Polres Pangkep Bangun Jembatan di Parameang, Warga dan Polisi Angkut Batu Bersama

Polres Pangkep Bangun Jembatan di Parameang, Warga dan Polisi Angkut Batu Bersama

Pangkep, Upeks.co.id — Sungai Parameang mengalir tenang. Di bawah langit pagi Desa Bontobirao. Di tepian sungai itu. Polisi dan warga berdiri membawa cangkul, batu, dan pasir. Mereka tidak datang untuk upacara besar. Mereka datang untuk membangun jembatan. Sebab di tempat seperti itu, sebuah jembatan bukan hanya jalan penghubung, tetapi harapan agar kampung tidak lagi terasa jauh dari dunia luar.

Polres Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) memulai pembangunan Jembatan Merah Putih Presisi di Sungai Parameang, Kampung Parameang, Desa Bontobirao, Kecamatan Tondongtallasa, Rabu (20/5/2026).

Bacaan Lainnya

Jembatan itu dibangun dengan tema “Polri untuk Masyarakat”. Letaknya sekitar tiga kilometer dari pusat Desa Bontobirao. Jalan menuju lokasi masih berupa jalan tani dan pengerasan batu. Ketika hujan turun, jalan menjadi licin dan sulit dilalui.

Bagi warga di sana, sungai bukan sekadar aliran air. Ia juga batas yang membuat perjalanan menjadi lebih lama dan sulit. Karena itu pembangunan jembatan disambut dengan wajah-wajah penuh harap.

Kapolres Pangkep AKBP Husni Ramli mengatakan jembatan tersebut diharapkan dapat membantu membuka akses masyarakat yang selama ini terbatas.

“Semoga jembatan ini nantinya dapat membantu mobilitas warga dan mendukung peningkatan perekonomian masyarakat di Kecamatan Tondongtallasa,” katanya.

Pembangunan diawali dengan doa bersama di pinggir sungai. Imam Desa Bontobirao, M. Yahya, memimpin doa sementara warga dan personel kepolisian berdiri tenang mendengarkan. Mereka meminta keselamatan dan kelancaran selama pembangunan berlangsung.

Setelah doa selesai, tidak ada banyak pidato panjang. Polisi dan warga langsung turun ke sungai. Sebagian mengangkat batu. Sebagian lain mengumpulkan pasir untuk bahan awal pembangunan.

Tangan-tangan yang biasanya bekerja di sawah kini bekerja bersama anggota polisi. Mereka berjalan bolak-balik di tepian sungai membawa material sedikit demi sedikit.

Jembatan Merah Putih Presisi itu nantinya akan menjadi penghubung utama antara Kampung Maguliling dan permukiman warga Desa Bontobirao. Jika selesai, warga tidak lagi harus memutar jauh atau kesulitan melintasi sungai ketika air naik.

Di kampung kecil seperti Parameang, pembangunan sering datang pelan-pelan. Kadang dimulai dari batu pertama yang diangkat bersama. Kadang dimulai dari orang-orang yang memilih bekerja bersama di bawah matahari pagi.(sah)