Kemarau Panjang Kepung Enrekang, Krisis Air Bersih hingga Ancaman Kekeringan Sawah Dan Perkebunan

Kemarau Panjang Kepung Enrekang, Krisis Air Bersih hingga Ancaman Kekeringan Sawah Dan Perkebunan

ENREKANG, UPEKS.co.id — Kemarau panjang yang melanda Kabupaten Enrekang mulai memberikan dampak nyata terhadap kehidupan masyarakat. Debit sumber air yang terus menurun menyebabkan sejumlah wilayah mengalami kesulitan mendapatkan air bersih.

Di saat yang sama, kondisi lahan yang semakin kering meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), sementara sektor pertanian juga mulai menghadapi ancaman kekeringan yang dapat berujung pada gagal panen.

Bacaan Lainnya

Kondisi tersebut membuat sejumlah instansi dan unsur terkait di Kabupaten Enrekang bergerak bersama melakukan penanganan dan mengantisipasi dampak kemarau panjang yang dipengaruhi fenomena El Nino.

Plt Direktur Perum Air Minum Tirta Massenrempulu Kabupaten Enrekang, Gaswan, mengatakan berkurangnya debit air dari sumber utama membuat pihaknya harus menerapkan sistem buka tutup dalam penyaluran air kepada pelanggan.

“Kemarau panjang ini menyebabkan debit air dari sumbernya sudah mulai melemah dan karena itu kami memberlakukan sistem buka tutup. Semisal ada daerah yang kami buka pada pagi hingga sore, kemudian di tempat lain kami buka pada malam hari,” kata Gaswan.

Menurutnya, sistem tersebut dilakukan agar distribusi air tetap dapat menjangkau masyarakat secara bergantian. Selain itu, Perum Air Minum Tirta Massenrempulu juga setiap hari mendistribusikan air menggunakan armada tangki kepada warga yang rumahnya sudah tidak mampu dijangkau aliran air.

“Selain itu kami juga aktif setiap hari melakukan pembagian air ke rumah-rumah yang sudah tidak mampu dijangkau aliran air dari PDAM,” ujarnya.

BPBD dan Tim Gabungan Bergerak

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Enrekang, Syamsul Bahri, mengatakan penanganan dampak kemarau dilakukan secara bersama-sama dengan melibatkan berbagai unsur.

Selain membantu distribusi air bersih kepada masyarakat, tim juga aktif melakukan penanganan kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah.

“Ini kami lakukan dan semua unsur terlibat sehingga kami bergerak bersama, termasuk dari Kepolisian mulai dari Polres sampai ke tingkat Polsek,” ujar Syamsul Bahri.

Sementara itu, Kasatpol PP, Damkar dan Penyelamatan Kabupaten Enrekang, Baharuddin, mengungkapkan bahwa pemerintah daerah telah melakukan langkah antisipasi sejak akhir Mei 2026.

Menurutnya, Wakil Bupati Enrekang sejak saat itu telah mengingatkan jajaran pemerintah daerah mengenai potensi kemarau panjang atau fenomena El Nino. Pemerintah daerah kemudian membentuk Satgas Penanggulangan Dampak El Nino.

“Semenjak akhir bulan Mei, Wakil Bupati Enrekang sudah wanti-wanti untuk memasuki kemarau panjang atau fenomena El Nino dan membentuk Satgas Penanggulangan Dampak El Nino. Saat itu kami dari Satpol PP, Damkar dan Penyelamatan sudah mulai membenahi armada tangki untuk siap beroperasi,” kata Baharuddin.

Setelah kemarau mulai dirasakan masyarakat, permintaan bantuan air bersih pun meningkat. Petugas mulai masuk ke desa-desa untuk memenuhi kebutuhan air warga.

“Setelah dilanda kemarau panjang, banyak masyarakat yang mengeluh kekurangan air bersih dan kami mulai masuk ke desa-desa untuk menyuplai kebutuhan air. Desa yang meminta segera kami layani,” ujarnya.

Baharuddin menyebut permintaan air bersih tertinggi saat ini berasal dari Kecamatan Buntu Batu, Alla, Baraka dan Baroko.

Sawah Mulai Mengering

Tidak hanya kebutuhan rumah tangga, kekeringan juga mulai dirasakan sektor pertanian. Sejumlah masyarakat bahkan meminta bantuan air untuk mengairi lahan persawahan mereka.

Di Kecamatan Enrekang, tepatnya Desa Cemba, terdapat sawah yang mulai mengering dan mengalami retak-retak. Sementara di Desa Botto Malangga, Kecamatan Maiwa, terdapat persawahan yang diperkirakan sekitar satu pekan lagi memasuki masa panen, namun sudah mengalami kekeringan.

“Ada juga beberapa titik yang meminta sawahnya diairi. Di Kecamatan Enrekang, Desa Cemba, sawahnya sudah kering dan retak. Kemudian di Maiwa, Desa Botto Malangga, ada sawah yang seminggu lagi panen tetapi sudah mengalami kekeringan. Ini kategori nonkebakaran,” jelas Baharuddin.

Kondisi tersebut menjadi perhatian Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (TPHP) Kabupaten Enrekang.

Kepala Dinas TPHP Kabupaten Enrekang, Ikbar Ashadi, mengatakan pemerintah daerah telah mengambil langkah antisipasi sejak Mei 2026 melalui kebijakan percepatan tanam.

