Mahasiswa Agrobisnis Perikanan Unhas Jadikan Desa Aeng Batu-Batu Laboratorium Sosial Ekonomi Kampung Nelayan Merah Putih

Mahasiswa Agrobisnis Perikanan Unhas Jadikan Desa Aeng Batu-Batu Laboratorium Sosial Ekonomi Kampung Nelayan Merah Putih

Takalar, Upeks.co.id — Mahasiswa Program Studi Agrobisnis Perikanan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin (FIKP Unhas), menjadikan Desa Aeng Batu-Batu, Kecamatan Galesong Utara, Kabupaten Takalar, sebagai laboratorium sosial ekonomi dalam kegiatan Praktik Kerja Lapang Terpadu (PKLT) yang berlangsung pada 31 Oktober hingga 2  November 2025.

Desa Aeng Batu-Batu merupakan salah satu dari enam lokasi di Sulawesi Selatan yang ditetapkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan sebagai Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) — program nasional yang bertujuan memperkuat kesejahteraan dan kemandirian masyarakat pesisir. Momentum ini dimanfaatkan oleh mahasiswa untuk menguji secara langsung bagaimana kebijakan nasional diterjemahkan dalam kehidupan masyarakat pesisir di tingkat desa.

Bacaan Lainnya

Kegiatan PKLT ini diikuti oleh mahasiswa dari berbagai mata kuliah yang berfokus pada penguatan  sosial-ekonomi pesisir, antara lain Pemetaan Sosial Masyarakat Pesisir, Sosiologi Masyarakat  Pesisir dan Kepulauan, Ekonomi Wisata Bahari, Penyuluhan dan Komunikasi Perikanan,  Pengolahan Data Sosial Ekonomi Perikanan, Valuasi Ekonomi Sumberdaya Perikanan, Manajemen Industri Perikanan, Ekonomi Produksi, serta Metode Penelitian Sosial dan Bisnis Perikanan.

Melalui pendekatan lintas bidang, mahasiswa ditugaskan untuk memetakan potensi, persoalan  sosial, dan peluang ekonomi yang dapat menjadi dasar pengembangan desa berbasis kemandirian masyarakat.

Ketua Panitia kegiatan, Dr. Alpiani, S.Pi., M.Si., menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian  dari strategi pembelajaran lapangan yang mempertemukan teori akademik dengan realitas  masyarakat pesisir. “Kami ingin mahasiswa tidak hanya belajar dari teori dan data, tetapi juga  dari kehidupan masyarakat pesisir itu sendiri. Mereka melihat langsung bagaimana nelayan,  pengolah, dan pemasar hasil perikanan berjuang, berinovasi, serta bertahan di tengah perubahan  sosial dan ekonomi,” ujarnya.

Penanggung jawab mata kuliah Pemetaan Sosial Masyarakat Pesisir, Prof. Dr. Andi Adri Arief, S.Pi., M.Si., menilai kegiatan ini sebagai bentuk nyata keterlibatan kampus dalam mengawal kebijakan pembangunan pesisir. Menurutnya, Aeng Batu-Batu tidak hanya menjadi lokasi praktik, tetapi juga laboratorium sosial ekonomi untuk menguji sejauh mana program Kampung Nelayan Merah Putih dapat menjawab kebutuhan masyarakat secara konkret.

“Kampus tidak boleh hanya  menjadi menara gading, tetapi harus hadir sebagai mitra kritis dan konstruktif dalam setiap kebijakan pembangunan pesisir,” tegasnya.

Sementara itu, Dr. Firman, S.Pi., M.Si., Ketua Program Studi Agrobisnis Perikanan, dalam sambutannya menekankan bahwa kegiatan ini merupakan wujud integrasi antara pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Ia menjelaskan bahwa Aeng Batu-Batu memiliki posisi strategis, baik secara sosial ekonomi maupun geografis, untuk dijadikan lokasi kajian  berkelanjutan (community-based research) yang memperkuat sinergi antara kampus, pemerintah daerah, dan masyarakat.

Kegiatan ini tidak hanya memberikan pengalaman lapangan bagi mahasiswa, tetapi juga menjadi  sarana pengumpulan data sosial-ekonomi yang dapat mendukung implementasi program Kampung Nelayan Merah Putih di Sulawesi Selatan. Mahasiswa terlibat dalam pengamatan sosial, wawancara dengan kelompok nelayan dan pelaku produksi perikanan lainnya, pemetaan  kelembagaan lokal, identifikasi potensi ekonomi pesisir, hingga analisis rantai nilai hasil perikanan.

Hasil kegiatan ini nantinya akan dirumuskan dalam bentuk rekomendasi akademik yang disampaikan kepada pemerintah daerah dan pemangku kepentingan setempat.

Salah satu mahasiswa peserta, Nurul (semester 5), mengaku mendapatkan pengalaman yang  sangat berharga.

“Kami datang membawa teori, tapi pulang membawa kesadaran bahwa laut bukan hanya sumber ekonomi, tetapi ruang kehidupan yang harus dijaga bersama,” ujarnya.

Kegiatan praktik lapang di Desa Aeng Batu-Batu menjadi wujud nyata dari upaya Unhas, menghadirkan pendidikan tinggi yang relevan, partisipatif, dan berakar pada realitas sosial ekonomi dan budaya masyarakat pesisir.

Melalui kegiatan ini, diharapkan akan lahir generasi akademisi dan praktisi muda yang tidak hanya memahami sosial-ekonomi perikanan secara teknis, tetapi juga peka terhadap nilai kemanusiaan dan keberlanjutan lingkungan.

“Pesisir bukan ruang teori, tetapi ruang kehidupan,” tutup Prof. Dr. Ir. Mardiana E. Fachry, S.Pi., M.Si., Koordinator Mata Kuliah Sosiologi Masyarakat Pesisir dan Kepulauan. “Di Aeng Batu-Batu, Mahasiswa Agrobisnis Perikanan belajar bukan hanya tentang laut, tetapi tentang manusia dan masa depan yang ingin mereka bangun bersama.(rls)