Laksus Desak KPK Usut Nyanyian Ajudan NA di Persidangan

  • Whatsapp
Laksus Desak KPK Usut Nyanyian Ajudan NA di Persidangan
Muhammad Ansar

MAKASSAR, UPEK.co.id — Lembaga Anti Korupsi Sulsel (Laksus), desak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk mengusut nyanyian dua ajudan Gubernur Nonaktif, Nurdin Abdullah yang bersaksi dalam persidangan dugaan suap, di Pengadilan Tipikor Makassar, Kamis (3/6/2021).

Nyanyian atau keterangan saksi dua Ajudan NA dalam Sidang lanjutkan kasus dugaan suap perizinan dan Pembangunan Infrastruktur di lingkup Pemerintah Provinsi Sulsel tahun anggaran 2020/2021, mendudukkan Direktur PT. Cahaya Serpong Bulukumba, Agung Sucipto sebagai terdakwa.

Bacaan Lainnya

Di mana sebelumnya, di hadapan persidangan yang dipimpin oleh Wakil Ketua PN Makassar, Ibrahim Palino dan Hakim Anggota Yusuf Karim, Ajudan NA Syamsul Bahri menyebutkan dirinya pernah menerima sejumlah uang dari empat orang Kontraktor atas perintah Gubernur Sulsel, Prof Nurdin Abdullah.

Syamsul Bahri dalam keterangannya menyebut kontraktor yang dimaksud yakni Robert, Khaeruddin dan Veri Tandiadi serta Haji Momo.

Penerimaan pertama, kata Syamsul itu dari Kontraktor bernama Robert pada tahun 2020 saat itu dirinya diminta Nurdin Abdullah untuk menemui Kontraktor Robert di area Parkir Rumah Jabatan (Rujab) Gubernur Sulsel guna mengambil titipan dari Nurdin Abdullah ditempatkan dalam Kardus.

Penerimaan kedua, dari Kontraktor Haeruddin yang diperkirakan berjumlah Rp1 Milyar dan penerimaan itu pada awal Januari 2021 dengan atas perintah dari Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah.

Penerimaan ketiga itu dari Kontraktor Veri Tandiari pada tahun 2021 dan atas perintah dari Gubernur Sulsel, pengambilan uang senilai Rp2,2 Milyar itu dilakukan dirumah Pribadi Veri Tandiari.

Pengambilan keempat dari Kontraktor dari H. Momo yang diduga uang disimpan dalam Amplop dan sebelumnya disebutkan oleh Eks Kepala Biro Pengadaan Barang dan Jasa Pemprov Sulsel, Sari Pujiastuti saat bersaksi disidang sebelumnya.

Direktur Lembaga Anti Korupsi Sulawesi (Laksus), Muhammad Ansar turut merespons terkait penerimaan uang dari berbagai kontraktor tersebut. Ansar menilai penyerahan uang itu diduga digunakan sebagai alat pelicin untuk memudahkan mendapat proyek tersebut.

“Kami sangat mengapresiasi langkah KPK terkait kasus suap NA tersebut, kami berharap agar KPK mendalami kasus suap empat kontraktor yang fakta persidangan terlibat memberikan setoran fee ke ajudan NA, “desak Ansar, Sabtu (5/6/21).

Ansar berharap KPK RI tidak hanya pada dua orang tersangka saja, melainkan juga menindaklanjuti fakta-fakta persidangan yang menyeret beberapa nama kontraktor ternama di Sulsel yang ikut menyetor uang kepada Nurdin Abdullah guna mendapat proyek.

“Kami dari lembaga antikorupsi Sulsel berharap agar kasus ini bisa menyeret siapa saja yang terlibat. Bukan hanya pada dua orang itu, karena di fakta persidangan sudah jelas, wajib diseret semua yang memberikan uang kepada Nurdin Abdullah. Jangan hanya satu kontraktor saja,” tegasnya. (Jay)