Tujuh Dekade Gobel: Menghidupkan Industri, Menggerakkan Pertanian, Membangun Indonesia

Tujuh Dekade Gobel: Menghidupkan Industri, Menggerakkan Pertanian, Membangun Indonesia

“Tujuh dekade bukan sekadar hitungan waktu. Bagi Gobel, 70 tahun adalah perjalanan panjang tentang nasionalisme, inovasi, dan komitmen membangun Indonesia dari berbagai sektor kehidupan,”

 

Bacaan Lainnya

LAPORAN: MAHATIR MAHBUB
—————————————
MAKASSAR

Tujuh puluh tahun bukan sekadar hitungan waktu. Ia adalah perjalanan panjang yang dipenuhi kerja keras, keberanian mengambil keputusan, dan keyakinan bahwa kemajuan bangsa hanya dapat dibangun melalui karya nyata.

Selama tujuh dekade, Gobel telah menjadi bagian dari kisah Indonesia—tumbuh bersama masyarakat, menghadapi berbagai tantangan zaman, dan terus berupaya menghadirkan manfaat bagi kehidupan banyak orang.

Di balik setiap mesin yang beroperasi di pabrik, terdapat tangan-tangan pekerja yang menggantungkan harapan bagi keluarganya. Di balik setiap inovasi industri, ada semangat untuk menciptakan lapangan kerja, meningkatkan daya saing bangsa, dan memastikan Indonesia mampu berdiri sejajar dengan negara-negara maju. Bagi Gobel, industri bukan sekadar menghasilkan produk, melainkan membangun masa depan.

Pimpinan Panasonic Grup Gobel yang saat ini menjabat Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi Partai NasDem, Rachmat Gobel, meminta pemerintah memberikan perhatian serius terhadap kondisi ekonomi Indonesia yang sedang menghadapi tantangan berat akibat dinamika geopolitik dunia, termasuk dampak konflik Iran-Amerika Serikat yang memengaruhi berbagai sektor.

“Indonesia adalah pasar yang sangat besar. Ini adalah keunggulan yang tidak dimiliki banyak negara Asia lainnya. Semestinya pemerintah lebih fokus melindungi pasar dalam negeri sebagai insentif utama bagi industri nasional,” ungkap Gobel saat memberikan pidato pada Apel Besar 17-an di Panasonic Gobel Group, di Jakarta, Selasa (19/5/2026).

Apel besar 17-an tersebut juga dihadiri Menteri Tenaga Kerja, Yassirle serta ribuan karyawan perusahaan elektronik tersebut. Di grup Panasonic Gobel Group, setiap tanggal 17 selalu diadakan upacara bendera. Hal itu sudah menjadi tradisi yang diwariskan Thayeb M Gobel selaku pendiri perusahaan.

Upacara 17-an tersebut tidak hanya dilakukan pada bulan Agustus. Upacara itu untuk menanamkan sikap patriotik, nasionalisme, dan sekaligus menjadi konsolidasi nilai-nilai budaya kerja.

Khusus bulan Mei ini upacara 17-an menjadi apel besar karena menjadi bagian dari kegiatan bulan Hubungan Industrial Pancasila dan 70 Tahun Gobel Membangun Negeri. Apel tersebut juga dihadiri M Arif Gobel, Direktur Utama Panasonic Manufacturing Indonesia Daniel Suhardiman, dan Presiden Federasi Serikat Pekerja Panasonic Gobel Joko Wahyudi.

Dalam kesempatan tersebut, Gobel juga menyoroti maraknya impor ilegal yang sangat besar, ditambah lagi dengan dibukanya keran impor resmi untuk produk-produk seperti tekstil, handicraft, dan mebel. Khusus untuk barang elektronik, Gobel menyampaikan pesan tegas. “Kalau barang elektronik sudah diproduksi di Indonesia, jangan diimpor lagi, Pak. Cukup itu yang saya minta,” tegas Gobel.

Menurut Gobel, industri bukan sekadar tempat membuat barang. Dalam situasi damai, industri adalah industri kesejahteraan yang menciptakan lapangan kerja dan kesejahteraan rakyat. Namun dalam kondisi darurat seperti sekarang, industri juga harus berfungsi sebagai industri pertahanan yang menjaga ketahanan ekonomi bangsa.

Di akhir sambutannya, Gobel menegaskan bahwa suaranya ini murni untuk menjaga semangat para pekerja. “Saya bersuara seperti ini bukan hanya untuk karyawan di Panasonic saja, tapi untuk seluruh pelaku industri di Tanah Air. Kita harus jaga semangat mereka agar tetap optimis dan produktif meski menghadapi tekanan global yang berat,” tutup Gobel.

