Wooooosssshhhhhh… Aaaahhhhhhhhh…… Woooossshhhhh… Aaaaahhhhhhhh.. begitulah suara nafas yang menghirup oksigen 100% keluar masuk melalui selang lalu disalurkan melalui masker ke hidung hingga paruparu. Ini bukan oksigen biasa, tetapi oksigen yang sudah dikompres sekecil-kecilnya sehingga bisa menjelajah di pembuluh darah halus hingga ke sel-sel di dalam tubuh.
Laporan: Muh Akbar
Suara itu berasal dari katup yang membuka dan menutup ketika kami bernafas menggunakan masker yang menutup hidung dan mulut. Suaranya seperti sedang mendengarkan diri sendiri saat menyelam menggunakan tabung.
Memang saat itu kami sedang menyelam selama 50 menit. Bersama tujuh wartawan lainnya. Tapi kami tidak menggunakan tabung oksigen di punggung. Kami malah berada di dalam tabung oksigen raksasa berwarna putih.
Tinggi tabung itu sekitar dua meter. Begitupun lebarnya sekitar itu. Persis menyerupai tabung oksigen yang dibaringkan. Bedanya, tabung ini berukuran raksasa dan memiliki jendela bulat seperti di kapal selam dan memiliki tiga pintu. Pintu masuk pasien, pintu perantara antara perawat dan pasien, dan pintu menuju operator yang menggawangi komputer dan sejumlah monitor kamera.
Menyelam kali ini tidak membuat tubuh basah. Jadi tak perlu memakai pakaian penyelam. Malah menggunakan seragam pasien berwarna biru. Tetapi, terapi ini juga disebut dengan menyelam. “Menyelam kering”.
Setidaknya itu yang disampaikan salah seorang perawat yang juga operator Oksigen Hyperbarik Chamber. Ada dua perawat, satu wanita dan satunya pria. Yang wanita itu bertugas memberikan penjelasan prosedur yang harus dilalui selama menjalani terapi itu. Dia juga bertugas selaku operator di belakang tabung raksasa.
Sementara perawat pria satunya menemani kami di dalam tabung itu. Keduanya terlihat muda. Menurut Kepala RSAL Jala Ammari, dr. Suhadi, M.KK., AIFO-K.,Sp-KL, sambil berkelakar, mereka memiliki wajah lebih glowing dan muda berkat bertugas di Hyperbarik Chamber itu.
“Jadi para perawat yang tugas di situ kelihatannya jauh lebih muda dari usianya, karena memang terapi ini mampu meregenarasi sel-sel tubuh,” ujarnya sambil bercanda pekan lalu.
Tetapi candaannya itu bukan sekadar bahan lelucon, sebab salah satu efek dari terapi ini memang bisa menstimulasi tubuh memproduksi banyak kolagen dan membuat kulit elastis. Sehingga bisa menutup kerutan.
Selain itu, juga bisa membuat sel-sel otak beregenerasi. Membantu mengobati para orang tua yang mengalam demensia.
Terapi ini sebenarnya bukan hal baru. Di pulau jawa sudah banyak digunakan di RS dan klinik-klinik sebagai terapi untuk berbagai kegunaan, mulai kecantikan hingga penyembuhan berbagai penyakit.
Di Makassar ini memang masih sangat baru. Alat ini baru dua tahun di RSAL Jala Ammari. Alat semacam ini juga ada di RS Wahidin Sudirohusodo. Namun dokter ahlinya hanya satu, yakni yang berada di RSAL Jala Ammari.
Kesempatan merasakan terapi ini berkat ajakan Komandan Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut VI (Danlantamal VI) Makassar, Brigadir Jenderal TNI (Mar) DR. Wahyudi, S.E., M.Tr.Hanla., M.M., M. Han.
Sebulan lalu, beliau memperkenalkan salah satu alat terapi yang sangat bermanfaat untuk berbagai pengobatan. Sudah terbukti beberapa penyakit bisa diobati dengan alat tersebut.
