Ada Warga Miskin di Laikang Belum Tersentuh Bantuan Pemerintah

  • Whatsapp
Ada Warga Miskin di Laikang Belum Tersentuh Bantuan Pemerintah

Ada Warga Miskin di Laikang Belum Tersentuh Bantuan Pemerintah

TAKALAR, UPEKS.co.id—-Pemerintah terus menggelontorkan bantuan kepada masyarakat kurang mampu.  Tujuannya untuk perbaiki tingkat kesejahteraan, dan ekonomi masyarakat.

Bacaan Lainnya

Nasib baik belum berpihak kepada salah satu warga Desa Laikang Kecamatan Mangarabombang, Soreang Dg  Ngesa dan Ittia. Kondisi keluarganya sangat memprihatikan.

Mereka tinggal di sebuah rumah gubuk berkuran 5 meter persegi (2,5 x 2,5 meter) yang dibangun di atas lahan  milik orang lain.

Untuk berkunjung ke rumah Milik Soreang Dg Ngesa menempuh jarak yang cukup jauh, sebab mereka tinggal  jauh dari perkampungan penduduk.

Selain kondisi jalan kurang bersahabat, karena pasutri tinggal jauh dari  keramaian,(kasarnya tinggal di tengah hutan), Tepatnya di perbatasan Dusun Laikang dan Dusun Punaga  Kecamatan Mangarabombang Takalar.

Sangat memilukan di usia memasuki setengah abad, keduanya harus tinggal di sebuah gubuk tidak layak pakai  yang dibangun di atas tanah milik warga lain,tanpa fasilitas listrik dan air bersih. Mereka bertahan hidup dengan  berkebun.

Saat ditemui dikediamannya kondisi kesehatan Daeng Ngesa (Suami Ittia) dalam keadaan fisik yang lemah.  Lantaran mengalami demam dan sakit kepala.

”Kami bersama Istri sudah lama menetap di lokasi ini,namun pemerintah belum pernah ada bantuan terlebih  namanya Bantuka Langsung Tunai dari pemdes setempat,” ujarnya.

“Sejak musim penghujan,tidak bisa tertidur dengan nyenyak lantaran atap rumah bocor dan menganga,dinding  rumah hanya menggunakan terpal kombinasi bambu.”terangnya.

Selain bantuan tidak pernah didapatkan,apalagi sarana listrik yang tidak dimiliki,keluarga miskin papah ini, hanya  menggunakan pencahayaan lampu minyak tanah terbuat dari kaleng cat.

“Kalau hujan keras pak, tidak tidur. Apalagi jika guntur dan kilat. Saya sama istriku selalu berjaga jaga,karena atap  rumah saya bocordan pencahayaan berbahan minyak tanah “terangnya.

Lanjut dikatakan selain berbahan minyak tanah, kamai juga menggunakan lampu cas itupun pemberian warga.  Hanya jika mau cash lampu, harus kerumah warga yang lumayan cukup jauh” ujarnya.

Menurut Daeng Ngesa, musim hujan merupakan sebuah keberkahan, pasalnya kami dan istri dapat memperoleh  air bersih,ironisnya jika tidak hujan atau bukan musim hujan, kami ke rumah warga menempuh jarak 2 kilo meter  untuk mengambil air.

Selama menetap jauh dari padat penduduk. Pasutri tersebut tidak mendapatkan bantuan dari pemerintah. Baik itu  BLT, PKH ataupun bantuan lainnya semasa pandemi Covid-19 melanda. Bahkan karena jarak yang jauh dari pemukiman warga bantuan dari warga pun tak pernah dia terima.

Salah satu warga, Ari Daeng Tompo yang menemani wartawan menuju kediaman Pasutri tersebut berharap  pemerintah ataupun para dermawan memberikan bantuan. Alasannya, warga seperti inilah yang perlu  diperhatikan oleh pemerintah setempat.

“Kalau bisa dibantu dapatkan tempat tinggal yang layak, kayak rumah yang tidak jauh tempatnya, apalagi bukan  tanahnya,” pinta Daeng Tompo.(Jahar).

Pos terkait