“Bagi banyak anak Indonesia dari keluarga miskin dan miskin ekstrem, pendidikan sering kali menjadi mimpi yang harus bersaing dengan kerasnya realitas hidup. Namun kini, secercah harapan itu hadir melalui Program Sekolah Rakyat gagasan Presiden Prabowo Subianto yang dijalankan Kementerian Sosial (Kemensos) Republik Indonesia”.
LAPORAN: MAHATIR MAHBUB
—————————————–
KABUPATEN GOWA
Jarum jam baru menunjukkan Pukul 04.30 Waktu Indonesia Tengah (WITA), Senin (15/6/2026). Langit masih gelap ketika suara alarm mulai berbunyi dari berbagai sudut asrama.
Satu per satu siswa Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 24 Kabupaten Gowa, bangun dari tempat tidur mereka. Mata yang masih berat segera dibasuh air segar. Hari baru dimulai.
Di SRMP 24 Gowa yang berlokasi di Jalan Poros Malino KM 29, Batu Alang, Kelurahan Borongloe, Kecamatan Bontomarannu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, pagi bukan sekadar awal aktivitas. Pagi adalah latihan kedisiplinan, kemandirian, dan tanggung jawab.
Sebelum matahari menampakkan sinarnya, para siswa sudah bersiap menjalani rangkaian kegiatan yang akan menemani mereka hingga sore hari. Usai salat Subuh berjamaah dan doa bersama, suasana asrama berubah menjadi lebih hidup. Beberapa siswa terlihat merapikan tempat tidur, menyapu kamar, dan membersihkan lingkungan sekitar. Tak ada yang berpangku tangan. Semua memiliki peran.
“Awalnya terasa berat bangun pagi seperti ini Om, tapi sekarang sudah terbiasa. Rasanya malah lebih semangat,” ujar Ardani, salah satu siswa SRMP 24 Gowa asal Kelurahan Pangkabinanga, Kecamatan Pallangga, Kabupaten Gowa. Ardani merupakan anak dari kategori miskin. Ayahnya Firdaus Daeng Nyonri seorang penjual ikan sementara Ibunya Hartati Daeng Tarring berjualan kue keliling milik tetangga.
Ardani mengatakan, menjelang Pukul 06.00, lapangan sekolah selalu mulai ramai. Udara pagi yang masih sejuk dimanfaatkan para siswa untuk berolahraga ringan dan senam bersama. Bagi seluruh siswa, aktivitas fisik menjadi bagian penting untuk menjaga kesehatan sekaligus membangun kebersamaan.
“Kalau saya memang senang pelajaran PJOK (Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan), karena cita-cita saya ingin jadi Tentara dan masuk Kopassus seperti Pak Prabowo,” sebut Ardani sambil tersenyum.
Ardania mengaku mengetahui Sekolah Rakyat dari Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH). Termasuk sejumlah fasilitas yang diperoleh tanpa dipungut biaya sepeserpun.
“Awalnya saya berkeinginan masuk di SMP Negeri, tapi terkendala biaya karena orang tua tidak mampu. Sampai suatu hari ada pendamping PKH memberitahukan orang tua saya tentang Sekolah Rakyat yang dibangun Pak Prabowo. Katanya semuanya difasilitasi, makan, tempat tinggal, dan seragam, akhirnya ada rasa mau masuk dan Alhamdulillah diterima,” jelasnya.
Setelah berolahraga, para siswa sarapan bersama. Menu sederhana tersaji di ruang makan. Namun, di balik hidangan itu tersimpan pelajaran berharga tentang rasa syukur dan kebersamaan. Mereka makan bersama, saling berbincang, dan berbagi cerita sebelum memasuki kegiatan belajar.
Tepat pukul 07.00, lonceng sekolah berbunyi. Ruang-ruang kelas yang sebelumnya lengang langsung dipenuhi suara guru dan siswa. Proses pembelajaran pun dimulai.