“Terapi ini bukan saja hanya untuk penyelam, atau orang yang sakit, tapi juga memiliki efek yang baik untuk sehat. Siapa saja yang ingin sehat bahkan untuk yang ingin terlihat muda,” ujarnya mempromosikan.
dr Suhadi menjelaskan dalam presentasinya, pasien yang pernah ditangani antara lain kasus stroke, penyembuhan gangren akibat diabetes, patah tulang, bahkan termasuk kanker.
“Ada kasus patah tulang itu mengalami penyembuhan lebih cepat ketika diterapi. Begitu juga dengan luka akibat penyakit diabetes bisa sembuh. Lukanya bisa menutup karena sel-selnya bisa beregenarasi. Sehingga pasien itu tak perlu diamputasi,” ujarnya sambil memperlihatkan slide foto-foto kaki pasien dabetes.
Pada foto itu terlihat punggung kakinya terlihat membusuk dan pinggir-pinggir lukannya sudah berwarna hitam. Lalu ada foto-foto selama menjalani terapi beberapa kali dimana terlihat ada penyembuhan. Bahkan di foto slide terakhir terlihat lukanya sudah sembuh dengan kulit masih kemerah-merahan.
Selain itu, ada juga video perawatan seorang anggota kopasus yang tak sadarkan diri akibat menyelam. Saat itu masih dalam suasana Covid-19. Di video terlihat pasien itu dimasukkan kedalam tabung raksasa itu tanpa sadarkan diri. Beberapa hari kemudian dia mulai bisa menggerakkan kelopak mata. Lalu beberapa hari kemudian sudah mulai bisa menggerakkan tangan dan kakinya. Lalu selanjutnya terlihat sudah mampu fitnes dan jogging.
dr Suhadi menjelaskan, cara kerja alat ini adalah dengan memasukkan oksigen murni 100% ke dalam tubuh sehingga bisa mencapai-sel-sel tubuh. Oksigen dikompresi hingga ukuran terkecil agar bisa diserap masuk hingga ke pembuluh darah terkecil.
“Ibaratnya oksigen yang tadinya ukurannya speerti kacang mede kita kompres menjadi seukuran lobang jarum, dengan memasukkan tekan udara seperti saat menyelam. Semakin dalam kita menyelam semakin besar tekanan,” ujarnya.
Ukuran oksigen akan semakin mengecil jika semakin dalam menyelam. Makanya seringkali penyelam-penyelam tradisional mengalami pincang hingga lumpuh usai menyelam. “Itu karena ibaratnya tiba-tiba oksigen berubah ukuran sehingga pembuluh darah pecah,” ujarnya.
Dia menyebutnya, penyakit penyelam itu sering disebut dengan istilah dekompresi.
Alat itu sebenarnya awalnya digunakan untuk terapi penyembuhan dekompresi. Untuk mengembalikan kondisi pasien ke keadaan semula sebelum menyelam. Tetapi di perjalan, ternyata memiliki efek penyembuhan berbagai penyakit.
“Terapi hiperbarik oksigen ini merupakan pengobatan modern yang kini mulai dikenal luas sebagai solusi penanganan penyakit dekompresi pada penyelam serta percepatan penyembuhan luka kronis, termasuk luka bakar, infeksi tulang, dan gangguan sirkulasi darah,” ujarnya.
Tetapi memang untuk merasakan hasil maksimal, terapi ini memang tidak hanya sekali saja dilakukan. Harus beberapa kali. (*)
Berikut beberapa manfaat utama terapi oksigen hiperbarik:
-Meningkatkan kadar oksigen dalam darah dan memperbaiki sirkulasi tubuh.
-Mempercepat penyembuhan luka, termasuk luka kronis dan luka bakar.
-Membantu melawan infeksi dan mempercepat regenerasi jaringan.
-Mengatasi dekompresi, keracunan karbon monoksida, dan gangguan pendengaran mendadak.
-Mempercepat penyembuhan patah tulang dan mengurangi pembengkakan.
-Merangsang pelepasan hormon pertumbuhan dan stem cell alami dalam tubuh.
-Merangsang produksi kolagen dan elastisitas kulit.

