Amarah, Hari Raya Baru di UMI

Amarah, Hari Raya Baru di UMI

Assalamu’alaikum Wr Wb.

Berikut kami sampaikan kebijakan manajemen sekolah terkait peringatan aksi AMARAH 24 April:

Bacaan Lainnya
  1. Murid yang melaksanakan pembelajaran teori, setelah Sholat jumat pembelajaran  dilanjutkan daring di rumah masing-masing. 
  2. Demikian juga untuk pembelajaran Praktikum, Jika Praktiknya sudah selesai maka kegiatan yg sifatnya dapat diselesaikan diluar Lab, dilanjutkan di rumah
  3. Pegawai tetap mengikuti jam kerja Normal.

Terima Kasih

 

Ponsel saya berdenting. Ada pesan masuk pada Jumat (24/4/2026) pada pukul 12.52 WITA. Tapi ini hanya pengulangan. Pesan yang sama sebelumnya sudah dikirimkan pada 8 April yang lalu.

 Isinya sedikit bikin kaget. Ada nada ‘khawatir’ atau mungkin ‘takut’ dengan rencana peringatan AMARAH (April Makassar Berdarah) oleh mahasiswa UMI.  

Pesan ini berasal dari guru di WAG orang tua siswa salah satu Sekolah Menengah di Makassar. Sekolah ini terpaksa harus menghentikan aktivitas belajar mengajar selama setengah hari di sekolah. Khawatir akan terkena imbas perayaan Amarah.

Kenapa takut? 

Bukankah mahasiswa sudah sering kali demo di Makassar?. Bukan hanya mahasiswa UMI. Bahkan bisa jadi hampir tiap pekan ada penutupan jalan dan pembakaran ban. Tapi tidak tiap ada demo sekolah ini mengeluarkan edaran untuk tutup setengah hari. 

Mungkin, di alam bawah sadar pengelola sekolah, telah tertanam memori kolektif yang traumatis. Sehingga secara otomatis membuatnya mengeluarkan kebijakan libur setengah hari. Karena mungkin pernah merasakan pahitnya demo 24 april. 

Sehingga sudah menjadi bagian dari SOP pada 24 April setiap tahun, sekolah diliburkan. 

Kalau bukan SOP tahunan, mungkin pihak sekolah punya radar yang tinggi sehingga bisa mengetahui demo Amarah tak baik-baik saja. Atau mungkin dapat bisikan dari ‘alam gaib’ jika demo Amarah itu berbahaya, tak hanya bakar ban. Ada gesekan.   

Ternyata betul. Ada bentrok di demo itu. Driver Ojol yang nekat menerobos aksi mahasiswa yang tengah menutup jalan. Katanya Ojol ini gerah karena mahasiswa demo di luar batas waktu yang diizinkan oleh aparat.

Uniknya, Ojol ini punya literasi yang bagus terkait jadwal izin demo di jalan raya. Tak semua Ojol punya kemampuan seperti ini. Sangat jarang.  

Aksi seorang Ojol ini, menjadi pemicu kemarahan mahasiswa yang merasa ‘berhak’ menutup akses publik. Driver ini menjadi sasaran amuk amarah mahasiswa. 

Selanjutnya kalian pasti sudah bisa tebak. Ratusan bahkan mungkin ribuan driver Ojol bersimpati. Lalu melakukan aksi balasan. Membubarkan mahasiswa UMi yang kalah jumlah. Bahkan mengejarnya hingga masuk ke dalam kampus. Merusak yang bisa di rusak. 

Dan Polisi mengamankan. 

Menangkapi pendemo. Menyisir masuk kampus dan ruang-ruang perkuliahan. Menemukan sajam dan busur. 

Seperti sebuah skenario sinetron yang berakhir indah.Amarah, Hari Raya Baru di UMI

Evaluasi Cara Memperingati Amarah 

Demo kemarin yang berakhir dengan penyisiran ke dalam kampus adalah sebuah episode yang tak baik bagi citra UMI sebagai lembaga pendidikan dan dakwah. Islami. 

Akhir yang buruk itu tentu hanyalah bentuk cerminan klimaks dari kejengkelan publik akan aksi-aksi di jalan yang merugikan kepentingan publik. 

Sebagai salah seorang alumni, kami tahu Tragedi Amarah adalah sejarah yang pahit yang tak boleh dilupakan. Merenggut tiga nyawa mahasiswa yang berusaha memperjuangkan nasib sesama rakyat Indonesia. 

Tragedi ini harus menjadi pelajaran bagi generasi mendatang. 

Kendati demikian, memperingati Amarah dengan melakukan aksi demonstrasi yang berakhir ricuh adalah sebuah persoalan tersendiri. Jika setiap memperingati tragedi berdarah ini dengan mengeluarkan darah baru, maka itu sama saja bunuh diri. Sama saja dengan berusaha menghapus sejarah itu sendiri. 

Ingatan publik akan tergerus. Ingatan akan kematian tiga mahasiswa UMI akan terlupakan. Sebab memori-memori baru atas beringasnya aksi demo peringatan Amarah yang malah akan membekas. 

Ketika publik di tanya soal Amarah maka yang diingat hanya: Macet, Bentrok, dan Libur. Dampaknya, institusi UMI yang akan merasakan kerugian terbesar dalam jangka panjang. 

Sebaiknya UMI menggelar diskusi antara pengelola kampus, mahasiswa dan libatkan publik. Agar bisa dievaluasi, tujuan peringatan Amarah ini? Apakah tujuan itu sudah tercapai? Apakah cara memperingatinya sudah benar? Lalu kita sama-sama memperbaikinya. 

Saya mengingat kata-kata Prof Mansyur Ramli saat masih menjadi rektor, tentang tugu Amarah. Dia khawatir jika monumen itu menjadi berhala baru. 

Saat ini mungkin belum menjadi berhala yang disembah. Tetapi setidaknya UMI sudah melahirkan satu hari raya baru yang ritualnya dirayakan setiap tanggal 24 April.  (*)

Pos terkait