Pada kesempatan itu, Menaker juga meresmikan Ebu Center. Yaitu pusat studi yang mendokumentasikan nilai-nilai perusahaan yang diajarkan Konosuke Matsushita dan Thayeb M Gobel. Matsushita adalah pendiri Panasonic dan Gobel adalah pendiri Gobel Group. Dua tokoh ini melakukan kerja sama dengan mendirikan Panasonic Gobel Group.

Matsushita terkenal dengan Filosofi Air Mengalir, sedangkan Gobel terkenal dengan Filosofi Pohon Pisang. Air mengajarkan tentang memberi kehidupan, sedangkan pohon pisang mengajarkan manfaat bagi kehidupan.

 

Komitmen Terhadap Sektor Pertanian

Kontribusi Gobel tidak berhenti pada pengembangan sektor industri. Perusahaan juga aktif membangun kolaborasi di bidang pertanian, pendidikan, pengembangan sumber daya manusia, hingga pemberdayaan masyarakat.

Di sektor pertanian, berbagai kemitraan dengan pemerintah daerah dan pemangku kepentingan dilakukan untuk mendukung modernisasi pertanian, meningkatkan produktivitas, serta memperkuat kesejahteraan petani.

Tujuh Dekade Gobel: Menghidupkan Industri, Menggerakkan Pertanian, Membangun Indonesia
Rachmat Gobel bersama Bupati Kabupaten Sidrap yang juga Ketua DPW Partai NasDem Sulawesi Selatan (Sulsel) Syaharuddin Alrif (Syahar) mengadakan silaturahim dan menjajaki peluang kerja sama antara dua provinsi di Sulawesi tersebut.

 

Salah satunya ketika Rachmat Gobel bersama Bupati Kabupaten Sidrap yang juga Ketua DPW Partai NasDem Sulawesi Selatan (Sulsel) Syaharuddin Alrif (Syahar) mengadakan silaturahim dan menjajaki peluang kerja sama antara dua provinsi di Sulawesi tersebut.

“Dunia sedang dihadapkan pada masalah pangan, karena itu kedua daerah harus bersinergi untuk saling memajukan. Sulawesi Selatan mengalami surplus beras dan telur ayam. Ini peluang untuk dikirim ke Gorontalo. Sedangkan Gorontalo surplus jagung dan gula aren yang bisa dikirim ke Sidrap,” ungkap Gobel di Senayan, Jakarta, Kamis (5/2/2026).

Dalam pertemuan tersebut, Gobel mengatakan, berpolitik lebih bermanfaat jika fokus pada pembangunan dan berkarya nyata. Ia sendiri mengambil jargon politik pembangunan dan politik kesejahteraan. Di tengah krisis pangan dunia, perubahan iklim, dan ketegangan geopolitik dunia, katanya, maka semua pihak harus lebih produktif dalam berpolitik.

“Perbanyak karya nyata, bukan karya kata. Jangan cuma sibuk membangun tangga politik kekuasaan yang hanya menghasilkan politik gontok-gontokan, intrik, klik-klik politik, dan perkoncoan. Kita harus lebih banyak bersinergi dan berkontribusi secara sosial di akar rumput bersama masyarakat,” katanya.

Saat ini, kata Gobel, masyarakat sedang dihadapkan pada kehidupan yang berat akibat tekanan ekonomi global serta keterbatasan anggaran pemerintah. Lapangan kerja makin susah dan pengangguran pun masih tinggi.

“Khusus untuk Indonesia timur, dalam hal ini termasuk Sulawesi, adalah wilayah yang paling tertinggal di bandingkan dengan wilayah barat. Karena itu kerja sama Timur-Timur dalam konteks Indonesia harus dikuatkan. Siapa yang menolong diri kita selain diri sendiri. Gorontalo dan Sulawesi Selatan siap bersinergi dan berkolaborasi untuk memajukan kampung halaman,” katanya.

Gobel mengakui sebagai anggota DPR dirinya sangat peduli di sektor pangan, pertanian, kelautan, perkebunan, dan UMKM. “Dalam lima tahun terakhir ini saya fokus di bidang-bidang tersebut,” katanya.

Oleh karena itu ia mengajak Bupati Sidrap untuk bertukar pengalaman dan berbagi pengetahuan bagi kemajuan bersama. Beberapa waktu lalu, ia telah mengajak politisi Partai NasDem Provinsi Gorontalo berkunjung ke Kota Bandung dan Kota Sukabumi.