“Di dalam kelas, para siswa tidak hanya belajar mata pelajaran umum seperti Matematika, Bahasa Indonesia, dan Ilmu Pengetahuan Alam. Mereka juga diajarkan bagaimana membangun karakter, menumbuhkan rasa percaya diri, serta mengembangkan keterampilan hidup yang akan menjadi bekal masa depan,” ungkap Kepala SRMP 24 Kabupaten Gowa, Anwar, S.Pd.I, saat ditemui di ruang kerjanya.
Anwar menegaskan, guru-guru di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 24 Kabupaten Gowa hadir bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga pendamping yang memahami perjalanan hidup para siswa. Dengan pendekatan yang hangat dan humanis, mereka berusaha memastikan setiap anak mendapatkan kesempatan yang sama untuk berkembang.
“Di sini kami punya sembilan guru bidang studi umum dan satu guru khusus bidang studi agama. Totalnya ada sepuluh guru. Enam guru berasal dari Kabupaten Gowa, satu dari Kabupaten Polman, Sulawesi Barat (Sulbar), satu dari Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, dan satu lagi asal Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara (Sultra). Mereka tinggal di wisma,” sebutnya.
Anwar menambahkan, selain guru kelas juga ada Wali Asuh sebanyak 21 orang dan Wali Asrama sepuluh orang yang tentunya memiliki peran berbeda. “Wali Asrama mengasuh siswa saat kegiatan di asrama. Kalau Wali Asuh mereka khusus di bidang pendampingan seperti orangtua siswa di rumah. Jika para siswa punya keluh kesah atau ingin membicarakan permasalahannya maka bisa bicara ke Wali Asuh. Jadi, di samping pemenuhan akademik kami juga menanamkan pendekatan karakter,” terangnya.
Menjelang siang, suasana belajar tetap berlangsung dinamis. Diskusi kelompok, praktik keterampilan, hingga berbagai kegiatan kreatif membuat siswa aktif terlibat dalam setiap proses pembelajaran.
Saat azan Zuhur berkumandang, aktivitas kelas dihentikan sejenak. Para siswa melaksanakan ibadah, kemudian menikmati makan siang bersama. Waktu istirahat menjadi kesempatan untuk melepas penat sekaligus mengisi kembali energi.
Memasuki sore hari, kegiatan berlanjut dengan berbagai program pengembangan diri. Ada yang mengikuti pelatihan keterampilan, ada yang berlatih seni dan olahraga, sementara yang lain mengikuti pendampingan belajar atau membaca di perpustakaan.
Di salah satu sudut sekolah, beberapa siswa tampak serius berlatih berbicara di depan umum. Di tempat lain, sekelompok siswa sibuk mengerjakan proyek keterampilan yang melatih kreativitas dan kerja sama. Bagi mereka, Sekolah Rakyat bukan hanya tempat belajar akademik. Sekolah ini adalah ruang untuk menemukan potensi, membangun kepercayaan diri, dan merancang masa depan yang lebih baik.
“Kegiatan belajar di kelas, kami mulai Pukul 07.00 hingga Pukul 15.30 sore. Kami memfasilitasi seluruh siswa dengan laptop selama proses pembelajaran di kelas. Di sela-selanya ada kegiatan ekstrakurikuler seperti pramuka, pencak silat, karate, bulutangkus, futsal, seni musik/seni tari, PIK-R PIK-R atau Pusat Informasi dan Konseling Remaja. Setiap anak wajib mengikuti kegiatan ekstra dan kegiatan keagamaan seperti mengaji, MC/pembawa acara, dan ceramah agama. Termasuk juga belajar memasak,” sebut Anwar lagi.
Menjelang Pukul 16.00, aktivitas mulai berangsur selesai. Bel pulang berbunyi. Anak-anak berhamburan keluar kelas. Matahari perlahan turun ke ufuk barat. Para siswa kembali ke asrama dengan wajah yang tampak lelah, tetapi penuh semangat.
