MAKASSAR, UPEKS.co.id — Dewan Pengurus Cabang (DPC) Himpunan Pemuda Pelajar Mahasiswa Sinjai
(HIPPMAS) Tellulimpoe gelar Bazaar dan beda buku “Kepada Jauh yang Dekat” di Warkop Cappo, Sabtu Malam (1/2/2020).
Penulis Buku “Kepada Jauh yang Dekat” Arief Balla mengatakan Buku Kepada Jauh yang Dekat sedikit menceritakan bagaimana nilai-nilai Bugis, Sipakatau, Sipakainge, Sipakalebbi pada dasarnya dekat dengan masyarakat orang Bugis namun nilai-nilai ini saat ini sudah mulai jauh dari masyarakat.
“Nilai Sipakatau Sipakainge, Sipakalebbi merupakan salah satu point yang saya ingin sampaikan dalam buku Kepada Jauh yang Dekat, mengapa saya ingin sampaikan? Kita bisa melihat prakteknya saat ini sangat jauh dari nilai-nilai tersebut,” ungkap Arief.
Ketua Bidang Organisasi DPD IMM Sulsel Nur Maulana Azis menuturkan Buku Karya Arif Balla “Kepada Jauh yang Dekat” menceritakan berbagai hal, salah satunya bagaimana seseorang harus berusaha dalam menggapai cita-cita.
“Buku Kepada “Jauh yang Dekat” karya Arief Balla, memberikan motivasi untuk selalu berusaha, dan saya kira ini menjadi cerminan dari seorang Arief Balla,” ungkapnya.
Lebih jauh Nur Maulana Azis menjelaskan Buku “Kepada Jauh yang Dekat” menceritakan bagaimana seorang Arief Balla mampu memprediksi apa yang akan dilakukan pada masa yang akan datang dan apa yang diprediksi tersebut dirinya mampu capai.
“Dan saya kira apa yang menjadi prediksi atau cita-cita seorang Arief Balla saat ini sudah tercapai dan ini sangat memotivasi bagi seluruh anak muda utamanya pemuda berasal dari Kabupaten Sinjai,” tandasnya.
Hal tersebut dapat terealisasi sambung Nur Maulana Azis, tentu perlu adanya kerja keras dan usaha. Meskipun seorang pemuda background-nya berasal dari Daerah bukan berarti harus tinggal diam atau tinggal kelas.
“Kita harus melangkah tidak boleh tinggal kelas sehingga apa yang menjadi harapan dapat tercapai,” ucapnya.
Ia juga mengatakan yang menarik dalam buku Kepada Jauh yang Dekat, kritikan-kritikan yang disampaikan kepada penulis sangat membuka pikiran utamanya kritikan budaya.
“Kritik budaya, ini membuat keterbukaan pikiran kita bahwa budaya kita saat ini tidak baik-baik saja,” tutupnya. (Rasak).




