Penulis: Abdul Jalil (Dosen Ilmu pendidikan Islam STAI DDI Pangkep)
TAHUN Baru Hijriah 1448 H hadir di tengah kehidupan yang semakin sibuk namun tidak selalu semakin tenang. Banyak orang hari ini lebih rajin memperbarui status media sosial daripada memperbarui keadaan hatinya. Kesuksesan diukur dari capaian materi, popularitas, dan pengakuan sosial, sementara ketenangan batin sering kali menjadi sesuatu yang terlupakan. Akibatnya, tidak sedikit yang tampak berhasil di luar, tetapi menyimpan kegelisahan yang sulit dijelaskan.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kemajuan teknologi dan kemudahan hidup tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas jiwa manusia. Arus informasi yang bergerak tanpa henti, budaya pencitraan di media sosial, serta kompetisi sosial yang semakin ketat telah melahirkan tekanan psikologis yang nyata. Banyak orang merasa harus selalu terlihat sukses, produktif, dan bahagia, meskipun kenyataannya mereka sedang berjuang menghadapi kelelahan mental dan kekosongan makna.
Dalam perspektif Islam, kegelisahan semacam itu tidak hanya dipahami sebagai persoalan psikologis, tetapi juga berkaitan dengan kondisi spiritual manusia. Al-Qur’an menegaskan:
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (QS. Ar-Ra’d: 28).
Ayat ini menunjukkan bahwa ketenangan sejati tidak semata-mata lahir dari kepemilikan materi atau pencapaian duniawi, melainkan dari hubungan yang hidup antara manusia dan Tuhannya. Ketika hati kehilangan orientasi kepada Allah, berbagai pencapaian sering kali tidak mampu menghadirkan rasa cukup dan damai.
Fenomena tersebut mengingatkan pada pemikiran Imam Al-Ghazali yang menjelaskan bahwa kegelisahan manusia banyak bersumber dari keterikatan yang berlebihan terhadap dunia. Harta, jabatan, dan pujian manusia bukanlah sesuatu yang tercela, tetapi ketika semuanya dijadikan tujuan utama kehidupan, hati akan mudah dikuasai kecemasan dan ketidakpuasan. Semakin besar ketergantungan seseorang kepada hal-hal yang bersifat sementara, semakin rentan pula ia kehilangan ketenangan ketika semua itu berubah atau hilang.
Di sisi lain, kehidupan modern juga menghadapkan manusia pada kebebasan yang luas untuk menentukan arah hidupnya. Filsuf Jean-Paul Sartre menyebut manusia sebagai makhluk yang “dikutuk untuk bebas”, yakni harus bertanggung jawab atas setiap pilihan yang dibuat. Kebebasan tersebut sering kali menjadi beban ketika manusia tidak memiliki orientasi nilai yang jelas. Dalam Islam, kebebasan bukan berarti mengikuti seluruh keinginan tanpa batas, melainkan kemampuan mengarahkan diri sesuai petunjuk Allah. Kebebasan yang tidak dibimbing oleh nilai spiritual justru berpotensi menjerumuskan manusia pada kegelisahan yang berkepanjangan.
Karena itu, Tahun Baru Hijriah perlu dimaknai sebagai momentum hijrah batin. Hijrah tidak hanya berarti perpindahan tempat sebagaimana yang dilakukan Rasulullah SAW, tetapi juga perpindahan kesadaran dari kelalaian menuju kedekatan kepada Allah. Rasulullah SAW bersabda:
“Seorang muhajir adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang Allah.” (HR. Bukhari).
Hadis tersebut menegaskan bahwa esensi hijrah terletak pada transformasi diri menuju kehidupan yang lebih baik secara moral dan spiritual.
Dalam tradisi tasawuf, salah satu jalan untuk membangun kesadaran tersebut adalah melalui dzikir. Dzikir bukan sekadar melafalkan kalimat-kalimat tertentu, melainkan menghadirkan Allah dalam setiap aktivitas kehidupan. Ketika hati terbiasa berdzikir, manusia tidak mudah diperbudak oleh pujian maupun dihancurkan oleh kegagalan. Ia mampu melihat kehidupan secara lebih jernih karena menyadari bahwa seluruh peristiwa berada dalam kehendak dan hikmah Allah.
Kesadaran itu kemudian melahirkan sikap zuhud. Zuhud sering disalahpahami sebagai meninggalkan dunia atau menjauhi kehidupan sosial. Padahal para ulama menjelaskan bahwa zuhud adalah menempatkan dunia pada proporsinya. Seseorang boleh memiliki harta, jabatan, dan berbagai fasilitas kehidupan, tetapi hatinya tidak bergantung sepenuhnya kepada semua itu. Ia menjadikan dunia sebagai sarana beribadah dan berbuat kebaikan, bukan sebagai tujuan akhir kehidupan.
Pandangan ini relevan dengan tantangan masyarakat modern yang sering terjebak dalam perlombaan tanpa akhir. Banyak orang bekerja lebih keras untuk memiliki lebih banyak, tetapi tidak selalu menjadi lebih bahagia. Dalam keadaan seperti itu, zuhud menghadirkan kesadaran bahwa nilai manusia tidak ditentukan oleh apa yang dimilikinya, melainkan oleh kualitas iman, akhlak, dan manfaat yang diberikannya kepada sesama.
Tahun Baru Hijriah 1448 H mengajak kita melakukan evaluasi yang lebih mendalam daripada sekadar menghitung usia dan pencapaian. Momentum ini mengingatkan bahwa keberhasilan hidup tidak hanya diukur dari apa yang berhasil dikumpulkan, tetapi juga dari sejauh mana hati tetap hidup dalam dzikir, akal tetap jernih dalam mengambil keputusan, dan jiwa tetap merdeka dari berbagai bentuk keterikatan yang berlebihan.
Di tengah dunia yang semakin bising oleh perlombaan kepemilikan, pencitraan, dan ambisi tanpa batas, pesan hijrah tetap relevan untuk direnungkan. Dzikir mengarahkan manusia menemukan kembali tujuan hidupnya, sementara zuhud mengajarkan cara memandang dunia secara proporsional. Sebab kemenangan terbesar dalam kehidupan bukanlah ketika seseorang berhasil menguasai dunia, melainkan ketika ia mampu memerdekakan jiwanya dari segala sesuatu yang menjauhkannya dari Allah SWT.(*)

