Haji Supanto Darto Atemo (73) dalam dua kolase sedang berbincang dengan Kakanwil Kementerian Haji dan Umrah Sulsel H Ikbal Ismail di Bandara Sultan Hasanuddin. Saat berangkat duduk menggunakan kursi roda, pulang sudah bisa berjalan kaki.
MAKASSAR, UPEKS–Tak ada yang mustahil jika Allah menghendaki. Kalimat itu seolah menjadi gambaran perjalanan ibadah haji yang dijalani Haji Supanto Darto Atemo (73), seorang penjual bakso asal Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan.
Sebulan lalu, Kamis (14/5/2026), Supanto berangkat ke Tanah Suci bersama istrinya, Surani Ngadi Asmorejo (46), sebagai bagian dari 105 jemaah haji khusus PT An-Nur Maarif. Saat dilepas Kepala Kantor Wilayah Haji dan Umrah Sulawesi Selatan, Ikbal Ismail, ia duduk di atas kursi roda.
Langkahnya terbatas. Tubuhnya belum sepenuhnya pulih setelah mengalami cedera akibat terjatuh di kamar mandi. Namun satu hal yang tidak pernah surut adalah keyakinannya.
Hari itu, tak banyak yang menyangka bahwa ketika kembali dari Tanah Suci, Supanto justru turun dari pesawat tanpa kursi roda. Ia berjalan kaki sendiri saat tiba di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar.
Pemandangan itu sontak mengundang haru keluarga, jemaah lain, hingga para petugas yang menyambut kepulangannya.
“Masya Allah, tidak ada yang tidak mungkin jika Allah menghendaki. Kun fayakun,” ujar Kepala Kanwil Haji dan Umrah Sulsel, Ikbal Ismail, yang menjemput langsung Supanto di bandara bersama ratusan jemaah lainnya dari An-Nur Maarif.
Perubahan itu, menurut pembimbing jemaah, Ustad Rahmat Salim, mulai terlihat hanya tiga hari setelah Supanto tiba di Masjidil Haram.
“Tekadnya masya Allah untuk jalan kaki luar biasa,” kata Rahmat.
Meski awalnya harus dibantu kursi roda, Supanto perlahan memaksakan diri untuk berdiri dan berjalan. Ia terus berdoa agar diberi kesembuhan dan kekuatan.
Hingga akhirnya, ia mampu menyelesaikan tawaf sebanyak tujuh putaran mengelilingi Ka’bah.
Jarak satu putaran tawaf diperkirakan mencapai 500 hingga 700 meter. Artinya, Supanto menempuh jarak sekitar 3,5 hingga 5 kilometer hanya untuk menyelesaikan rangkaian ibadah tersebut.
Bagi sebagian orang, jarak itu mungkin biasa saja. Namun bagi Supanto yang berangkat dalam kondisi terbatas, itu adalah pencapaian yang tak pernah dibayangkannya.
“Saya terus berdoa semoga Allah menyembuhkan penyakit saya. Meskipun belum kembali seperti sedia kala, tapi saya sudah bersyukur,” ucapnya dengan mata berbinar sambil menunggu kopernya di bandara.
Kursi roda yang dulu menemaninya berangkat, kini ia tinggalkan di Tanah Suci.
Ia ingin kursi itu digunakan oleh jemaah lain yang membutuhkan.
Di kampung halamannya, Supanto dikenal sebagai penjual bakso sederhana yang berjualan di belakang Rumah Jabatan Bupati Bone.
Usaha yang telah dirintisnya sekitar 20 tahun lalu kini mempekerjakan 12 karyawan. Meski telah menyandang gelar haji dan merasakan pengalaman spiritual yang begitu mendalam, Supanto mengaku tak akan meninggalkan profesinya.
“Kalau sudah sehat, saya tetap jualan bakso. Dari situlah saya mencari rezeki dan Allah memberi jalan sampai bisa berhaji,” katanya.
Ia masih menjalani terapi refleksi untuk memulihkan kondisi tubuhnya. Keluarganya pun telah menghubungi seorang terapis dari Kota Palopo yang dikenal ahli di bidangnya.
Namun bagi Supanto, kesembuhan yang ia rasakan bukan semata hasil pengobatan.
Ada doa-doa yang ia panjatkan di depan Ka’bah. Ada keyakinan yang tak pernah padam.
Ikbal Ismail masih mengingat pesan yang disampaikannya saat melepas Supanto sebulan lalu.
“Banyak berdoa di depan Ka’bah. Minta kepada Allah, karena semua Dia yang mengatur,” kenangnya.
Dan kini, di hadapan banyak orang, Supanto menjadi bukti bahwa harapan tidak pernah sia-sia.
Bahwa di antara jutaan langkah para jemaah haji, selalu ada kisah-kisah kecil yang mengajarkan manusia untuk terus percaya. Percaya bahwa tak ada yang mustahil jika Allah menghendaki. (*)

