JEDDAH, Upeks.co.id — Meski duduk di kursi roda, wajah Slamet bin Wongsorejo tetap memperlihatkan semangatnya untuk berhaji.
Ayah enam anak yang ditinggal mati istrinya Sukinem dua tahun lalu itu, bibirnya terus tersungging menyapa setiap petugas yang melintas di depannya.
“Terima kasih Pak atas bantuannya. Saya sebenarnya bisa jalan, tapi kalau kejauhan lutut ini sudah tidak tahan,” kata Slamet di Paviliun B Bandar Udara King Abdul Aziz, Rabu, (21/5/2025) petang waktu Arab Saudi.
Kursi roda ini dianggap sebagai pengganti penopang kakinya yang tidak seimbang lagi dengan usia yang makin menua dan badan yang tambun.
“Petugas (PPIH) ini luar biasa, bisa memberikan pelayanan terbaik kepada kami semua yang tidak mampu berjalan lagi,” ucap Slamet mengangkat ibu jari dengan acungan jempol ke petugas.
Slamet tidak sendiri menggunakan kursi roda. Ada 10 rekan mereka difasilitasi yang sama tergabung dalam kelompok terbang BTH-19 dengan penerbangan SV-5527.
Petani sawit yang transmigrasi ke Jambi sejak puluhan tahun dari Solo ini masih sempat membuat rekan jemaah haji pengguna kursi roda lainnya tersenyum sambil “ngakak” di sampingnya. “Saya tu asal Solo sekampung Jokowi lo,” ucapnya sambil melempar senyum ke wartawan.
Di daerah tempat tinggalnya sekarang, Slamet terbilang sosok humoris dan gampang bergaul. Sebagai mantan ketua RT dan ketua BPD di wilayahnya, dia mengaku suka bergaul dengan tetangga. Tak jarang, jika ada acara tetanga tanpa dia serasa tak lengkap.
Slamet menunaikan ibadah haji didampingi putranya Muh. Rohyani yang mengganti ibunya karena meninggal. Tapi, Rohyani lebih awal ke bus. “Dia (anak saya) sudah lebih dulu ke bus, saya menyusul ke sana bersama rombongan yang pakai kursi roda,” ujarnya.
Sama dengan Slamet, jemaah haji lansia dengan penerbangan yang sama kelihatan bugar bersama istrinya tampak dari wajah Sayin Amin dan Umi Kalsum. Pasangan suami istri berusia 85 dan 75 tahun ini bak Romeo dan Juliet.
Pun, si Romeo pindah kursi, sang Juliet juga tak mau tinggal diam. “Saya tidak mau pisah dengan suami saya,” kata Umi Kalsum bergeser duduk untuk bersiap naik ke golf car yang disediakan khusus untuk lansia dan disabilitas menuju bus.
Jemaah haji asal Muara Tebo, Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi ini, mengaku harus menunggu sekitar enam tahun sebagai jemaah lansia untuk bisa berhaji.
Pensiunan Kemenag Tebo ini beruntung bisa mencapai impiannya ke Baitullah dengan usia seperti sekarang. “Kami bersyukur masih bisa ke sini, meskipun dengan usia tua. Saya sebenarnya tidak punya uang. Tapi syukur, bisa menjual lahan tanah kecil untuk menambah pelunasan haji kami berdua,” ujar Umi Kalsum.
Kalsum mengaku kini tinggal bersama putra bungsunya yang dikaruniai dua anak. Mereka, kata dia, yang mendorong untuk tetap ke Baitullah. “Saya mendorong anak saya tapi duit tidak cukup. Apalagi dia hanya guru honorer di sana,” ucapnya. (sgenda)