Sehari penuh telah mereka lalui. Dari subuh hingga senja, setiap aktivitas menyimpan pelajaran. Tentang disiplin yang dibangun sejak pagi, tentang ilmu yang dipelajari di kelas, tentang kebersamaan yang tumbuh dalam keseharian, hingga tentang mimpi yang terus dipelihara.
Anwar menyatakan, di Sekolah Rakyat pendidikan tidak hanya berlangsung di depan papan tulis. Pendidikan hadir dalam setiap langkah, setiap kebiasaan, dan setiap usaha kecil yang dilakukan setiap hari.
“Bagi ribuan anak yang mungkin awalnya tidak memiliki kesempatan, kini dengan adanya Sekolah Rakyat menjadi wadah bagi mereka untuk meraih asa, mewujudkan cita-cita demi masa depan yang cerah. Harapan saya, semoga Sekolah Rakyat seperti ini semakin banyak dibangun,” tutur Anwar.
Mencari Anak-anak Putus Sekolah, Bukan Menunggu Mereka Datang

Banyak sekolah menunggu murid datang mendaftar. Tetapi Sekolah Rakyat bekerja sebaliknya, mendatangi anak-anak yang putus sekolah, hidup di jalanan, tinggal di kawasan terpencil, atau berasal dari keluarga yang tak mampu membayar pendidikan.
Program ini menjadi bagian dari ikhtiar pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka guna memutus rantai kemiskinan antargenerasi. Dimana, anak-anak yang sebelumnya membantu orang tua bekerja di sawah, memulung, atau sekadar menghabiskan hari tanpa kegiatan pendidikan, kini kembali duduk di bangku belajar.
Anwar menyebutkan ada 143 siswa dan siswi di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 24 Kabupaten Gowa. Rinciannya: 92 siswa laki-laki dan 51 siswi perempuan. Seluruh siswa berasal dari 18 Kecamatan se Kabupaten Gowa dengan latar belakang orang tua yang hampir sama.
“Kalau di Sekolah Rakyat, kan tidak ada jalur pendaftaran atau seleksi mandiri. Penetapan dilakukan melalui penjangkauan langsung (jemput bola) oleh petugas ke lapangan berbasis Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DPSN), dengan fokus pada anak dari keluarga miskin/sangat miskin, putus sekolah, atau yang belum pernah mengenyam pendidikan formal. Jadi, kami di sini hanya menerima siswa yang telah ditetapkan tadi,” terangnya.
“Begitupun dengan tenaga pengajarnya yang semuanya melalui seleksi nasional,” sambung Anwar lagi.
Adapun fasilitas yang disediakan bagi siswa mencakup biaya pendidikan penuh, tempat tinggal di asrama, makan sehari-hari, hingga seragam dan perlengkapan belajar. “Mereka (siswa) hanya membawa pakai sehari-hari,” katanya.
“Kalau latar belakang orang tua siswa berbagai macam, tapi pada umumnya hampir sama. Ada yang pemulung, petani penggarap, bahkan ada yang sama sekali tidak punya pekerjaan. Rata-rata mereka (siswa) ini orang yang terpinggirkan. Ada juga yang bermasalah di keluarganya seperti broken home, bahkan ada yang sama sekali tidak pernah mendapatkan bimbingan dari orang tua,” sambungnya.
Setiap akhir pekan, orang tua para siswa diperkenankan untuk datang berkunjung dan setiap akhir bulan para siswa juga diberikan kesempatan untuk bisa pulang ke rumah masing-masing bertemu keluarga. Namun, tidak semua siswa dan siswi memanfaatkan kesempatan ini karena lagi-lagi keterbatasan biaya.
Menyalakan Harapan dari Ruang Kelas Sederhana

Pagi itu, matahari belum sepenuhnya meninggi ketika langkah-langkah kecil mulai memenuhi halaman Sekolah Rakyat. Dengan seragam sederhana dan wajah penuh semangat, para siswa bergegas menuju kelas. Di antara mereka, berdiri seorang guru yang menyambut satu per satu muridnya dengan senyum hangat.
