dan Dorothea Samola.
Kepemilikan saham Aksa Mahmud di perusahaan yang menjadi holding seluruh unit usaha Fajar Group kini mencapai 49,88 persen.
PT Fajar Indonesia Corporindo membawahi berbagai lini bisnis, mulai dari media cetak, media siber, media elektronik, properti, klinik, transportasi, universitas, hingga sejumlah bidang usaha lainnya.
Direktur Utama PT Fajar Indonesia Corporindo, Suhendro Boroma, menjelaskan perubahan komposisi kepemilikan saham tersebut dalam konferensi pers di Gedung Graha Pena, Jalan Urip Sumoharjo, Makassar, Kamis (23/7/2026). Kegiatan itu turut dihadiri HM Aksa Mahmud, Andi Syafiuddin Makka, Syamsul Nur, sejumlah direksi lingkup Fajar Grup, serta Rektor Universitas Bosowa Prof. Batara Surya.
Ia menjelaskan, transaksi pembelian saham dilakukan atas nama pribadi Aksa Mahmud, bukan melalui Bosowa Corporindo. Menurutnya, keputusan tersebut lebih didorong oleh pertimbangan historis dan kedekatan emosional dengan para pendiri Fajar Group dibanding kepentingan investasi.
“Pembelian saham Jawa Pos dan Ibu Dorothea oleh Pak Aksa dilakukan atas nama pribadi. Pertimbangannya lebih kepada sejarah, hubungan emosional, serta kedekatan beliau dengan almarhum Bapak Alwi Hamu sebagai sesama perintis Fajar. Jadi bukan karena agenda bisnis tertentu,” ungkapnya.
Saat ini, lanjut Suhendro, posisi Aksa Mahmud kini menjadi pemegang saham terbesar di perusahaan tersebut. Persentase tersebut berasal dari pembelian 40,5 persen saham milik Jawa Pos dan 5,6 persen saham Dorothea Samola. Sementara itu, kelompok ahli waris Chairman Fajar Group almarhum HM Alwi Hamu tercatat masih menguasai sekitar 32 persen saham. Sejumlah saham lainnya dimiliki oleh M. Jusuf Kalla, Syamsul Nur, Andi Syafiuddin Makka, Zulkifli Gani Otto, serta Fajar Perintis.
Meski demikian, Suhendro menegaskan pihaknya tidak dapat membeberkan rincian kepemilikan masing-masing pemegang saham karena PT Fajar Indonesia Corporindo masih berstatus sebagai perusahaan tertutup.
Ia juga memastikan bahwa transaksi pembelian saham dilakukan langsung atas nama pribadi HM Aksa Mahmud, bukan melalui Bosowa Corporindo.
Lebih lanjut, Suhendro mengungkapkan keputusan Aksa Mahmud membeli saham tersebut bukan semata-mata pertimbangan bisnis, melainkan didorong oleh ikatan sejarah yang kuat. Menurutnya, Fajar Group lahir dari kebersamaan tiga tokoh pendiri, yakni HM Aksa Mahmud, M. Jusuf Kalla, dan almarhum HM Alwi Hamu, yang telah lama menjalin persahabatan dan merintis berbagai usaha bersama.
Sementara itu, HM Aksa Mahmud mengakui pembelian saham PT Fajar Indonesia Corporindo sebenarnya tidak termasuk dalam agenda investasi Bosowa pada 2026.
Namun, ia merasa perlu mengambil langkah tersebut setelah mendapat informasi mengenai pelepasan saham oleh Jawa Pos.
Aksa mengungkapkan, sebelum memutuskan membeli saham tersebut, dirinya sempat menawarkan kesempatan itu kepada Komisaris Utama Fajar Group Agus Salim, putra almarhum HM Alwi Hamu. Namun karena tidak dapat direalisasikan, ia akhirnya mengambil alih saham yang ditawarkan.
Keputusan tersebut, kata Aksa, dilakukan untuk menjaga kesinambungan sejarah berdirinya Fajar Group yang dirintis bersama dua sahabatnya.
“Supaya tetap kita pertahankan trio pendiri dari pada Fajar Indonesia Corporindo, itu historisnya,” katanya.
Aksa juga mengenang bahwa pada awal berdirinya Harian Fajar, dirinya bersama M. Jusuf Kalla sepakat mempercayakan pengelolaan media kepada almarhum HM Alwi Hamu.
Menurutnya, Alwi memiliki kemampuan jurnalistik yang kuat dan mampu mendedikasikan waktu untuk mengembangkan perusahaan media, sementara dirinya dan Jusuf Kalla telah lebih dahulu disibukkan dengan aktivitas bisnis di bidang lain.(*)

