Tokoh Lintas Agama Sulsel Bersatu, Siap Kampanyekan Anti Radikalisme di CFD Makassar

Tokoh Lintas Agama Sulsel Bersatu, Siap Kampanyekan Anti Radikalisme di CFD Makassar

MAKASSAR, UPEKS– Sebanyak 11 organisasi lintas agama di Sulawesi Selatan menyatakan komitmen bersama menggelar Kampanye Publik Anti Intoleransi, Radikalisme, Ekstremisme, dan Terorisme (IRET) di kawasan Car Free Day (CFD) Boulevard Makassar, Minggu (19/7/2026).

Komitmen tersebut disepakati dalam Rapat Persiapan Kampanye Anti IRET yang berlangsung di Kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Selatan, Jumat (17/7/2026).

Bacaan Lainnya

Rapat dihadiri pimpinan majelis agama dan organisasi lintas agama sebagai bentuk sinergi dalam memperkuat persatuan, menjaga kerukunan, dan mencegah berkembangnya paham intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme di Sulawesi Selatan.

Ketua MUI Sulawesi Selatan, Prof. Najamuddin, menyampaikan apresiasi atas kolaborasi lintas agama yang dinilainya menjadi contoh nyata bahwa seluruh agama memiliki misi yang sama, yakni menghadirkan kedamaian bagi umat manusia.

“Kegiatan ini sangat bagus karena semua agama mengajarkan kedamaian, hidup bersama, dan berdampingan dengan orang lain. Seluruh agama diutus ke dunia ini untuk membawa perdamaian,” ujarnya.

Ia kemudian mengutip hadis Rasulullah SAW dari Abdullah bin Salam RA:

“Wahai sekalian manusia, sebarluaskanlah salam, berikanlah makanan, dan shalatlah pada waktu malam ketika manusia sedang terlelap tidur, niscaya kalian akan masuk surga dengan selamat.”

Prof. Najamuddin juga mengingatkan bahwa salah satu penyebab munculnya paham ekstrem dan radikal adalah ketidakseimbangan antara semangat dan ilmu.

“Semangatnya besar, tetapi ilmunya sedikit. Karena itu ilmu harus menjadi penuntun dalam memahami dan mengamalkan ajaran agama,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Ikatan Cendekiawan Alumni Timur Tengah (DPP ICATT), Mallingkai Ilyas, memaparkan konsep kegiatan yang mengusung tema “Merawat Harmoni, Memperkuat Persatuan: Bersama Menolak Intoleransi, Radikalisme, Ekstremisme, dan Terorisme” dengan tagline “CFD Harmoni: Jalan Sehat, Pikiran Sehat, Indonesia Kuat.”

Menurut Mallingkai, dipilihnya kawasan Car Free Day Boulevard Makassar karena merupakan ruang publik yang sangat efektif untuk menyampaikan edukasi kepada masyarakat.

“CFD menjadi tempat berkumpulnya masyarakat dari berbagai kalangan. Selain menjadi ruang olahraga dan aktivitas UMKM, lokasi ini juga sangat strategis untuk menyebarkan pesan-pesan perdamaian, toleransi, moderasi beragama, dan cinta tanah air,” katanya.

Ia menjelaskan, di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi, masyarakat menghadapi tantangan berupa penyebaran hoaks, ujaran kebencian, intoleransi, radikalisme, ekstremisme berbasis kekerasan hingga propaganda terorisme yang banyak menyasar generasi muda melalui media digital.

Karena itu, kampanye ini menjadi bagian dari dukungan terhadap penguatan Moderasi Beragama, implementasi Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme (RAN PE), serta penguatan ketahanan sosial masyarakat.

Mallingkai menambahkan, kampanye tersebut bertujuan meningkatkan literasi masyarakat mengenai bahaya IRET, menanamkan nilai toleransi dan cinta tanah air, mengajak generasi muda menjadi agen perdamaian, memperkuat kolaborasi lintas agama dan lintas sektor, serta mengampanyekan penggunaan media sosial yang sehat dan bertanggung jawab.

Dalam sesi diskusi, seluruh peserta rapat menyambut positif rencana pelaksanaan kampanye tersebut.

Perwakilan Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Sulawesi Selatan, Made Merada, menyatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan gagasan yang sangat mulia karena lahir dari semangat kebersamaan para tokoh agama.

“Ini ide yang sangat mulia. PHDI mendukung penuh pelaksanaannya. Kami berharap setiap majelis agama dapat mengirimkan minimal sepuluh peserta agar pesan perdamaian semakin kuat dirasakan masyarakat. Kampanye seperti ini juga sebaiknya dilaksanakan secara berkala di beberapa ruang publik sehingga edukasi kepada masyarakat dapat berlangsung secara berkesinambungan,” ujarnya.

Berbagai masukan juga mengemuka dalam rapat. Pdt. Alex dari PGIW Sulselra mengusulkan agar kampanye diperluas ke kawasan Center Point of Indonesia (CPI), Jalan Jenderal Sudirman, dan ruang publik lainnya.

Hans Hartono dari MATAKIN Sulsel menilai CFD Boulevard merupakan lokasi yang sangat strategis untuk menyampaikan pesan kerukunan kepada masyarakat.

Sementara WALUBI Sulsel berharap kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara rutin mengingat masyarakat saat ini mudah terpengaruh oleh informasi yang bersifat provokatif.

Permabudhi Sulsel bahkan menyatakan kampanye ini merupakan wujud nyata komitmen bersama untuk menjaga Indonesia sebagai bangsa yang majemuk, berlandaskan Pancasila, serta menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, persatuan, dan penghormatan terhadap keberagaman. Intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme tidak hanya mengancam keamanan, tetapi juga merusak sendi-sendi kehidupan bermasyarakat yang dibangun atas dasar saling menghormati dan hidup berdampingan secara damai.

Permabudhi siap berpartisipasi aktif. Bersama Menolak IRET, Bersama Merawat Indonesia. Bhinneka Tunggal Ika • Pancasila • NKRI Harga Mati

Kampanye Publik Anti IRET akan dilaksanakan pada Minggu, 19 Juli 2026, pukul 06.00–09.30 WITA di kawasan Car Free Day Boulevard Kota Makassar.

Adapun sebelas organisasi penyelenggara terdiri atas DPP ICATT, MUI Sulsel, PGIW Sulselra, Keuskupan Agung Makassar, PHDI Sulsel, DPD WALUBI Sulsel, Permabudhi Sulsel, MATAKIN Sulsel, Foruk Kerukunan Umat Beragam (FKUB) Sulsel, Forum Kemanusiaan Lintas Agama (FKLA) Sulsel, dan Pemuda Lintas Agama (PELITA) FKUB.

Rapat tersebut turut dihadiri Ketua MUI Sulsel Prof. Najamuddin, Ketua FKUB Sulsel Prof. Muammar Bakry, Ketua Forum Kemanusiaan Lintas Agama Sulsel Prof. Mustari Bosra, Pdt. Alex (PGIW Sulselra), Hans Hartono (MATAKIN Sulsel), Made Merada (PHDI Sulsel), Ketua Umum DPP ICATT Mallingkai Ilyas, serta pengurus dan perwakilan organisasi lintas agama lainnya.

Melalui kolaborasi sebelas organisasi lintas agama ini, para tokoh agama berharap ruang-ruang publik di Kota Makassar tidak hanya menjadi tempat beraktivitas, tetapi juga menjadi media edukasi untuk memperkuat persatuan, menumbuhkan toleransi, serta membangun ketahanan masyarakat terhadap penyebaran paham intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme.(rls)