Mempertahankan Perkawinan

  • Whatsapp
Mempertahankan Perkawinan

Perkawinan adalah ikatan suci, sakral dan mulia. Hal ini dinyatakan dalam Undang-undang Perkawinan (UUP) sebagai ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Mempertahankan Perkawinan
Dalam pandangan islam, perkawinan adalah aqad (perjanjian yang mengikat) dalam rangka mentaati Allah dan melaksanakannya bernilai ibadah. Sebagaimana sudah kita maklumi tujuan tertinggi perkawinan dalam Islam adalah untuk mewujudkan suatu kehidupan keluarga yang aman tenteram; rukun dan damai “sakinah” ( happy family life) sebagaimana firman Allah:
وَمِنْ آَيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
Artinya :”Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenang kepadanya (sakinah) dan dijadikan oleh-Nya diantaramu rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir” (Ar Ruum: 21)

Bacaan Lainnya

Perkawinan dalam Islam tujuan dan sasarannya jelas dan terang, yaitu : Membina kehidupan keluarga yang rukun, tenang dan bahagia Hidup cinta-mencintai dan kasih-mengasihi, Melanjutkan dan memelihara keturunan manusia
Bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan membentengi diri dari perbuatan maksiat atau menyalurkan naluri seksual secara halal. Membina hubungan kekeluargaan yang akrab dan mempererat silaturrahim antara keluarga.

Di sisi lain Al Qur’an menyebut perkawinan sebagai مِيثَاقًا غَلِيظًا (mitsaaqan ghalidzhan) yaitu perjanjian yang kuat, (ikatan yang suci). Istilah mitsaaqan ghalidzhan sendiri dalam Al Qur’an hanya tersebut sebanyak tiga kali yaitu perjanjian Allah dengan bani Israil, perjanjian Allah dengan para Rasul khususnya Ulul Azmi dan perjanjian yang diambil dari seorang suami ketika menikahi istrinya.

Atas nama kesucian dari ikatan perkawinan serta mulianya tujuan-tujuan perkawinan itu maka satu-satunya halal yang paling dibenci oleh Allah SWT adalah perceraian atau talak yaitu lepasnya/putusnya ikatan suci perkawinan tersebut. Nabi SAW bersabda:
أَبْغَضُ اَلْحَلَالِ عِنْدَ اَللَّهِ اَلطَّلَاقُ
Artinya:”Talak (perceraian) adalah suatu yang halal, yang paling dibenci Allah” (HR. Abu Daud)
Bahkan, jika seorang wanita meminta cerai dari suaminya tanpa alasan yang tepat akan dimurkai oleh Allah SWT. Nabi SAW bersabda:
أَيُّمَا امْرَأَةٍ سَأَلَتْ زَوْجَهَا الطَّلَاقَ مِنْ غَيْرِ مَا بَأْسٍ فَحَرَامٌ عَلَيْهَا رَائِحَةُ الْجَنَّةِ
Artinya: “Siapa saja seorang isteri minta cerai dari suaminya tanpa alasan (sebab yang dibenarkan), niscaya dia tidak akan mencium bau surga.”(HR. Ahmad)

Karena mulianya perkawinan dalam islam, dan luhurnya cita-cita dari sebuah keluarga, ia juga dipandang sebagai ibadah. Oleh sebab itulah pernikahan harus dipertahankan. Perceraian hanya terjadi dalam kodisi tertentu dan dengan alasan yang sangat kuat pula.

Jika mencermati Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam (KHI) kita akan menemukan bahwa Perceraian itu sebetulnya dipersulit (Pasal 38-40 UUP jo. Pasal 113-116 KHI). Pasal 38 menyatakan bahwa: “Perkawinan dapat putus karena: (a) kematian; (b) perceraian; dan (c) atas keputusan Pengadilan”, dan pasal 39 yang berbunyi: “(1) Perceraian hanya dapat dilakukan di depan Sidang Pengadilan setelah pengadilan yang bersangkutan berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua belah pihak; (2) untuk melakukan perceraian harus ada cukup alasan, bahwa suami isteri itu tidak dapat hidup rukun sebagai suami isteri”
Ketatnya aturan (dipersulitnya perceraian) dalam Undang-Undang adalah bagian dari upaya pemerintah untuk mempertahankan setiap perkawinan yang telah terjadi dan aturan tersebut juga adalah usaha mencegah terjadinya perceraian.

Hal itu disebabkan karena pada prinsipnya per-kawinan adalah ikatan suci sehingga harus terus dipertahankan. Hal lain adalah besarnya akibat buruk yang disebabkan oleh perceraian. Secara hukum, perceraian mengakibatkan hilangnya hak-hak sebagai suami istri, sementara secara sosial perceraiaan paling tidak memberikan stigma bahwa seseorang, baik suami maupun istri, tidak becus dalam urusan keluarga. Belum lagi anak-anak yang akan mengalami gangguan mental, ketidak jelasan masa depan, kehilangan kasih sayang akibat perceraian tersebut.

Oleh sebab itulah, segala usaha yang mungkin dan benar harus dilakukan dalam rangka mempertahankan bahtera rumah tangga. UUP mengamanatkan kepada setiap pasangan suami isteri untuk berusaha memelihara perkawinan mereka dan mem-pertahankannya supaya tidak bubar dan berakhir dengan perceraian. Dalam Pasal 30 UUP dinyatakan bahwa: Suami isteri memikul kewajiban yang luhur untuk menegakkan rumah tangga yang menjadi sendi dasar dari susunan masyarakat. Selanjutnya dijelaskan dalam Pasal 33 bahwa: Suami isteri wajib saling cinta mencintai, hormat menghormati, setia dan memberi bantuan lahir bathin yang satu kepada yang lain.

