MAKASSAR, UPEKS.co.id— Mahasiswa Pendidikan Agama Islam di Institut Parahikma Indonesia menggelar Seminar Pendidikan yang bertema ”Sistem Pendidikan Amerika Serikat (AS)” Kamis pagi (31/12/2020).
Seminar ini sebenarnya adalah salah satu pertemuan pada mata kuliah Kebijakan Pendidikan Barat dimana salah satu topiknya sistem pendidikan Amerika Serikat pada mahasiswa semester 5 jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI).
Berbeda dengan topik-topik lain, pertemuan ini diubah menjadi seminar dengan menghadirkan narasumber yang sedang menempuh dan mendalami sistem pendidikan terutama kurikulum Amerika Serikat. Petra Kristi Mulyani kini sedang mengambil program Ph.D ada Curriculum and Instruction di Southern Illinois
University, Amerika Serikat melalui beasiswa Fulbright-DIKTI.
Jenjang program masternya juga diraih di Amerika Serikat tepatnya di University of Arkansas. Seminar ini diadakan lewat Google Meet dengan Petra sendiri masih di Boston, Massachusetts, Amerika Serikat.
Petra Mulyani mengatakan, untuk bisa melanjutkan jenjang pendidikan di luar negeri tentunya perlu pemahaman tentang sistem pendidikan yang akan kita tuju nantinya untuk menempuh pendidikan agar dapat membuat rencana kedepannya sehingga tidak akan perlu kaget jika sudah berada di suatu negara yang memiliki sistem pendidikan yang berbeda dengan sistem pendidikan di Indonesia.
Yah, salah satunya mungkin ada yang bercita—cita melanjutkan pendidikannya di Amerika Serikat.
Membincangkan pendidikan Amerika Serikat tidak mudah dalam waktu singkat sebab ada 50 negara bagian dan setiap negara bagian punya keunikan atau sistem sendiri. Meski demikian, sistem Pendidikan di Amerika Serikat, dalam beberapa hal, hampir sama dengan sistem pendidikan di Indonesia di mana terdapat TK, SD, SMP dan SMA namun yang membedakannya ialah dari tingkat SD nya yang memiliki 3 macam yaitu ada yang hanya sampai kelas 3, kelas 5, dan kelas 8.
“Kemudian terdapat satu hal lagi yang membedakannya yaitu di semua SMA di Amerikat Serikat memiliki sistem yang mana peserta didiknya sudah disiapkan untuk dapat turun langsung kelapangan pekerjaan atau kalau di Indonesia kita sebut SMK,” ujar Petra Mulyani.
Amerika Serikat juga sangat selektif dalam penilaian untuk maju ke jenjang college atau university yang mana tedapat syarat dan standar nilai untuk lanjut.
Nah, hal itulah yang menyebabkan hanya sekitar 87% yang lulus di jenjang SMA kemudian bisa melanjutkan pendidikan di universitas.
Terdapat beberapa hal yang menarik dari Amerika Serikat yaitu kita tidak perlu khawatir mengenai bahasa jika melanjutkan pendidikan di Amerika Serikat karena Amerika Serikat tidak memiliki bahasa nasional. Tidak perlu khawatir jika dialek Bugis atau Makassar.
Hal yang menarik lainnya yaitu di Amerika Serikat memiliki program yang disebut No Child Left Behind, “tidak ada satupun anak yang tertinggal” dalam hal pendidikannya walaupun dengan background berbeda.
Maksudnya pendidikan yang sebenarnya adalah yah seperti itu dimana semua anak dari latar belakang berbeda atau yang
lainnya memiliki hak untuk berpendidikan.
Di salah satu kampus Amerika Serikat memiliki larangan untuk membedakan mahasiswa, penilaian berbeda, maupun latar belakang dalam hal ini dapat disebut bahwa pemerintah Amerika Serikat memfasilitasi keberagaman di Amerika Serikat.
Jika berbicara mengenai karakter peserta didik di Amerika Serikat mereka sudah diajarkan dan ditanamkan sejak dini (pengkondisian) untuk saling menghormati sebagai contoh anak SD nya pada saat istirahat atau pindah kelas ke ruang olahraga maupun yang lainya, anak yang berada paling depan akan membuka pintu untuk teman-teman di belakangnya. Maka dapat disimpulkan bahwasanya pendidikan karakter di Amerika Serikat awalnya dikondisikan kemudian baru adanya konstruktivisme.
Pembiasaan seperti ini berlangsung hingga mereka tumbuh dewasa dan menjadi bagian dari masyarakat sebab sudah menjadi sistem budaya. Maka ketika mereka melanggar mereka akan mendapat tekanan sosial yang berat dari masyarakat.
“Kita beruntung ada pendidikan agama di Indonesia sehingga seharusnya pendidikan agama ini membantu penanaman nilai-nilai yang bersumber dari agama,” ujar Petra Mulyani. (jir)




