Fakultas Kesehatan UPRI Gelar Kuliah Pakar, Bahas Strategi Penanganan Stunting Berbasis Budaya Lokal

Fakultas Kesehatan UPRI Gelar Kuliah Pakar, Bahas Strategi Penanganan Stunting Berbasis Budaya Lokal

MAKASSAR, UPEKS.co.id – Fakultas Kesehatan Universitas Pejuang Republik Indonesia (UPRI) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung pembangunan kesehatan nasional melalui penyelenggaraan Kuliah Pakar bertema “Penanganan Stunting dengan Pendekatan Manajemen Berbasis Budaya Lokal di Sulawesi Selatan”.

Kegiatan yang berlangsung di Aula UPRI, pada Senin (22/6/2026) ini, menghadirkan Wakil Ketua Kajian Ketatanegaraan MPR RI, Dr. Ajiep Padindang sebagai narasumber utama.

Bacaan Lainnya

Kuliah pakar tersebut dihadiri oleh dosen, mahasiswa, serta para dekan di lingkungan Universitas Pejuang Republik Indonesia. Kegiatan ini menjadi wadah akademik yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan untuk membahas strategi percepatan penurunan stunting yang hingga kini masih menjadi salah satu prioritas pembangunan kesehatan nasional.

Mengawali rangkaian kegiatan kuliah pakar, Rektor UPRI, Muh. Darwis Nur Tinri, selaku Keynote Speaker, secara resmi membuka acara sekaligus menyampaikan apresiasinya kepada Fakultas Kesehatan atas inisiatif penyelenggaraan kegiatan tersebut.

Ia menilai tema stunting yang diangkat sangat strategis, karena sejalan dengan agenda prioritas pemerintah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui percepatan penurunan angka stunting.

Sebelum memasuki agenda utama, Rektor UPRI juga menyampaikan apresiasi kepada Fakultas Kesehatan atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, tema yang diangkat sangat relevan dengan fokus utama pemerintah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui percepatan penanganan stunting.

Fakultas Kesehatan UPRI Gelar Kuliah Pakar, Bahas Strategi Penanganan Stunting Berbasis Budaya Lokal

“Permasalahan stunting merupakan isu strategis yang membutuhkan perhatian serius dari seluruh elemen bangsa. Oleh karena itu, kegiatan akademik seperti ini memiliki nilai penting karena mendukung upaya pemerintah dalam mewujudkan generasi yang sehat, cerdas, dan produktif,” ungkap Rektor dalam sambutannya.

Pada kesempatan yang sama, Dekan Fakultas Kesehatan UPRI, Erni Kadir, menegaskan bahwa penyelenggaraan kuliah pakar ini merupakan bentuk nyata komitmen Fakultas Kesehatan dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat sekaligus mendukung berbagai program pemerintah di bidang kesehatan.

“Melalui kegiatan ini, kami berharap civitas akademika dapat memperluas wawasan dan memperkuat perannya dalam upaya pencegahan serta penanganan stunting. Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral dan akademik untuk turut berkontribusi dalam menyelesaikan persoalan kesehatan masyarakat,” jelas Erni Kadir.

Sementara itu, Dr. Ajiep Padindang sebagai narasumber utama, menekankan pentingnya pendekatan budaya lokal sebagai salah satu strategi efektif dalam upaya pengentasan stunting di Sulawesi Selatan. Menurutnya, nilai-nilai budaya yang hidup di tengah masyarakat dapat menjadi modal sosial yang kuat dalam mendukung program kesehatan.

“Pendekatan berbasis budaya lokal memiliki urgensi yang tinggi karena tidak hanya memperkuat persatuan masyarakat, tetapi juga mampu membantu mengatasi berbagai keterbatasan yang dihadapi keluarga dalam pemenuhan kebutuhan gizi anak,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa permasalahan stunting harus dipandang sebagai tanggung jawab bersama. Penanganan stunting tidak dapat dibebankan hanya kepada pemerintah, melainkan membutuhkan keterlibatan aktif seluruh lapisan masyarakat, termasuk dunia pendidikan, organisasi sosial, tokoh masyarakat, dan keluarga.

“Stunting adalah masalah bersama. Keberhasilan penurunannya sangat ditentukan oleh kolaborasi berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap masa depan generasi bangsa,” tambahnya.

Dalam forum tersebut, Dr. Ajiep juga mendorong perguruan tinggi, khususnya Fakultas Kesehatan Universitas Pejuang Republik Indonesia, untuk mengadopsi konsep Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) sebagai salah satu instrumen penting dalam mendeteksi dan mengidentifikasi kasus stunting secara dini.

Dengan pendekatan tersebut, diharapkan proses pemetaan dan intervensi terhadap kelompok berisiko dapat dilakukan secara lebih cepat dan tepat sasaran.

Melalui penyelenggaraan kuliah pakar ini, Fakultas Kesehatan UPRI berharap dapat memperkuat sinergi antara dunia akademik, pemerintah, dan masyarakat dalam mendukung percepatan penurunan angka stunting di Sulawesi Selatan.

Selain menjadi forum pengembangan ilmu pengetahuan, kegiatan ini juga diharapkan mampu melahirkan berbagai gagasan dan inovasi yang dapat diimplementasikan dalam upaya meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat secara berkelanjutan.(Jay)

Pos terkait