Jakarta, Upeks–Dari lorong sempit permukiman padat Jakarta, dari rumah susun hasil relokasi, bahkan dari pengalaman hidup di kolong tol, sepuluh anak Indonesia kini bersiap melangkah ke panggung dunia. Mereka terpilih sebagai tim Garuda Baru yang akan mewakili Indonesia dalam ajang Street Child World Cup (SCWC) 2026 di Mexico City, Meksiko pada Mei mendatang.
Kesepuluh pemain tersebut merupakan hasil seleksi dari lebih dari 170 anak yang mengikuti proses pembinaan dan penyaringan selama satu tahun terakhir. Mereka berasal dari berbagai komunitas di Jakarta dan sekitarnya, yang sebagian besar berada di lingkungan dengan tantangan sosial yang tidak mudah.
Street Child World Cup sendiri merupakan ajang sepak bola internasional yang mempertemukan anak-anak dari berbagai negara yang memiliki pengalaman hidup dalam kerentanan sosial. Selain pertandingan sepak bola, ajang itu juga menjadi forum global bagi anak-anak untuk menyuarakan hak mereka atas pendidikan, perlindungan, dan kehidupan yang layak.
Sepuluh Pemain Baru Garuda
Tim Garuda Baru yang akan mewakili Indonesia terdiri dari Samuel Steven Siagian (Goalkeeper), Deno Mazra Rasyid (Defender), Aryo Topan Artha Gading (Defender), Mohamad Azriel Aliansyah (Midfielder), Rizki Firmansyah (Winger), Javasha (Winger), Danar Saputra (Winger), Dino Siswanto (Winger), Raehan Alfarezi (Striker), dan Izul Hamid (Winger).
Tim ini dipimpin oleh Topan sebagai kapten dan Samuel sebagai wakil kapten. Tidak hanya berperan di lapangan, mereka juga membawa suara dan harapan anak-anak Indonesia ke forum global. Topan, yang tumbuh di kawasan Rawa Badak, Jakarta Utara, hidup di tengah lingkungan dengan berbagai tekanan sosial. Ia memilih menjauh dari lingkaran kekerasan dan menjadikan sepak bola sebagai jalannya. Sebagai kapten, ia memandang perjalanannya ke Street Child World Cup 2026 sebagai amanah yang melampaui sekadar pertandingan.
“Ini bukan hanya tentang kami bermain di Meksiko. Melalui ajang ini, saya ingin menyuarakan hak-hak anak dan menunjukkan bahwa orang muda dapat membawa perubahan positif. Karena setiap anak, apapun latar belakangnya adalah pribadi yang berharga, penting, bermartabat dan layak untuk didengar pendapatnya, serta diberi kesempatan untuk berkembang.” ujar Topan.
Sementara itu, Samuel Steven Siagian, penjaga gawang yang dipercaya sebagai wakil kapten, tumbuh di kawasan Klender, Jakarta Timur. Ia kehilangan ayahnya sejak kecil dan dibesarkan oleh ibunya yang bekerja sebagai penambal ban. Di lingkungan yang rawan kenakalan remaja dan tawuran, Samuel memilih lapangan sepak bola sebagai ruang dan kesempatan untuk membangun arah hidupnya.
“Ajang ini menjadi kesempatan bagi saya untuk bertemu orang muda dari berbagai negara, berbagi pengalaman, dan belajar bersama. Saya ingin memberikan yang terbaik untuk tim saya, meraih juara 1, dan mendapatkan penghargaan Best Goalkeeper. Saya juga ingin membuktikan bahwa anak dari lingkungan seperti saya juga mampu membawa nama Indonesia.” ujar Samuel.
Melalui Garuda Baru, anak-anak ini tidak hanya dilatih kemampuan sepak bolanya. Mereka juga mendapatkan pembinaan karakter, kepemimpinan, serta pelatihan komunikasi agar mampu menyampaikan pengalaman hidup mereka di forum internasional.
“Garuda Baru bukan sekadar tim sepak bola, melainkan sebuah gerakan yang memberi ruang bagi anak-anak dari lingkungan rentan untuk menyuarakan pengalaman dan harapan mereka,” ujar Manajer Tim Garuda Baru Jessica Hutting.
Menurutnya, ketika anak-anak diberikan kesempatan dan ruang yang aman untuk berkembang, mereka mampu menunjukkan potensi yang selama ini tersembunyi.
Founder Tim Garuda Baru Mahir Bayasut menambahkan, kegiatan itu merupakan program konsorsium atau bersama yang sudah ada sejak 2013, yang dibuat oleh Yayasan Transmuda Energy Nusantara (TEN), Yayasan Kampus Diakoneia Modern (KDM), dan Yayasan Sahabat Anak (YSA).
“Ketiga lembaga non profit ini memiliki visi yang sejalan untuk menyuarakan hak anak-anak atas pendidikan, perlindungan, dan kehidupan yang layak,” pungkas Mahir.
*Membawa Pesan Hak Anak ke Dunia*
Selain bertanding di lapangan, delegasi Indonesia juga akan membawa kampanye mengenai hak anak untuk memperoleh lingkungan yang layak. Kampanye ini lahir dari pengalaman langsung anak-anak yang hidup di kawasan padat penduduk, dengan keterbatasan ruang bermain yang aman, serta menghadapi berbagai persoalan lingkungan, seperti pengelolaan sampah, sanitasi, dan risiko kekerasan di sekitar tempat tinggal mereka.
Melalui forum anak internasional dalam ajang Street Child World Cup, para pemain Garuda Baru akan menyampaikan pesan bahwa lingkungan yang aman bukanlah sebuah kemewahan, melainkan hak dasar setiap anak. Partisipasi Garuda Baru dalam ajang ini juga menjadi bagian dari upaya Indonesia untuk memperkuat advokasi hak anak di tingkat global.
Setelah pengumuman hasil seleksi, para pemain akan menjalani pemusatan latihan intensif pada April 2026 sebagai bagian dari persiapan menuju Street Child World Cup. Program tersebut mencakup latihan sepak bola, pembinaan karakter, serta pelatihan komunikasi publik guna memastikan para pemain siap tampil, baik di lapangan maupun dalam forum anak internasional.
Pada Mei 2026, mereka dijadwalkan berangkat ke Meksiko untuk mengikuti kompetisi sekaligus rangkaian konferensi anak global dalam ajang Street Child World Cup 2026. Bagi para pemain Garuda Baru, perjalanan ini bukan hanya tentang pertandingan sepak bola. Ini adalah perjalanan untuk membuktikan bahwa dari lingkungan yang paling sederhana sekalipun, mimpi besar tetap bisa tumbuh. (*)

