Laporan : Rosmitha Angraeni Sari
PANGKEP, UPEKS.co.id – MUHAMMAD Amir, warga Kelurahan Bontokio, Kecamatan Minasatene, Pangkajene, menjadikan limbah sekam padi menjadi barang yang memiliki daya jual yang cukup tinggi untuk industri.
Saban sore, pria berusia 46 tahun mengaduk-aduk timbunan sekam padi yang membumbung di sebuah pabrik penggilingan padi/beras tak jauh dari rumahnya. Dia secara bergantian dengan putranya, Rusdi, mengisi beberapa lembaran karung putih untuk kemudian disusun di pinggir jalan.
Ada sekitar 20 hingga 30 karung tersusun rapi di lokasi itu siap dijemput pengumpul sekam padi untuk didistribusikan ke PT Semen Tonasa. “Karung yang berisi sekam ini akan dijemput pengumpul untuk selanjutnya dijual ke Semen Tonasa. Katanya untuk bahan bakar,” ujar Amir sesekali menyeka keringat yang membasahi tubuhnya.
Amir tak paham berapa rupiah dijual sekam-sekam itu ke perusahaan dari tangan pengumpul. Yang pasti, bagi dia dan keluarganya pekerjaan yang sudah dilakoni beberapa tahun terakhir ini di luar dari mata pencaharian utamanya sebagai petani, cukup menambah uang sekolah untuk empat putra putrinya yang masih duduk di bangku SD, SMP, dan SMA.
“Saya kurang tahu. Tapi selama ini pendapatan dari pengumpulan bahan bakar sekam ini lumayan bisa menyekolahkan anak saya. Selama ini saya hanya bertani, kadang juga harus cari penumpang sebagai tenaga bentor,” tuturnya enggan menyebut rupiah yang diterima dari mengumpul sekam.
Amir mengaku tidak sendiri. Dia bekerja sama dengan pemilik pabrik penggilingan gabah atau beras. “Saya ini juga hanya dibayar dari pemilik pabrik beras atau gabah. Ya, kalau makin banyak yang saya bisa kumpulkan dengan karung, juga semakin besar saya terima. Tapi, harga saya kurang tahu,” paparnya.
Bagi Amir, sekam yang selama ini membumbung di sebuah pabrik itu tak jauh dari rumahnya hanya bisa dijadikan pupuk seadanya dan tidak menghasilkan apa-apa. Bahkan, bila musim kemarau tiba, debu-debu pembakaran limbah sekam itu cukup membuat perih mata bagi penduduk yang bermukim di kampungnya, Bontokio.
“Beruntung ada PT Semen Tonasa bisa menampung dan menjadikan limbah sekam itu menjadi berharga dan menghasilkan rupiah,” tutur Amir.
Upaya yang dilakukan Amir dan sejumlah pengumpul limbah sekam di Sulawesi Selatan, khususnya Kabupaten Pangkep, diakui Senior Manager of AFR and Energy PT Semen Tonasa, Stevanus Bodro Wibowo.
Semen Tonasa, kata Stevanus, menjadi salah satu perusahaan yang memanfaatkan sekam padi menjadi bahan bakar alternatif. “Potensinya di Sulsel cukup besar, apalagi daerah ini dikenal sebagai lumbung beras di Indonesia,” ujarnya dihubungi pekan lalu.
Limbah sekam padi ini menjadi pilihan yang tepat digunakan sebagai bahan bakar. Apalagi sekam padi selama ini hanya menjadi limbah pertanian yang cukup mengganggu masyarakat dan lingkungan sekitar.
“Kita tawarkan solusi untuk kurangi efek negatif dari limbah sekam padi secara lingkungan dan masyarakat juga secara bersamaan mengurangi penggunaan energi fosil dalam proses produksi di Semen Tonasa,” ungkap dia.
Stevanus menyebutkan, pembelian bahan bakar dari limbah sekam padi itu diterima dari vendor berbagai daerah di Sulsel. Bukan hanya dari Pangkep, tapi juga daerah lainnya seperti Pinrang, Sidrap, Barru, Soppeng, dan Bone. “Tergantung kebutuhan. Kalau butuh banyak, maka sebagian besar dari luar Pangkep, karena tak cukup kalua hanya disuplai dari daerah ini,” paparnya.
Direktur Utama PT Semen Tonasa, Asruddin menyebutkan, salah satu inisiatif yang dilakukan PT Semen Tonasa dalam manajemen energi yaitu dengan memanfaatkan biomassa yang bersumber dari limbah pertanian sebagai bahan bakar alternatif.
Disebutkan, tingkat substitusi termal (TSR) biomassa dalam kegiatan produksi PT Semen Tonasa tercatat meningkat secara signifikan dari 1,17% menjadi 8,13% dalam kurun waktu antara 2019 dan 2022 dengan total jumlah limbah pertanian yang dimanfaatkan sebesar 157.297 ton.
“Pemanfaatan limbah pertanian seperti sekam padi, bonggol jagung, tangkos kelapa, dan semisalnya ini juga dapat menciptakan ekonomi sirkuler bagi para petani selama 4 tahun terakhir ini hingga lebih dari USD $ 2 juta,” kata alumni Fakultas Ekonomi Unhas ini.
Peningkatan penggunaan biomassa ini juga telah melalui proses penyesuaian pada raw mix design dan critical operating parameter (COP) untuk tetap mempertahankan kualitas produk. “Sehingga, kami menjamin produk kami yang ada dipasaran ini tetap sama kualitasnya. Bahkan sebenarnya jauh lebih baik dari sisi lingkungan dan juga sosial masyarakat,” imbuhnya. (*)




