Dekan Teknik UMI Khatib Idul Adha di Masjid Al Adawiyah

  • Whatsapp

Dekan Teknik UMI Khatib Idul Adha di Masjid Al Adawiyah

MAKASSAR.UPEKS.co.id—Dekan Fakultas Teknik UMI, Dr. Ir. H. Mukhtar Tahir Syarkawi, MT. khutbah Idul Adha  di Masjid al Adawiyah Kompleks UMI, Ahad (11/8).

Bacaan Lainnya

Hadir jamaah Masjid Al Adawiyah termasuk, dosen dan karyawan UMI beserta keluarga, Nampak Ketua
Pembina YW UMI, Prof. Dr. H. Mansyur Ramly, SE., beserta keluarga, Ketua Pengurus Yayasan Masjid  Adawiyah, Prof.Dr. H. Abd Kadir Ahmad,MS dan Pengurus Majelis Taklim Muslimah Kompleks UMI.

Mukhtar Tahir menyampaikan Salat ied merupakan ikrar bersama dibawah satu naungan dan satu aba-aba yang
menjunjung kalimat yang luhur.

Semua bertekad mengabdikan diri hanya kepada Allah, dzat yang maha adil, demi  menggapai kehidupan yang penuh dengan ridho dan magfirah Allah SWT.

Ada dua momentum bersejarah dalam hari raya idul adha yaitu pelaksanaan rukun islam ke lima, ibadah haji dan
kedua berkurban.

Alumni Fakultas Teknik UMI ini menguraikan, makna pelaksanaan ibadah haji yang menjadi pelajaran bagi kita
semua, semoga setiap yang menunaikannya menjadi Haji Mabrur, yang tidak ada ganjarannya selain syurga.

Demikan juga makna kita berkurban. Kewajiban untuk melaksanakan qurban sebagai bentuk rasa syukur dan
terima kasih kepada Allah atas rezki dan nikmat yang diberikan pada hambanya beriman dan bertaqwa,
sebagaimana dalam surah al kausar, ayat dua, yang artinya, maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu, dan  berqurbanlah.

Kendati sejarah berqurban sudah berlangsung sejak generasi pertama umat manusia, namun syariat ibadah  berkurban dimulai dari cerita perintah Allah kepada Nabi Ibrahim a.s untuk menyembelih anak kesayangannya,  Ismail,AS,

Seorang anak yang didambakan, dan alhamdulillah Allah mengabulkannya, hanya saja ketika anak itu menginjak
dewasa, Nabi Ibrahim bermimpi berupa wahyu dari Allah, untuk menyembelih anaknya.

Ketika hal ini disampaikan kepada anaknya, sang anak menjawab Wahai Bapakku laksanakalanh perintah  Tuhanmu, Insya Allah kamu dapati aku termasuk orang-orang yang sabar.

Tatkala sang Bapak dan Anak pasrah kepada ketentuan Allah, dan siap menjalankan perintah Allah, namun atas  kehendak Allah, drama penyembelihan anak manusia batal  ilaksanakan dan diganti dengan seekor domba. (Surah Ashffat), urai Mukhtar.

Ibadah kurban yang setiap tahun kita rayakan adalah bentuk i’tibar atau pengambilan pelajaran kisah Nabi Ibrahim,AS. Ada tiga pesan yang dapat ditatik dari kisah tersebut, yaitu pertama totalitas kepatuhan kepada Allah SWT. Allah seolah meningatkan Nabi Ibrahim bahwa anak titipan Allah.

Anak betapapun mahalnya kita menilai, tak boleh melengahkan kita bahwa hanya Allah tujuan akhir dari rasa
cinta dan ketaatan. Kedua, kemuliaan manusia, dan ketiga, hakikat pengorbanan.

Sedekah daging hewan  hanyalah symbol dari makna korban yang sejatinya sangat luas, meliputi pengorbanan dalam wujud harta benda,  tenaga, pikiran dan sebaganiya.

Pengorbanan merupakan manisfestasi dari kesadaran kita sebagai makhluk social, ujar Mukhtar. (rls)

Pos terkait