Di Balik Ekosistem On-Demand Grab: Fleksibilitas Jadi Pilar Penghasilan Jutaan Mitra

Di Balik Ekosistem On-Demand Grab: Fleksibilitas Jadi Pilar Penghasilan Jutaan Mitra
Oplus_131072

MAKASSAR, UPEKS.co.id— Ekonomi digital Indonesia kian menguat dan menjadi salah satu penopang pertumbuhan nasional. Layanan berbasis aplikasi atau on-demand service kini tak terpisahkan dari aktivitas harian masyarakat, mulai dari transportasi, pesan-antar makanan, hingga logistik dan layanan keuangan digital.

Model kerja berbasis platform atau gig economy membuka peluang penghasilan bagi jutaan orang tanpa terikat jam kerja tetap. Pola ini memberi ruang bagi individu untuk mengatur sendiri intensitas kerja sesuai kebutuhan hidupnya.

Bacaan Lainnya

Di sektor ride-hailing, Grab Indonesia menjadi salah satu pelaku utama. Sejak beroperasi pada 2014, Grab telah menjangkau lebih dari 300 kota dan kabupaten di Tanah Air. Studi ITB (2023) mencatat industri ride-hailing dan pengantaran online berkontribusi Rp382,62 triliun atau sekitar 2 persen terhadap PDB Indonesia 2022.

Grab disebut menyumbang sekitar separuh dari sektor transportasi dan pengantaran online (Oxford Economics, 2024).

Data internal per Desember 2025 menunjukkan jumlah Mitra Pengemudi terdaftar mencapai 3,7 juta orang. Namun, yang aktif menyelesaikan minimal satu order per bulan berkisar 700–800 ribu orang atau sekitar 19–22 persen.

Angka ini berubah-ubah setiap bulan, mencerminkan karakter fleksibel industri berbasis permintaan.

Mayoritas mitra menjadikan Grab sebagai penghasilan tambahan. Lebih dari 80 persen Mitra Roda 2 dan sekitar 67 persen Mitra Roda 4 memanfaatkan platform sebagai sumber pendapatan sampingan.

Pada kategori Mitra Roda 4, sekitar 10–11 persen menjadikan aktivitas mengemudi sebagai nafkah utama dengan penghasilan di atas Rp10 juta per bulan dan rata-rata 11 order per hari. Sekitar 21–22 persen berada di kategori penghasilan rutin Rp4–10 juta per bulan.

Selebihnya merupakan penghasilan tambahan Rp1–4 juta dan penghasilan sesekali hingga Rp1 juta per bulan.

Sementara pada Mitra Roda 2, hanya sekitar 1–2 persen yang menjadikan ojol sebagai nafkah utama dengan pendapatan di atas Rp10 juta per bulan dan rata-rata lebih dari 28 order per hari.

Sekitar 14–15 persen masuk kategori penghasilan rutin, sedangkan mayoritas lainnya berada pada kategori tambahan dan sesekali.

Chief Executive Officer Grab Indonesia, Neneng Goenadi, menegaskan fleksibilitas menjadi fondasi model kemitraan.

“Mayoritas mitra memilih menjadikan platform sebagai penghasilan sampingan, sementara sebagian kecil menjadikannya nafkah utama. Tingkat produktivitas ini dinamis, mengikuti kebutuhan dan fase kehidupan masing-masing,” ujarnya.

Sebagai bentuk apresiasi, Grab menghadirkan program “Perjalanan Bermakna dengan Umrah Gratis” dengan menyediakan 105 paket umrah bagi mitra berprestasi dan inspiratif. Lima mitra telah menerima paket tersebut, dan 100 lainnya akan menyusul.

Salah satu penerima, Bapak Syamsudin, mengaku tak menyangka mendapat kesempatan itu. “Ini bukan hanya tentang umrah, tetapi tentang merasa dihargai atas usaha dan konsistensi yang saya jalani,” katanya.

Melalui pendekatan berbasis kinerja dan dukungan yang proporsional, Grab menegaskan komitmennya menjaga ekosistem yang adil dan inklusif.

Di tengah laju ekonomi digital, ruang partisipasi tetap dibuka seluas-luasnya agar pertumbuhan tak hanya tercatat dalam angka, tetapi juga dirasakan langsung oleh para mitra dan keluarganya. (Mimi)

Pos terkait