Enam Hari Pelatihan Sertifikasi, Pembimbing Haji dan Umrah Didorong Profesional dan Moderat

Enam Hari Pelatihan Sertifikasi, Pembimbing Haji dan Umrah Didorong Profesional dan Moderat

MAKASSAR, UPEKS.co.id — Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Sulawesi Selatan bekerja sama dengan Program Studi Manajemen Haji dan Umrah Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar, menggelar Sertifikasi Pembimbing Ibadah Haji dan Umrah Angkatan III (Mandiri) Tahun 2026.

Kegiatan yang mengusung tema “Standarisasi Kompetensi Pembimbing Ibadah Haji dan Umrah yang Profesional dan Moderat” ini diikuti 65 peserta dari berbagai daerah. Sertifikasi berlangsung selama enam hari, mulai Jumat malam (6/2/2026) hingga Rabu malam (11/2/2026).

Bacaan Lainnya

Rektor UIN Alauddin Makassar, Prof Hamdan Juhannis menekankan pentingnya profesionalisme dan kematangan pribadi bagi seorang pembimbing ibadah haji dan umrah. Menurutnya, seorang pembimbing tidak hanya dituntut memiliki pengetahuan keagamaan, tetapi juga kemampuan mengelola diri.

“Tidak mungkin menjadi pembimbing haji profesional kalau dirinya saja tidak tuntas, tidak selesai,” ujarnya usai menutup kegiatan Sertifikasi Pembimbing Ibadah Haji dan Umrah Angkatan III (Mandiri) Tahun 2026.

Rektor juga menekankan bahwa salah satu aspek penting yang harus diperkuat adalah kemampuan mengelola emosi. Mengingat pembimbing akan berhadapan dengan jemaah yang memiliki beragam karakter, kepentingan, dan latar belakang. Pengendalian diri menjadi kunci utama.

“Pembimbing ibadah haji itu rujukan untuk ibadah. Maka harus mampu mengelola emosi, tidak mudah baper, tidak sensitif berlebihan, dan mampu mengontrol diri,” imbuhnya.

Selain pengendalian emosi, Prof Hamdan menyebutkan tiga hal utama yang harus dimiliki seorang pembimbing haji dan umrah. Pertama, wawasan yang memadai. Menurutnya, tanpa pengetahuan yang cukup, pembimbing tidak akan mampu menjawab berbagai pertanyaan jemaah.

Kedua, kemandirian secara finansial. Ia menilai pembimbing harus memiliki kesiapan materi agar tidak bergantung pada jemaah dalam menjalankan tugasnya.

“Ketiga, dan yang paling penting, adalah karakter atau integritas. Pembimbing itu tidak boleh kalah secara moral. Dia akan menjadi referensi moral bagi jemaah,” katanya.

Ia juga menegaskan, tanpa integritas, wawasan dan materi tidak akan berarti. “Tidak ada gunanya wawasan, tidak ada gunanya uang kalau karakter tidak dimiliki,” pungkasnya.

Melalui sertifikasi ini, diharapkan para pembimbing haji dan umrah memiliki standar kompetensi yang profesional, moderat, dan berintegritas dalam mendampingi jemaah menunaikan ibadah di Tanah Suci.(Jay)

Pos terkait