Setelah itu, giliran Wali Kota Sukabumi Ayep Zaki yang berkunjung ke Gorontalo. Dua daerah ini bersinergi mengadakan kerja sama di bidang pertanian kacang kedelai dan industri tempe. “Gorontalo siap memasok kacang kedelai dan Sukabumi siap menampungnya untuk diolah menjadi tempe. Nah, mari kita kaji apa yang bisa dikerjasamakan antara Gorontalo dan Sidrap,” katanya.

Jejak Panjang Gobel untuk Indonesia

Perjalanan Gobel menjadi salah satu kelompok usaha terkemuka di Indonesia berawal dari sebuah langkah sederhana namun visioner. Berawal dari sebuah pabrik radio sederhana di Cawang pada 1954, Gobel tumbuh menjadi salah satu kelompok usaha nasional yang berkontribusi dalam industri manufaktur, teknologi, ketenagakerjaan, pendidikan, hingga penguatan ekonomi nasional.

Semua bermula dari mimpi besar almarhum Drs. H. Thayeb Mohammad Gobel yang ingin menghadirkan alat komunikasi karya anak bangsa. Melalui PT Transistor Radio Manufacturing, lahirlah radio transistor pertama Indonesia dengan merek “Tjawang”, sebuah produk yang menjadi simbol kebangkitan industri elektronik nasional di masa awal kemerdekaan.

Langkah visioner tersebut kemudian membawa Thayeb Gobel menjalin kerja sama dengan pendiri Matsushita Electric, Konosuke Matsushita, yang menjadi tonggak lahirnya kemitraan Indonesia–Jepang dalam industri elektronik.

Kerja sama yang dimulai pada 1960 itu berkembang menjadi salah satu kolaborasi bisnis bilateral paling sukses di Asia dan melahirkan berbagai inovasi yang dinikmati masyarakat Indonesia hingga hari ini.

Tidak hanya menghadirkan radio, Gobel juga tercatat memproduksi televisi pertama di Indonesia pada 1962 sehingga masyarakat dapat menyaksikan perhelatan Asian Games Jakarta. Langkah ini menjadi bukti bahwa teknologi bukan sekadar produk, melainkan jembatan yang menghubungkan masyarakat Indonesia dengan dunia.

Memasuki era industri modern, kemitraan Panasonic-Gobel terus memperkuat kapasitas manufaktur nasional. Berbagai produk elektronik rumah tangga diproduksi di dalam negeri dengan tingkat kandungan lokal yang terus meningkat.

Hasilnya tidak hanya memenuhi kebutuhan pasar domestik, tetapi juga menembus pasar ekspor dan menyumbang devisa negara. Kontribusi ini sekaligus membuka lapangan kerja bagi ribuan tenaga kerja Indonesia dan memperkuat daya saing industri nasional di pasar global.

Namun kontribusi Gobel tidak berhenti pada sektor industri. Filosofi perusahaan yang diwariskan pendirinya menempatkan manusia sebagai pusat pembangunan. Melalui berbagai program pengembangan sumber daya manusia, hubungan industrial yang harmonis, serta budaya kerja yang menjunjung tinggi nasionalisme, Gobel berupaya menciptakan ekosistem usaha yang memberi manfaat bagi pekerja, masyarakat, dan bangsa.

Semangat kebangsaan itu bahkan tetap terjaga hingga kini. Tradisi upacara bendera setiap tanggal 17 yang diwariskan oleh pendiri perusahaan menjadi simbol bahwa bisnis dan nasionalisme dapat berjalan beriringan. Pada peringatan “70 Tahun Gobel Membangun Negeri” tahun 2026, nilai-nilai patriotisme, kemandirian ekonomi, dan keberpihakan pada industri dalam negeri kembali ditegaskan sebagai fondasi perjalanan perusahaan ke depan.

Kini, setelah 70 tahun melangkah bersama Indonesia, Gobel bukan hanya dikenal sebagai pelopor industri elektronik nasional. Lebih dari itu, Gobel telah menjadi bagian dari perjalanan pembangunan bangsa—menghubungkan teknologi dengan kehidupan masyarakat, menciptakan lapangan kerja, memperkuat industri nasional, serta menanamkan nilai-nilai kebangsaan kepada generasi penerus.

Dari radio “Tjawang” hingga era transformasi digital, perjalanan Gobel membuktikan bahwa sebuah perusahaan dapat tumbuh besar tanpa meninggalkan akar nasionalismenya. Tujuh puluh tahun membangun negeri bukanlah akhir perjalanan, melainkan awal dari kontribusi yang lebih besar bagi Indonesia masa depan.(*)