FORUM Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Sulawesi Selatan menggelar Dialog Lintas Agama, bertempat di Warkop Arnum Makassar, Jalan Tupai Makassar, Kamis (4/4/2024)
Dialog yang dibarengi buka puasa bersama ini mengangkat tema Puasa dan Nilai Kemanusiaan dalam Perspektif Agama Agama.
Tampil sebagai narasumber, Ketua MUI Sulsel, Ketua PGIW Sulsebara, Uskup Agung Makassar, Ketua PHDI Sulsel, Ketua Walubi Sulsel, Ketua Permabudhi Sulsel dan Ketua Matakin Sulsel.
Ketua FKUB Sulsel, Prof Dr. H.Wahyudin Naro, M.Hum yang belum lama ini dilantik, menyampaikan dialog ini diharapkan menjadi media edukasi edukasi kepada masyarakat bahwa puasa merupakan ritual nenek moyang, karena semua agama/keyakinan mengajarkan umatnya tentang puasa sebagai bentuk pengendalian diri.
“Akan tetapi waktu dan cara pelaksanaannya berbeda, misalnya pusa nusantara dan puasa diagonal, dan sebagainya,” ungkapnya dalam dialog yang dipandu dan dipandu moderator Drs. KH. Hasid Hasan Palogai, MA.
Lebih lanjut disampaikan Puasa itu merupakan ritual nenek moyang. Puasa adalah ibadah yang dilakukan oleh umat lain sebelum Islam dan juga ada istilah puasa nusantara yang dilakukan 35 hari, puasa di Katolik, puasa di gereja Protestan, puasa dalam agama Buddha, dan lainnya. “Ini artinya puasa bukan cuma kewajiban dalam umat islam saja,” ujar Wahyuddin Naro.
Pada bagian disebutkan, Puasa itu sangat erat hubungannya dengan nilai kemanusaian, karena didalamnya memiliki empati kepekaan sosial terhadap sesama manusia yaitu menahan lapar dan dahaga. Bagaimana menahan makan dan minum termasuk bagi yang memiliki keterbatasan.
Sementara, mewakili Ketua Persekutuan Gereja Indonesia Wilayah (PGIW) Sulselbara diwakili Sekretaris PGIW Pendeta Yohanis Metris, menyampaikan bahwa seluruh umat beragama beribadah dengan keyakinan masing masing, terkait soal puasa dilakukan umat kristen, itu dilaksanakan puasa selama 40 hari, menahan diri dengan tidak melakukan perbuatan tercela dan lainnya.
“Unsur yang penting dalam puasa kristen itu adalah Doa, yakni merendahkan diri dihadapan Tuhan, menyadari diri sebagai mahluk yang lemah,” ujarnya.
Sedangkan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulsel Anregurutta Prof H Nadjamuddin AS, MA, menuturkan sejak dahulu umat Islam telah diperintahkan untuk berpuasa, bahkan umat-umat sebelum Nabi Muhammad Saw, mereka telah diperintahkan untuk melakukan puasa.
“Ulama pun telah menafsirkan bahwa umat terdahulu telah berpuasa, meskipun lama dan cara berpuasanya itu berbeda beda. Puasa sangat erat kaitannya dengan kemanusiaan, karena hikmah paling besar dari puasa itu adalah bagaimana rasanya menahan lapar,” ungkapnya.
Disebutkan berpuasa dan merasakan lapar, maka akan timbullah rasa kemanusiaan dalam diri manusia dan tumbuhnya rasa kepedulian antar sesama.
Perwakilan Keuskupan Makassar Pastor Darius Allo menjelaskan, puasa dalam katolik itu waktunya 40 hari. Dalam puasa ada disebut dengan aksi puasa pembangunan. Yaitu dengan menyisikan harta untuk kegiatan kegiatan sosial. Puasa dilakukan dengan tujuan pertobatan dan kemanusiaan dengan membantu dan saling mengasihi.
Sedangkan konsep puasa dalam agama Hindu, tujuannya menjalin kedekatan dengan maha kuasa, dengan melaksanakan puasa di hari kamis suci dan hari raya nyepi.
Sama dengan yang lainnya, Puasa dalam hindu adalah Menahan lapar dan haus, termasuk nafsu dengan waktu 24 jam sesuai dengan kemampuan.
Dalam Agama Buddha, seperti disampaikan Roy Ruslim Puasa dalam
Puasa dilaksanakan biasanya dua hari dalam sebulan dengan mengamalkan sisi moralitas dalam agama buddha. Waktunya berpuasa yaitu dari matahari terbit hingga matahari terbit berikutnya.
Sedangkan Romo Hemajayo Thio, menjelaskan dalam agama Buddha, kewajiban Puasa dengan tidak makan dan minum dilaksanakan diwaktu waktu tertentu. Tujuannya menahan diri dari dorongan dan keinginan untuk tidak melakukan hal-hal yang dilarang.
Sementara Ketua Matakin Sulsel, Dr. Ferdy Sutono, MS, menyebut Puasa dalam agama Khonghucu adalah ibadah yang arahnyna mensucikan diri secara rohani dan jasmani kepada tuhan yang maha kuasa. Puasa sebagai sarana mengendalikan diri, dan pertobatan.
Sementara Kepala Kanwil Kemenag Sulsel H Muh Tonang mengatakan, penguatan moderasi beragama pada Kementerian Agama sudah berlangsung sejak tahun 2019 silam. Berbagai Kementerian Agama telah melakukan internalisasi dan bimtek-bimtek, TOT, dalam rangka penguatan moderasi beragama.
“Peran dan fungsi FKUB yang dimulai sejak merancang program, dan pemberian izin-izin pendirian rumah ibadah yang terkadang gampang-gampang sulit, hal itu dikarenakan adanya benturan dengan masyarakat setempat, namun dengan komunikasi yang baik persoalan tersebut dapat terselesaikan dengan baik,” kata Kakanwil Kemenag Sulsel.
Sekretaris PW Muslimat NU Sulsel, Dr. Hj. Mardyawati Yunus, MA menyambut baik Kegiatan yang digelar FKUB Sulsel. “Sangat menarik karena tema yang diangkat terkait pandangan agama terhadap puasa,” ungkapnya.
Menurutnya, konsep puasa ada di semua agama. Bukan hanya umat Islam yang melaksanakan puasa, tapi semua agama, yang membedakan tata cara, waktu dan niatnya. Dialog lintas agama ini diakhiri dengan buka puasa bersama.(jar)

