Oleh Dosen Poltekpel Barombong: Rukmini
Politeknik Pelayaran (Poltekpel) Barombong, merupakan institusi pendidikan tinggi vokasi yang memainkan peran strategis dalam pembangunan sumber daya manusia (SDM) maritim di kawasan timur Indonesia.
Berdiri sejak 1980, institusi ini telah berkembang dari balai pelatihan menjadi politeknik dengan standar global. Artikel ini mengkaji eksistensi Poltekpel Barombong berdasarkan pendekatan historis dan kontribusinya dalam mendukung visi Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia.
Pembangunan sektor maritim nasional memerlukan SDM yang andal dan tersebar merata di seluruh wilayah Indonesia, terutama di kawasan timur yang merupakan pintu gerbang konektivitas laut ke Pasifik dan Australia.
Dalam konteks ini, pendidikan tinggi vokasi maritim memegang peran sentral. Poltekpel Barombong hadir sebagai jawaban atas kebutuhan tersebut.
Pendidikan vokasi di sektor transportasi laut memiliki urgensi strategis dalam menunjang keselamatan pelayaran dan peningkatan kualitas pelaut Indonesia. Hal ini menjadi latar belakang kuat mengapa lembaga seperti Poltekpel Barombong harus terus dikembangkan.
Sejarah Berdirinya Poltekpel Barombong
Poltekpel Barombong awalnya berdiri sebagai Balai Pendidikan dan Pelatihan Pelayaran Dasar (BPLPD) atau Barombong Rating School diprakarsai oleh Presiden Republik Indonesia, Soeharto dan Perdana Menteri Jepang Mr. Tanaka.
Hak itu untuk memenuhi kebutuhan pelaut tingkat dasar yang saat itu adalah inisiatif pemerintah dalam menghadirkan lembaga pelatihan pelaut di kawasan timur, yang sebelumnya minim akses pendidikan maritim formal.
Selanjutnya pemerintah Jepang mengirimkan tim survei dipimpin oleh Prof. Fumio Shintani untuk melaksanakan survei, guna merumuskan desain dasar dan lokasi pembangunan di Sumatera, Jawa, Sulawesi dan Seram.
BPLPD Barombong yang merupakan sekolah transportasi dibawah Kementerian Perhubungan Republik Indonesia. Diresmikan pada tanggal 28 Juni 1980 oleh Menteri Perhubungan saat itu, Roesmin Nuryadin, sebagai Diklat Pelaut Tingkat Dasar dengan nama Balai Pendidikan dan Latihan Pelayaran Dasar (BPLPD) atau Barombong Rating School.
Kemudian mengalami perubahan menjadi Balai Pendidikan dan Pelatihan Ilmu Pelayaran (BP2IP) Barombong, berdasarkan Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor KM 45 Tahun 2003, tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Pendidikan dan Pelatihan Ilmu Pelayaran, Balai Pendidikan dan Pelatihan Pelayaran Barombong.
Dimana balai itu, merupakan unit pelaksana teknis di lingkungan Kementerian Perhubungan yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Perhubungan.
Transformasi menjadi Politeknik Pelayaran Barombong merupakan bentuk adaptasi terhadap tuntutan pendidikan tinggi berbasis kompetensi. Sesuai dengan UU No. 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, pendidikan vokasi diarahkan pada penguasaan keahlian kerja yang aplikatif dan relevan dengan dunia industri.
Sebagai lembaga penyelenggara program pendidikan vokasi untuk jenjang diklat pembentukan serta jenjang pendidikan dan pelatihan teknis, hingga menjadi sebuah Pendidikan tinggi maritim Poltekpel Barombong, telah menghadapi tantangan dan permasalahan yang kompleks, yang dapat dikategorikan dalam dua faktor.
Faktor Eksternal
-Tantangan kompetisi global di bidang industri maritim yang menuntut profesionalisme dalam penyelenggaraan diklat guna memenuhi kebutuhan pelaut yang berkualitas di pasar domestik, regional, maupun global.
-Pertumbuhan armada nasional akibat penerapan azas cabotage (Inpres No. V/2005) dan implementasi program Tol Laut, yang berdampak langsung pada meningkatnya kebutuhan pelaut.
-Penurunan minat generasi muda dari negara-negara maju dalam profesi pelaut, yang berdampak pada menurunnya pasokan pelaut global.
-Kampanye IMO “Go to Sea” tahun 2008 yang menekankan pentingnya pemberdayaan industri maritim.
-Tuntutan pasar nasional dan internasional yang menghendaki kompetensi teknis didukung dengan basis pengetahuan akademik.
-Potensi geografis Makassar sebagai kota maritim dengan sumber daya bahari yang besar, menjadi faktor penguat peran strategis Poltekpel Barombong.