Baginya, mengajar bukan sekadar pekerjaan. Ini adalah panggilan hati. Namanya Muhammad Reza Saputra, salah satu guru di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 24 Kabupaten Gowa yang setiap hari mendampingi siswanya dari berbagai latar belakang.
Mas Reza–begitu sapaan akrab dari siswanya, merupakan pria asal Kabupaten Lamongan, Provinis Jawa Timur. Di ruang kelas yang terbilang sederhana namun rapi dan bersih, ia menanamkan sesuatu yang jauh lebih berharga, yakni harapan.
“Saya percaya setiap anak memiliki kesempatan untuk berhasil, apa pun kondisi keluarganya,” ujar Guru Bidang Studi Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) ini saat ditemui di aula sekolah.
Muhammad Reza sendiri tidak menyangka akan ditempatkan di Kabupaten Gowa. Awalnya, dia mengikuti seleksi nasional perekrutan tenaga pendidik tenaga pendidikan sesuai domisilinya di Jawa Timur pada tahun 2025 lalu.
“Yah, karena domisili sudah penuh, jadi ditempatkan di Gowa. Tapi tidak masalah, saya senang saja di sini. Semoga dari Sekolah Rakyat di sini bisa lahir pemimpin bangsa di masa mendatang,” ujarnya.
Baginya, menjadi guru di Sekolah Rakyat tentu saja memiliki tantangan tersendiri. Banyak siswa yang berasal dari keluarga kurang mampu. Namun, kondisi tersebut tidak membuat semangat Reza surut. Justru di situlah ia merasa perannya semakin penting.
“Untuk siswa kurang lebih hampir sama, karena di usia SMP tingkah lakunya hampir sama. Harapan saya, semoga program ini bisa berlanjut karena sangat bagus memfasilitasi anak-anak yang kurang mampu dan anak yang sudah putus sekolah lantaran terkendala biaya pendidikan. Mereka sekarang bisa kembali bersekolah dan menggapai cita-citanya,” pungkas Reza.
Bagi para siswa, kehadiran Reza memberikan arti tersendiri. “Semua guru selalu menyemangati kami supaya rajin belajar dan punya cita-cita,” kata Zaskia Natasya, siswi SRMP 24 Gowa asal Kecamatan Pallangga, Kabupaten Gowa.
Putri dari pasangan Arianto dan Hasdianti ini bercita-cita menjadi guru karena ingin mengajar anak-anak miskin seperti dirinya. “Pekerjaan ayah saya hanya buruh harian, sementara ibu di rumah saja tidak bekerja. Saya ingin menjadi guru, mengubah hidup, mengangkat derajat keluarga, dan membuktikan bahwa mimpi dapat tumbuh di mana saja,” sebutnya.
Sama halnya Ardani, Zaskia Natasya juga mengaku bangga bisa menjadi bagian dari siswa Sekolah Rakyat. Selain lingkungan yang mendukung, fasilitas sekolah juga membuat mereka nyaman. “Enak, kamarnya bersih. Kita ketemu teman baru, fasilitasnya juga bagus, makanannya juga enak-enak,” ujarnya.
Hal senada juga diungkapkan siswa Sekolah Rakyat lainnya, Muhammad Rizky yang mengaku sempat mengalami kesulitan biaya untuk melanjutkan pendidikan.
“Kalau tidak ada biaya kita bingung mau sekolah di mana. Saya merasa sangat bersyukur dan berterima kasih kepada program Sekolah Rakyat, karena saya bisa sekolah lagi tanpa harus membebani orang tua dengan masalah biaya. Apalagi sekolahnya bagus, terus banyak teman-teman juga, pokonya senang bisa masuk ke sini,” ungkapnya dengan riang. Rizky sendiri bercita-cita menjadi seorang pengusaha.(*)



