MAKASSAR,UPEKS.co.id– Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulsel, Hasan Sijaya menjadi pembicara utama dalam Dialog Akhir Tahun 2020 dan Resolusi 2021, dengan teman,” Perpustakaan, literasi dan Kebudayaan, Senin(29/12/2020)
“Saya merasa senang hari, dialog selain dihadiri unsur pejabat Dinas Perpustakaan dan Kearsipan dan berbagai pustakawan. Setelah menjabat hampir tiga tahun jadi Kadis, sudah mulai berkembang, dulu sangat lemah,” terang Hasan.
Hasan setelah menjabat memulai memetakan titik lemahnya, juga kondisi sarananya sangat memperihatinkan.
“Saya mengambil sikap, memperbaiki dulu fisiknya, bukan SDMnya, sehingga suasananya bagus, nyaman, maka para pustakawan bisa tenang,” paparnya.
Lebih dari itu, Hasan membangun sebuah perpustakaan anak dan ibu, dan menjadi percontohan di seluruh Indonesia.
“Setelah membenahi semua fisik, Kami bangun perpustakaan layanan anak dan ibu, anaknya belajar dan ibunya diedukasi. Perpustakaan ini menjadi contoh di seluruh Indonesia, dan Gubernur Sulsel dapat penghargaan,” terang Hasan
Setelah fisik dibenahi, Hasan genjot peningkatan kualitas SDM dengan melakukan Tour ke kabupaten di seluruh Sulsel.
“Perpustakaan tidak bisa dibenahi tanpa melibatkan kabupaten, Alhamdulillah para Bupati respon, mulai memperhatikan perpustakaan, “ tandasnya.
Hasan juga mengakui semua program perpus, tidak bisa jalan tanpa dorongan dari para penggiat literasi, ini kolaborasi yang baik dalam mencerdaskan anak bangsa.
Sementara itu, Seniman Yudhistira memberi catatan penting dalam dialog Akhir Tahun 2020 dan Resolusi 2021 terutama mengenai perpustakaan digital.
“Saya berpikir orang datang di perpus ini untuk mengambil data, begitu juga tidak perlu datang di sini, hanya untuk mengambil data, karena semua bisa didapat secara digital,” terang Yudhistira, Senin(29/12/2020).
Ke depan, lanjut Yudhistira dunia literasi digital penting, sehingga perlu didorong untuk melahirkan generasi literasi, terutama dalam terciptanya penulis-penulis hebat di Sulsel.
Budayawan Sulsel, Asmin Amin, juga memberi catatan penting tentang budaya literasi di Sulsel, baginya kinerja dinas perpustakaan perlu diapresiasi, dengan berbagai program strategis.
“Saya ingin apresiasi dengan kinerja dinas perpustakaan, pemimpi harus bekerja dengan tulus, sehingga karyanya selalu dikenang. Khairil Anwar bisa sudah mati, tapi karyanya terus dikenang sampai sekarang,” ujar Asmin berpetuah.
Mantan anggota DPR RI dari PKS ini menilai, bekerja menjadi perpustakawan itu berat di Indonesia, karena budaya tutur, berbeda dengan barat.
“Menjadi pustakawan berat di Indonesia karena budaya tutur, sangat berbeda dengan barat, yang budaya tulis. Ini tantangan dalam gerakan literasi di Indonesia,” paparnya.
Sementara itu, Ketua Forum Perpustakaan Loromg Sulsel Bachtiar Adnan Kusuma, menilai kebersamaan dengan berbagai pihak, terutama media dalam menggerakkan literasi di Sulsel.
“Gerakan literasi bisa diakselerasi karena kerjasama dengan semua pihak, terutama media. Peradaban besar karena ditopang dengan media,” ungkap tokoh literasi Sulsel ini.
Bak menilai, gerakan literasi dan program perpustakaan ini harus selalu diberitakan ke semua lini masyarakat, di sinilah pentingnya media dalam menggerakkan ini
“Setiap kegiatan literasi dan perpustakaan perlu disebarluaskan ke masyarakat, media sangat berperan penting mensosialisikan kegiatan-kegiatan tersebut,” tandas Bak.
Meskipun demikian, Bak beranggapan perjuangan literasi tahun 2021 semakin berat, sehingga perlu kerja keras, namun tetap harus optimis.
“Semakin berat perjuangan dalam gerakan literasi 2021, namun tetap optimis, karena gerakan literasi adalah gerakkan membangun peradaban manusia,” imbuh Bak.
Kegiatan yang dipandu oleh Ketua Ikatan Perpustakaan Indonesia (IPI) Sulsel, Dr Quraisy Mathar ini, dihadiri pejabat Dinas perpustakaan dan Kearsipan Sulsel, para pustakawan, serta beberapa pimpinan media.(rls)




