SINJAI, UPEKS.co.id — Harapan masyarakat terhadap dua sentra industri di Kabupaten Sinjai yang digadang-gadang akan menyerap ratusan tenaga kerja lokal masih jauh dari kenyataan. Setelah proyek pembangunannya rampung tahun 2022, dua sentra industri yakni sentra industri pengolahan hasil peternakan di Kecamatan Sinjai Selatan dan sentra industri pengolahan logam di Kecamatan Bulupoddo hingga kini belum beroperasi secara optimal, bahkan cenderung terbengkalai.
Padahal, keberadaan dua sentra tersebut semula dirancang untuk menjadi penggerak ekonomi lokal dan menyerap banyak tenaga kerja dari kalangan Industri Kecil Menengah (IKM).
Sentra industri pengolahan hasil peternakan dipastikan akan melibatkan setidaknya 19 kelompok IKM, dengan masing-masing kelompok beranggotakan lima orang. Mereka direncanakan memproduksi berbagai olahan hasil peternakan, seperti bakso sapi dan ayam, daging beku, nugget, sosis, kerupuk kulit, pengolah limbah tulang untuk pakan ternak, abon daging, hingga cornet.
Sementara itu, sentra industri logam dirancang untuk menyerap 10 kelompok IKM yang akan memproduksi peralatan seperti pisau, parang, cangkul, sabit, dan berbagai perkakas logam lainnya. Namun hingga kini, aktivitas produksi belum berjalan sebagaimana harapan.
Plt Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sinjai, A. Irwan Syahrani, dalam rapat gabungan komisi DPRD Sinjai pada Senin (16/6/2025), menjelaskan sejumlah penyebab belum optimalnya operasional kedua sentra tersebut.
Untuk sentra logam, kendala utamanya adalah minimnya pasokan bahan baku pembakaran, serta kurangnya permintaan dari konsumen karena pemasarannya hanya terbatas di Pasar Sentral Sinjai. Selain itu, domisili para pengrajin yang cukup jauh dari lokasi sentra menyebabkan biaya operasional semakin tinggi dan menurunkan minat untuk berproduksi.
Adapun untuk sentra pengolahan hasil peternakan, Irwan menyebutkan bahwa permintaan terhadap produk olahan yang dihasilkan masih sangat minim. Ditambah lagi, akses jalan menuju sentra tersebut dinilai masih kurang layak dan membutuhkan perbaikan agar distribusi dan mobilitas pelaku usaha menjadi lebih efisien.
Menanggapi hal ini, anggota DPRD Sinjai, Andi Rusmiati Rustham, S.T., menyayangkan kondisi sentra yang tidak dimanfaatkan secara maksimal, meskipun telah dilengkapi dengan fasilitas memadai.
“Gedung dan peralatan yang terdapat di sentra hasil peternakan sangatlah bagus, tapi percuma bagus kalau fungsinya tidak dipergunakan dengan maksimal,” tegas Rusmiati.
Ia menyarankan agar pemerintah tidak hanya fokus pada pembangunan fisik, namun juga serius dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia.
“Untuk lebih mengoptimalkan fungsi sentra, harus ditunjang dengan SDM yang lebih baik. Oleh karena itu, sangat diperlukan pelatihan-pelatihan bagi pelaku IKM agar mereka mampu mengelola dan menjalankan usaha secara profesional,” tambahnya.
Rapat gabungan komisi ini menegaskan kembali pentingnya langkah konkret pemerintah daerah dalam menghidupkan sentra industri yang terbengkalai, sekaligus mendorong sektor industri kecil sebagai tulang punggung peningkatan ekonomi dan Pendapatan Asli Daerah (PAD).(Awl)

