Oleh: Muh Akbar
Saya begitu terkesan dengan kemampuan sejumlah situs Artificial Intelegence (AI). Begitu majunya teknologi kecerdasan buatan saat ini.
Mampu melakukan hal-hal yang lima tahun atau bahkan dua tahun lalu masih mustahil. Seperti menulis artikel misalnya.
Menulis artikel itu sendiri bukan pekerjaan yang mudah butuh latihan yang panjang. Bukan hanya itu, penulis juga harus memiliki referensi yang memadai.
Belum lagi persoalan kemampuan menerjemahkan peristiwa menjadi teks dengan struktur kalimat yang mudah dipahami.
Kesimpulannya butuh tahunan untuk mencapai itu.
Namun di tahun 2023 ini, semua itu bisa terwujud secara instan. Ada Artificial Intelegence (AI) yang bisa digunakan untuk membuat artikel. Yang rumit sekali pun dan dalam berbagai bahasa pula.
Sebut misalnya ChatGPT, salah satu produk openAI yang mendapat suntikan investasi dari microsoft.
Tak tanggung-tanggung microsoft merencanakan untuk menambah investasi USD 10 Miliar atau sekitar Rp155 Triliun untuk ChatGPT pada bebebrapa tahun kedepan.
ChatGPT adalah sebuah chatbot kecerdasan buatan yang diluncurkan pada November 2022 dan menggegerkan pasar. ChatGPT memungkinkan pengguna untuk beruji coba dengan kemampuannya menulis artikel, puisi serta kode komputer hanya dalam hitungan detik.
Raksasa teknologi ini, sudah memberikan dukungannya sejak 2019 dan berlanjut pada 2021 untuk putaran kedua dengan total investasinya mencapai US$ 1 miliar.
Lalu bagaimana cara kerja ChatGPT? ChatGPT adalah model bahasa alami besar yang dilatih menggunakan teknologi kecerdasan buatan untuk dapat memahami bahasa manusia dan merespon dengan cara yang alami dan kontekstual. Model ini dirancang untuk menghasilkan respon yang terkadang sulit dibedakan dengan yang dibuat oleh manusia.
Pada dasarnya, ChatGPT bekerja dengan menggunakan teknik deep learning dan memanfaatkan pengalaman yang diperoleh selama pelatihan untuk memahami bahasa manusia dan merespon dengan cara yang sesuai.
Ketika mencoba ChatGPT, memang rasanya pekerjaan jurnalis akan semakin mudah. Susunan kalimat yang begitu terstruktur dan terkesan alami.
Meski demikian, tetap saja ada hal utama yang tak bisa digantikan ChatGPT. Misalnya dalam hal verifikasi dan validitas. Ini harusnya masih pekerjaan jurnalis.
Coba lihat contoh tulisan ChatGPT di bawah ini. Saya tampilkan murni tanpa editan. Begini tulisannya:
Wartawan dan AI
Meskipun kemajuan teknologi AI dalam beberapa tahun terakhir memungkinkan mesin untuk melakukan tugas-tugas tertentu dengan lebih efisien, tetapi sampai saat ini, teknologi AI belum mampu menggantikan peran wartawan secara penuh.
Wartawan memiliki kemampuan untuk melakukan investigasi, menganalisis, serta menafsirkan informasi yang diperoleh, yang memerlukan pemahaman, pandangan, dan interpretasi yang lebih kompleks dan abstrak. Wartawan juga dapat melakukan wawancara, melakukan riset, dan mengunjungi tempat kejadian untuk mendapatkan informasi yang akurat dan lengkap.
Meskipun ada teknologi AI yang mampu menghasilkan berita secara otomatis dengan memanfaatkan teknologi Natural Language Generation (NLG), namun berita-berita yang dihasilkan sering kali masih memerlukan pengeditan dan validasi dari wartawan manusia. Selain itu, wartawan juga dapat membantu dalam menilai kebenaran dan kredibilitas berita yang dihasilkan oleh teknologi AI.
Secara keseluruhan, meskipun teknologi AI dapat membantu dalam mempermudah tugas-tugas tertentu dalam pekerjaan jurnalistik, tetapi kemampuan dan keahlian wartawan manusia dalam melakukan analisis dan interpretasi informasi, serta menjalin hubungan dengan masyarakat untuk mendapatkan informasi yang akurat masih sulit untuk digantikan oleh teknologi AI.
AI (Artificial Intelligence) memiliki potensi untuk memberikan manfaat dan tantangan bagi profesi jurnalis. Beberapa manfaat AI bagi profesi jurnalis di antaranya:
1. Mempercepat dan mempermudah proses penelitian dan pengumpulan data: Dengan teknologi AI, jurnalis dapat mengumpulkan dan menganalisis data secara lebih cepat dan efisien, terutama ketika harus menangani volume data yang besar dan kompleks.
2. Membantu menerjemahkan dan menerbitkan konten dalam berbagai bahasa: AI dapat membantu menerjemahkan berita dan konten dalam berbagai bahasa, sehingga memungkinkan jurnalis untuk mencapai audiens global.
3. Meningkatkan efisiensi produksi konten: Dengan teknologi AI, jurnalis dapat memanfaatkan alat otomatisasi untuk memproduksi konten secara lebih cepat dan efisien, seperti alat pembuatan headline, abstrak, dan bahkan artikel.
Namun, ada juga beberapa tantangan atau bahaya yang dihadapi oleh profesi jurnalis terkait dengan penggunaan teknologi AI, di antaranya:
1. Risiko kehilangan pekerjaan: Dalam beberapa kasus, AI dapat menggantikan peran manusia dalam mengumpulkan dan menyusun berita. Sehingga, ada kemungkinan beberapa pekerjaan jurnalis dapat digantikan oleh teknologi AI.
2. Risiko bias dan ketidakadilan: Teknologi AI mungkin memperoleh data dari sumber yang tidak representatif atau tidak lengkap, yang dapat menyebabkan algoritma dan model AI menjadi bias. Hal ini dapat memengaruhi cara berpikir jurnalis dan keputusan yang diambil terkait produksi konten.
3. Risiko keamanan informasi dan privasi: AI dapat digunakan untuk mengumpulkan data dan informasi dari sumber-sumber yang berbeda, tetapi jika tidak diatur dengan baik, informasi pribadi dan data penting dapat diakses oleh pihak yang tidak berwenang atau disalahgunakan.
Secara keseluruhan, penggunaan teknologi AI dalam jurnalisme harus dikelola dengan hati-hati dan disertai dengan peraturan dan standar etis yang ketat untuk meminimalkan risiko dan memaksimalkan manfaatnya.
***
Yah begitulah contoh artikel yang ditulis oleh robot, ChatGPT. Rasanya akan lebih mudah menjadi jurnalis di masa akan datang. (*)




