Kuliah Pakar UPRI, Perkuat Pemahaman SDH Dosen dan Mahasiswa Fakultas Kesehatan

Kuliah Pakar UPRI, Perkuat Pemahaman SDH Dosen dan Mahasiswa Fakultas Kesehatan
Fakultas Kesehatan UPRI Makassar, gelar Kuliah Pakar dengan tema "Sosial Determinants of Health (SDH) dalam Intervensi Pemberdayaan Masyarakat Marjinal", pada Kamis (11/12/2025).

MAKASSAR, UPEKS.co.id – Fakultas Kesehatan Universitas Pejuang Republik Indonesia (UPRI) Makassar, gelar Kuliah Pakar dengan tema “Sosial Determinants of Health (SDH) dalam Intervensi Pemberdayaan Masyarakat Marjinal”.

Kuliah Pakar yang menghadirkan Ketua Komite Akreditasi Bidang Kesmas LAMPTKes, Dr. Ridwan Mochtar Thaha sebagai narasumber itu, digelar di ruang rektor, Kamis (11/12/2025).

Bacaan Lainnya

Kemudian diikuti oleh para civitas akademik serta mahasiswa program magister Fakultas Kesehatan UPRI Makassar. Baik diikuti secara offline atau langsung, maupun secara online melalui zoom.

Kegiatan diawali dengan penyampaian oleh Rektor UPRI, Dr. Darwis Nur Tinri yang bertindak sebagai keynote speaker, sekaligus membuka Kuliah Pakar tersebut.

Dalam penyampaiannya, Rektor menekankan bahwa Kuliah Pakar ini sangat penting karena dapat menjawab tantangan untuk menghubungkan masyarakat marjinal dengan hak fundamentalnya, yaitu hidup sehat dan bermartabat.

“Ini akan membantu kita menjawab berbagai tantangan dalam dunia kesehatan yang sangat kompleks. Untuk itu kita berterima kasih kepada Dekan Fakultas Kesehatan UPRI, Erni Kadir yang telah menggagas kegiatan luar biasa seperti ini,” ujarnya.

Sementara itu selaku narasumber, Ridwan Mochtar Thaha menyampaikan terkait pelayanan kesehatan yang ada di Indonesia. Dimana semua berbasis kuratif dan tidak menyelesaikan masalah.

“Pada 2018 WHO menemukan resolusi besar SDH menjadi penting terutama karena melibatkan sosial budaya, ekonomi dan politik dalam mengimplementasikan pelayanan kesehatan,” beber Ridwan Mochtar.

Lanjut Ridwan memaparkan berbagai hal penting. Mulai dari konsep kesehatan dan kesejahteraan, serta tanggung jawab negara untuk menjaga kesehatan penduduknya.

Kemudian bagaimana mengidentifikasi faktor sosial ekonomi, biologis dan perilaku yang mempengaruhi kesehatan sebagai determinan sosialnya, serta model pemberdayaan untuk intervensi perubahan SDH.

Bicara soal konsep kesehatan dan kesejahteraan, Ridwan menyebut, kesehatan adalah keadaan kesejahteraan fisik, mental, dan sosial yang lengkap, dan bukan hanya ketiadaan penyakit atau kelemahan.

“Kesehatan adalah hak individu dan isu keadilan sosial kesehatan juga merupakan barang milik publik,” jelasnya.

“Di sisi lain, pemerintah memiliki tanggung jawab terhadap kesehatan rakyatnya yang hanya dapat dipenuhi melalui penyediaan langkah-langkah kesehatan dan sosial yang memadai,” sambung dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin Makassar ini.

Sementara itu, Dekan Fakultas Kesehatan UPRI Makassar, Erni Kadir mengatakan, Kuliah Pakar ini menghadirkan narasumber dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin (FKM UNHAS).

Erni Kadir pun berharap, terjadi transfer pengetahuan, penguatan kapasitas akademik, dan peningkatan kualitas penyelenggaraan tridharma, khususnya pada aspek penelitian dan pengabdian kepada masyarakat di lingkungan FAKES UPRI.

Program ini bertujuan memfasilitasi peningkatan kapasitas dosen melalui pemahaman dan aplikasi Social Determinants of Health (SDH), dalam intervensi pemberdayaan masyarakat marginal dengan menghadirkan narasumber dari FKM UNHAS.

“Tujuan umum kegiatan ini adalah meningkatkan kompetensi akademik dan praktik dosen Fakultas Kesehatan UPRI dalam memahami dan mengimplementasikan konsep SDH dalam intervensi pemberdayaan masyarakat marginal,” ucap Erni Kadir.

Adapun tujuan khususnya lanjut Erni Kadir, adalah memberikan pemahaman tentang teori dan kerangka SDH, mengembangkan kemampuan analisis social dosen dalam melihat akar permasalahan kesehatan masyarakat.

Termasuk kata Erni Kadir, memperkuat kapasitas dosen dalam merancang intervensi pemberdayaan masyarakat berbasis Social Determinants of Health, meningkatkan kualitas kegiatan tridharma perguruan tinggi, khususnya riset dan pengabdian masyarakat.

“Kemudian untuk membangun peluang kerja sama akademik dan penelitian antara FAKES UPRI dan FKM UNHAS, serta menjadi media penyegaran ilmu dalam pengembangan kurikulum,” kuncinya.(Jay)

Pos terkait