Sehubungan dengan keharusan mempertahankan perkawinan ini, dan supaya keutuhan rumah tangga tetap bisa dijaga, maka sebaiknya memperhatikan beberapa tips pernikahan yang banyak dilakukan oleh pasangan yang hidup sampai kakek nenek. Bagi saya, kiat-kiat untuk mempertahankan perkawinan bisa jadi sangat banyak. Oleh karena itu akan saya sebutkan beberapa saja yang terpenting.

Komunikasi yang baik. Kadangkala, masalah komunikasi menjadi penyebab retaknya hubungan suami isteri. Oleh sebab itu segeralah mengko-munikasikan sesuatu yang dianggap mengganggu sebelum menjadi rumit. Tidak jarang pula, sesuatu yang sebetulnya kecil dan sederhana menjadi besar karena didiamkan dan tidak dibicarakan dengan pasangan. Kembalilah ke masa-masa Anda mulai berkenalan dulu, jadikan masa-masa indah itu rujukan dalam meng-komunikasikan masalah rumah tangga.

Pertahankan kemesraan dari waktu ke waktu. Dan contoh terbaik bagi seorang muslim dalam mem-pertahankan kemesraan rumah tangganya adalah Rasulullah SAW. Dalam riwayat, Rasulullah SAW bergandengan Tangan dengan istrinya, membelai dan mencium istrinya, rajin memuji, tidur seranjang dengan istrinya meskipun dalam keadaan haid. Sebagaiman Nabi SAW menjaga kemesraan dengan istrinya melalui mandi berdua. Untuk zaman sekarang, memepertahankan kemesraan dapat pula dengan sengaja makan berduaan di warung makan, restoran paforit sewaktu masih muda atau pengantin baru.

Lihat kelebihan pasangan, jangan sebaliknya. Misalnya, mungkin secara materi dan fisik, pasangan kita mempunyai banyak kekurangan. Akan tetapi secara faktual dialah yang selama ini mendampingi dalam suka dan duka bertahun-tahun bahkan puluhan tahun lamanya, adalah bukti kesetianan pasangan. Bukankah katanya di jaman sekarang sulit menemukan pasangan setia? Belum lagi dia telah memberi keturunan, rumah bahkan harta?! Bagaimana mungkin sebuah pasangan suami isteri yang tidak saling cinta bisa punya anak lebih dari satu. Berarti, ada satu atau dua kelebihan yang kita sembunyikan dari pasangan kita. Sambil terus berjalan, segala kekurangan pasangan kita itu dilengkapi dengan kelebihan yang kita miliki.

Jika Ada Sesuatu Yang Tidak Disukai Pada Pasangan, Bersabarlah. Boleh jadi sesatu yang kita senangi tidak baik akibatnya sebagaimana sesuatu yang kita benci belum tentu buruk buat kita. Allah SWT berfirman:
وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا
Artinya: “Dan bergaullah dengan mereka secara ma’ruf (patut). Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak. (QS. An Nisa: 19)

Belajar Mengalah. Ada pri bahasa lama yang mengatakan “Mengalah Untuk Menang.” Anda harus mengalah jika memang pasangan sedang ingin sesuatu. Atau sebaliknya, pasangan Anda harus mengalah jika tahu bahwa Anda sedang menginginkan sesuatu. Jika kemarahan dibalas dengan kemarahan tanpa ada yang mau mengalah maka kemarahan tersebut akan meledak, membakar apa saja bahkan bisa menjalar ke mana-mana. Bukankah realita juga berkata bahwa tidak selamanya kita berada di pihak yang benar? Ringkasnya, dengan saling mengalah, maka akan tercipta hubungan yang kuat satu sama lain.

Pertimbangkan Keluarga Terutama Anak-anak. Jika terjadi konflik dalam rumah tangga, jangan tergesa-gesa memutuskan untuk bercerai. Ada banyak hal yang perlu diper-timbangkan. Bercerai berarti memisahkan dua keluarga besar. Bercerai juga berarti merusak kejiwaan anak-anak. Bisa jadi dengan perceraian itu anak menjadi berperangai buruk, pendidikan terganggu, bahkan pertumbuhan fisik dan kejiwaannya juga. Anak selalu menjadi korban pertama dari setiap perceraian.

Keluarga yang terbentuk melelui perkawinan adalah institusi suci yang harus dipertahankan dari kehancuran. Dalam memelihara perkawinan dan keluarga, Islam mengajarkan bagaimana sebaiknya sikap suami dan isteri, pembagian tugas dan wewenang, hak dan kewajiban yang harus ditunaikan. sampai kepada mua’syarah yang baik memupuk segala yang akan menguntungkan dan meninggalkan semua yang akan merugikan. Termasuk dalam hal mempertahankan perkawinan. UUP dan KHI sebagai rujukan hukum di Indonesia juga mengatur hal ini dengan relative lengkap.

Harapan besar kedepan adalah setiap keluarga yang telah terbentuk melalui lembaga perkawinan menjadi “keluarg-keluarga yang tangguh” yang pada gilirannya menjadi pilar dalam perbaikan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Keluarga adalah awal pembangunan sekaligus tujuan akhir dari pembangunan itu sendiri. Oleh karenanya, perkawinan dan keluarga harus dipertahankan!