“Sejak Mei 2026, berdasarkan kebijakan Bupati Enrekang, telah diterbitkan surat edaran percepatan tanam dalam rangka mengantisipasi El Nino,” kata Ikbar.

Berdasarkan data Dinas TPHP, pertanaman padi periode Mei hingga Agustus 2026 mencapai sekitar 4.973 hektare. Sementara luas lahan yang diperkirakan memasuki masa panen pada Agustus hingga September 2026 mencapai kurang lebih 2.600 hektare.

Namun, di tengah kondisi kemarau, terdapat sekitar 800 hektare lahan yang berpotensi mengalami kekeringan.

“Untuk pertanaman padi bulan Mei sampai Agustus 2026 seluas 4.973 hektare dan perkiraan panen Agustus sampai September seluas kurang lebih 2.600 hektare. Adapun luas lahan yang berpotensi mengalami kekeringan sekitar 800 hektare,” jelasnya.

Untuk menekan dampak kekeringan, Dinas TPHP melakukan sejumlah langkah, mulai dari penyediaan pompa pada lahan sawah yang masih memiliki sumber air, pemanfaatan sumur bor, rehabilitasi jaringan irigasi hingga optimalisasi embung.

Pengamatan di lapangan juga ditingkatkan dengan melibatkan penyuluh pertanian lapangan (PPL) bersama pemerintah daerah.

“Untuk mengantisipasi dampak tersebut, kami melakukan beberapa langkah, yaitu penyediaan pompa pada lahan sawah yang memiliki sumber air, sumur bor, rehabilitasi irigasi dan embung, serta meningkatkan intensitas pengamatan di lapangan bersama PPL dan Pemerintah Kabupaten Enrekang,” ujarnya.

Karhutla Mengancam

Selain kekeringan lahan pertanian, kemarau panjang juga meningkatkan ancaman kebakaran hutan dan lahan.

Salah satu kebakaran terbesar yang terjadi tahun ini berada di kawasan Gunung Bambapuang, Kecamatan Anggeraja.

Baharuddin mengatakan, petugas pemadam kebakaran bahkan harus bermalam di lokasi kejadian untuk memastikan kobaran api tidak merambat ke permukiman dan lahan pertanian warga.

“Kebakaran terbesar tahun ini ada di Gunung Bambapuang, Kecamatan Anggeraja. Petugas pemadam kebakaran bermalam di TKP untuk menjaga api tidak merambat ke permukiman dan lahan pertanian warga,” katanya.

Untuk memastikan kesiapsiagaan menghadapi bencana, pemeriksaan terhadap armada dan peralatan dilakukan secara berkala.

Saat ini, Satpol PP, Damkar dan Penyelamatan Kabupaten Enrekang memiliki lima unit armada pemadam kebakaran dan dua unit armada tangki.

“Semua armada dan peralatan setiap saat diperiksa secara berkala agar ketika dibutuhkan tidak bermasalah dan siap beroperasi ketika terjadi bencana,” jelas Baharuddin.

Dalam proses pendistribusian air bersih, Baharuddin juga mengatakan terdapat masyarakat yang secara sukarela memberikan bantuan untuk pembelian BBM bagi kendaraan operasional.

Ia menegaskan bantuan tersebut bukan permintaan petugas, melainkan inisiatif masyarakat sebagai bentuk ucapan terima kasih atas pelayanan yang diberikan.

“Pada saat kami menyuplai air bersih, ada masyarakat yang kadang memberikan untuk pembelian BBM. Ini tanpa diminta oleh petugas, melainkan inisiatif dari masyarakat sendiri. Ini sebagai ucapan rasa terima kasih warga untuk petugas,” ujarnya.

Dinkes: Belum Ada Peningkatan Penyakit Saluran Pernapasan

Di tengah kondisi kemarau panjang, dampak terhadap kesehatan masyarakat juga menjadi perhatian. Namun, hingga saat ini belum ditemukan peningkatan kasus penyakit saluran pernapasan yang berkaitan dengan kondisi kemarau tersebut.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Enrekang, H. Sabir, mengatakan kondisi penyakit saluran pernapasan masih nihil.

“Dampak kemarau berkepanjangan di Enrekang terhadap kesehatan, terutama penyakit saluran pernapasan, sampai saat ini masih nihil,” kata H. Sabir.

Meski demikian, Dinas Kesehatan telah mengambil langkah antisipasi untuk melindungi para petugas yang setiap hari berada di lapangan dan berpotensi terpapar debu maupun asap dari kebakaran.

Salah satunya dengan membagikan masker kepada petugas yang terlibat dalam penanggulangan dampak kemarau.

“Kami sudah melakukan antisipasi dengan membagikan masker, terutama kepada para petugas yang aktif melakukan penanggulangan seperti Satpol PP, BPBD, PDAM, Kepolisian dan semua tim Satgas,” ujarnya.

Dengan kondisi kemarau yang masih berlangsung, pemerintah daerah bersama seluruh unsur terkait terus meningkatkan kesiapsiagaan. Distribusi air bersih, pemantauan lahan pertanian, pengendalian karhutla hingga perlindungan kesehatan menjadi langkah penting untuk menekan dampak kemarau panjang yang dirasakan masyarakat Enrekang.

Masyarakat juga diimbau tetap menghemat penggunaan air, meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran serta segera melaporkan apabila menemukan titik api maupun kondisi kekeringan yang membutuhkan penanganan. (Sry)