Faktor Internal
– Poltekpel Barombong merupakan pengembangan dari struktur organisasi BP2IP Barombong yang sebelumnya hanya berbasis diklat terbatas pada penyelenggaraan diklat kepelautan tingkat dasar dan menengah sebagaimana tertuang dalam Permenhub No. PM 93 Tahun 2017.
-Selain itu, wewenang dari BP2IP lembaga yang terbatas pada jalur pendidikan nonformal (sesuai amanat UU No. 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran).
-Bertambahnya volume sumber daya yang dikelola (SDM, sarana-prasarana, dan keuangan) yang menuntut efisiensi dan pengelolaan berbasis tata kelola perguruan tinggi.
Peran Strategis di Kawasan Timur Indonesia
Sebagai institusi pendidikan tinggi maritim di Timur Indonesia, Poltekpel Barombong telah melayani ribuan peserta didik dari berbagai provinsi. Seperti Papua, Maluku, Nusa Tenggara, Kalimantan dan Sulawesi.
Letaknya di Makassar memperkuat perannya sebagai simpul maritim nasional. Wilayah timur Indonesia, khususnya suku Bugis, Makassar, dan Buton, memiliki tradisi pelayaran dan kemaritiman yang kuat sejak abad ke-16.
Tradisi pelaut seperti perahu pinisi yang telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia, menjadi cerminan identitas maritim masyarakat di kawasan ini.
Poltekpel Barombong hadir sebagai perpanjangan tangan modernisasi tradisi tersebut, mengawinkan nilai-nilai lokal dengan standar pelayaran internasional seperti IMO (International Maritime Organization).
Hal ini penting untuk mempertahankan dan mengembangkan jati diri pelaut Indonesia dalam panggung global, dengan tetap berakar pada budaya lokal.
Eksistensi Peran Maritim
Peranan Poltekpel Barombong tercermin dari model pendidikan kedinasan yang mengintegrasikan kompetensi teknis, etika profesi, dan disiplin taruna. Program-program studi seperti Permesinan Kapal, Nautika, dan Manajemen Transportasi Laut, dirancang sesuai dengan standar STCW (Standards of Training, Certification, and Watchkeeping for Seafarers) dari IMO.
Data capaian juga menunjukkan urgensi dan efektivitas penyelenggaraan pendidikan vokasi oleh Poltekpel Barombong. Dari laporan jumlah lulusan Program Diploma III tahun 2023 dan 2024, terlihat peningkatan signifikan dalam output dan daya serap lulusan.
Pada tahun 2023, total lulusan dari Prodi Nautika, Permesinan Kapal, dan Manajemen Transportasi Laut sebanyak 72 orang, seluruhnya telah terserap ke dalam dunia kerja.
Sedang tahun 2024, terjadi peningkatan hampir dua kali lipat menjadi 134 orang, dan seluruh lulusan juga telah terserap.
Lebih lanjut, Poltekpel Barombong aktif menjalin kerja sama dengan dunia industri dan perusahaan pelayaran nasional, serta lembaga pelatihan internasional, dalam rangka peningkatan daya saing lulusan.
Poltekpel Barombong telah menjalin kerja sama internasional dalam rangka meningkatkan kualitas lulusan. Seperti Kerja sama dengan pelayaran asing Jepang, Korea, dan Eropa dalam hal penempatan taruna praktek laut (On Board Training).
Sertifikasi lulusan mengacu pada STCW (Standards of Training, Certification and Watchkeeping for Seafarers). Beberapa lulusan telah bekerja di kapal-kapal asing dengan gaji rata-rata USD 1.000–1.500 per bulan, memperlihatkan daya saing global yang signifikan.
Dengan itu, Poltekpel Barombong menjadi bukti konkret strategi maritim nasional yang membumi, tidak hanya di dokumen kebijakan, tetapi juga pada penguatan kapasitas manusia dan budaya.
Tantangan dan Arah Masa Depan
Poltekpel Barombong menghadapi tantangan yang sejalan dengan perkembangan teknologi digital, sistem navigasi berbasis AI, serta transisi energi di industri pelayaran.
Untuk itu, pembaruan kurikulum, peningkatan sarana simulator, serta penguatan riset terapan maritim menjadi langkah penting ke depan.
Selain itu, keterlibatan aktif dalam pengabdian kepada masyarakat pesisir dan program pelatihan pelaut lokal menunjukkan keberpihakan lembaga ini terhadap pembangunan maritim yang berkelanjutan.
Eksistensi Poltekpel Barombong, tidak dapat dilepaskan dari sejarah panjang perjuangan pemerataan pendidikan tinggi maritim di Indonesia.
Dari Kawasan Timur, lembaga ini tumbuh sebagai simbol dedikasi negara untuk mencetak SDM pelaut yang profesional, adaptif, dan berwawasan global.
Dengan pondasi historis yang kuat, Poltekpel Barombong diharapkan terus menjadi lokomotif pengembangan pendidikan vokasi maritim menuju Indonesia Emas 2045.(*)




