MAKASSAR, UPEKS.co.id – Seorang ayah lanjut usia asal Gorontalo harus menahan kesedihan mendalam setelah putri sulungnya yang bekerja di Makassar dilaporkan hilang sejak September 2025. Ironisnya, saat mencoba melaporkan kehilangan tersebut, laporannya disebut belum dapat diterima oleh pihak kepolisian.
Hamzah Sahari (71), pensiunan guru yang tinggal di Desa Kayubulan, Kecamatan Batudaa Pantai, Kabupaten Gorontalo, hingga kini masih terus berupaya mencari keberadaan anaknya, Siti Sahida Sahari (28).
Siti Sahida merupakan lulusan sarjana keperawatan dan anak pertama dari dua bersaudara. Ia sebelumnya bekerja sebagai manajer di salah satu gerai restoran Mie Gacoan di Jalan Pettarani, Makassar.
Menurut Hamzah, anaknya awalnya mendaftar bekerja di Mie Gacoan Kota Gorontalo pada April 2025. Saat itu, Siti bersama sembilan orang lainnya dikirim ke Makassar untuk mengikuti pelatihan selama tiga bulan.
“Awalnya ada sekitar sepuluh orang yang berangkat dari Gorontalo untuk training di Makassar. Setelah seleksi, hanya empat orang yang dinyatakan lulus, termasuk anak saya. Enam orang lainnya kembali ke Gorontalo,” kata Hamzah, Kamis (12/3/2026).
Setelah dinyatakan lulus, Siti kemudian dipercaya menjadi manajer di salah satu gerai Mie Gacoan di Makassar pada Agustus 2025. Selama bekerja, komunikasi dengan keluarga di Gorontalo masih berjalan lancar.
Hamzah mengungkapkan, sebelum menghilang, putrinya sempat bercerita bahwa ada seorang pria yang berniat melamarnya. Pria tersebut disebut bekerja di salah satu rumah sakit di Makassar.
“Dia bilang ada laki-laki yang ingin melamar dan bahkan ingin datang ke Gorontalo. Tapi anak saya bilang ke ibunya, dia baru bekerja dan orang tuanya juga masih sibuk, jadi belum siap untuk menikah,” ujarnya.
Namun sejak September 2025, komunikasi antara Siti dan keluarganya tiba-tiba terputus. Nomor teleponnya tidak lagi aktif dan keluarga tidak dapat lagi menghubunginya.
Khawatir terjadi sesuatu, Hamzah dan keluarganya mulai mencari informasi ke berbagai pihak, termasuk rekan kerja anaknya di Makassar.
Pada Minggu (8/3/2026), Hamzah terbang dari Gorontalo menuju Makassar untuk mencari keberadaan putrinya. Setibanya di Makassar, ia bertemu dengan kenalannya, H. Idham, warga Jalan Perintis Kemerdekaan, Kelurahan Tamalanrea Indah, Kecamatan Tamalanrea.
Idham kemudian menampung Hamzah di rumahnya sementara waktu, sambil membantu mencari informasi mengenai keberadaan Siti.
Hari pertama di Makassar, keduanya mendatangi gerai Mie Gacoan di Jalan Pettarani. Di lokasi tersebut, mereka sempat menunggu sekitar setengah jam sebelum bertemu dengan manajer yang kini menggantikan posisi Siti.
Dari informasi yang diperoleh, pihak manajemen menyebut Siti telah keluar dari pekerjaan dan diduga membawa kabur uang perusahaan.
“Saya langsung bilang, berarti anak saya ini buronan. Kenapa tidak dilaporkan ke polisi? Tapi mereka bilang tidak melapor,” kata Hamzah.
Dari keterangan tersebut, Hamzah mulai menduga ada sesuatu yang disembunyikan oleh pihak perusahaan.
“Kalau memang anak saya membawa kabur uang perusahaan, kenapa tidak dilaporkan ke polisi?” ujarnya.
Hamzah menegaskan dirinya tidak percaya putrinya melakukan tindakan tersebut. Menurutnya, ia mengenal karakter anaknya sejak kecil hingga dewasa.
“Saya yakin anak saya tidak pernah melakukan hal seperti itu. Kalau memang ada masalah, seharusnya ada kejelasan. Sampai sekarang tidak ada penjelasan apa-apa, malah anak saya hilang kontak,” tegasnya.
Pada 9 Maret 2026, Hamzah bersama Idham mendatangi Polsek Panakkukang untuk melaporkan kehilangan anaknya. Namun ia mengaku laporannya belum diterima dengan alasan anaknya sudah dewasa dan bukan termasuk orang dengan gangguan mental atau anak di bawah umur.
“Saya diarahkan oleh polisi bernama Pak Asri untuk mencari informasi terlebih dahulu, termasuk menemui bhabinkamtibmas,” kata Hamzah.
Ia juga disarankan membuat selebaran berisi foto dan keterangan orang hilang untuk disebarkan kepada masyarakat.
Mengikuti saran tersebut, Hamzah kemudian menemui bhabinkamtibmas setempat. Namun bantuan yang diberikan hanya sebatas membantu menyebarkan informasi melalui media sosial karena Siti bukan warga di wilayah tersebut.
Sebelumnya, Hamzah juga sempat melapor ke Polda Gorontalo, namun diarahkan untuk melapor di Makassar karena lokasi terakhir anaknya diketahui berada di kota tersebut.
Kini, di usianya yang tidak lagi muda, Hamzah hanya berharap ada pihak yang dapat membantu menemukan keberadaan putrinya.
“Saya cuma ingin tahu anak saya di mana. Kalau dia baik-baik saja, saya ingin dengar langsung. Saya sudah tua, hanya ingin memastikan anak saya selamat,” harapnya.
Hingga saat ini Hamzah masih berada di Makassar dan terus mencari keberadaan Siti Sahida Sahari. Ia berharap masyarakat yang memiliki informasi dapat membantu.
Bagi siapa pun yang mengetahui atau melihat keberadaan Siti Sahida Sahari, dapat menghubungi Hamzah di nomor 085166831755.
Sementara itu, Kapolsek Panakkukang, Kompol Ema. AR dikonfirmasi mengarahkan media untuk mendatangi Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT).
“Iye silahkan ke kantor ini malam, ke SPKT konfirmasinya kebetulan dia yang terima laporan,” ucap Kompol Ema saat dikonfirmasi, Kamis (12/3/2026) malam.(Jay)



