KOLAKA, UPEKS.co.id — Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) ke-76, Ketua Komisariat Wilayah (Komwil) Lembaga Misi Reclasering (LMR-RI) Sulawesi Tenggara (Sultra), Haning Abdullah mengatakan perjalanan bangsa ini, kini sudah memasuki 76 tahun sejarah telah mencatat dengan tinta emasnya.
“UUD1945 sebagai landasan konstitusional bangsa ini tak lekang oleh panas dan tak lapuk oleh hujan, dan Pancasila sebagai sumber energi yang dahsyat bagi bangsa ini dalam menghadapi setiap permasalahan dan kesulitan,” kata Haning saat disambangi media ini di kediamannya, ketika dimintai tanggapannya dalam memperingati HUT RI ke-76 di tengah pandemi Covid-19.
Menurutnya, kehadiran pandemi Covid-19 semua orang terkaget-kaget dan bingung, sendi-sendi ekonomi selama ini berjalan dengan baik kini terusik, interaksi sosial tak bisa lagi dengan leluasa karena ada rambu-rambu Protokol Kesehatan (Prokes) Covid-19 yang harus dipatuhi dan dilaksanakan, sehingga bangsa ini kembali diperhadapkan pada multi permasalahan.
“Kira harus akui dengan kehadiran pandemi Covid-19 bangsa ini harus diperhadapkan dengan multi permasalahan,” ujar Haning alumni salah satu PTN Makassar.
Kehadiran pandemi Covid-19 merupakan bencana kesehatan tidak hanya dirasakan oleh bangsa ini tetapi hampir semua negara terusik oleh bencana ini.
Bukan hanya pertumbuhan ekonomi yang dilemahkan tetapi hampir semua sendi-sendi dan nadi kehidupan diporak-porandakan. Ratusan ribu nyawa sudah hilang tidak mengenal status setiap orang akibat bencana Covid-19.
Wabah Covid-19 menurut Haning telah memicu tidak sehatnya cara berpikir dari segelintir atau sekelompok elit yang memiliki sudut pandang bernuansa kepentingan politik, setiap waktu bisa meracuni cara berpikir rakyat sehingga tidak percaya dengan keseriusan pemerintah dalam upaya memutus mata rantai Pandemi Covid-19.
Dikatakannya bangsa ini menghadapi multi permasalahan bukan hanya persoalan kesehatan, politik, ekonomi yang serba memanas tetapi termasuk kehidupan beragama terganggu kebersamaan akibat adanya perbedaan sudut pandang dan pemahaman sejak adanya Covid-19.
“Fenomena lapangan sejak adanya pandemi Covid-19 ini, cukup rentan untuk dimanfaatkan oleh pihak-pihak dan kelompok tertentu untuk memecah belah persatuan dan kesatuan NKRI mungkin itu tanpa kita sadari,” kata Haning.
Lanjut Haning, momentum HUT RI Kemerdekaan RI ke-76 tahun 2021, menurutnya jangan hanya slogan dan kata-kata pencitraan diri yang menggaung. Akan tetapi, bagaimana kita kembali ke napas UUD 45 dan Pancasila sebagai satu kesatuan yang utuh dalam menghadapi persoalan bangsa di masa pandemi Covid-19 saat ini.
“Kita bangsa Indonesia berketuhanan Yang Maha Esa (YME). Berkemanusiaan dan berkeadilan, mengedepankan persatuan dan menyelesaikan permasalahan dengan musyawarah yang penjabarannya adalah keadilan sosial. Jadi tidak perlu ada pertentangan dan polemik. Kalaupun berbeda pendapat dan sudut pandang itu biasa, tapi intinya kita tetap mengedepankan kepentingan rakyat, bangsa dan negara,” terangnya.
“Sebagai umat beragama dan berbudaya harusnya kita menghargai perbedaan bukan justru saling bermusuhan, karena kita kembali ke sila ke-4 diselesaikan dengan musyawarah. Sebagai orang berketuhanan harus memiliki sikap sabar, sabar menaati petunjuk medis dalam situasi pandemi Covid-19 dengan patuh pada protokol kesehatan (Protkes),” jelasnya.
Berbagai upaya dan teori ilmiah lainnya dalam upaya memutus dan mengakhiri pandemi Covid-19 dari bumi NKRI ini, semua agama mengajarkan harus ada ikhtiar usaha secara lahiriah, dengan memohon doa dan berserah kepada sang pencipta sesuai agama dan kepercayaan masing-masing.
Nilai- nilai luhur warisan leluhur negeri ini yang telah termaktub dalam UUD 45 dan Pancasila adalah kekuatan energi yang dahsyat dalam menghadapi segala permasalahan yang dihadapi saat ini termasuk pandemi Covid 19, merupakan aplikasi nilai-nilai UUD 45 dan Pancasila dalam praktik kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Saya berbicara ini sebagai bentuk sumbangsih pendapat dan saran sebagai Ketua Komwil LMR-RI BPH NMS Sultra dimana kami adalah Missi Reklasering untuk selalu kembali ke tatanan yang benar sesuai nilai-nilai luhur negeri ini,” pungkasnya.
Mengakhiri ungkapannya ia mengajak kepada semua masyarakat tetap semangat memiliki idealisme Kebangsaan Indonesia dan keutuhan kedaulatan NKRI.
“NKRI itu harga mati tidak ada tawar menawar, dan menaati Prokes itu wajib demi dan untuk saling melindungi diri, keluarga dan juga melindungi orang lain,” ujar Haning yang pernah memperoleh penghargaan dari Harian Ujungpandang Ekspres (Upeks) sebagai narasumber teraktif. (*)
Laporan: Philips Nazareth (Wartawan Kompetensi Muda dari Dewan Pers)




