MAKASSAR, UPEKS.co.id – Direktorat Jenderal Bina Penyelenggaraan Haji dan Umrah (Kemenhaj RI) bekerja sama dengan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar, gelar Sertifikasi Pembimbing Ibadah Haji dan Umrah Angkatan II (Mandiri) Tahun 2025.
Sertifikasi yang diikuti 100 peserta itu, dibuka oleh Dirjen Bina Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kemenhaj RI, Puji Raharjo secara online, di Asrama Haji Sudiang, Makassar, pada Jumat malam (12/12/2025).
Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kemenhaj Provinsi Sulawesi Selatan, H. Ikbal Ismail, menjelaskan bahwa sertifikasi ini melanjutkan rangkaian program peningkatan kompetensi pembimbing haji yang sebelumnya telah berlangsung dalam sepuluh angkatan.
“Sebelumnya sudah ada 10 angkatan yang dilaksanakan oleh Kementerian Agama dan UIN Alauddin. Kami harap dengan sertifikasi ini dapat meningkatkan pembimbing haji khususnya di Indonesia Timur dan dapat meningkatkan kompetensi masing-masing peserta di dalam melayani dan membimbing jemaah haji kita,” ujarnya.
Ikbal menyebut, peserta angkatan ini berasal dari Sulawesi Selatan, Gorontalo, Sulawesi Tenggara, Papua, dan sejumlah daerah lain di kawasan timur Indonesia. Ia menegaskan bahwa peserta diminta memaksimalkan seluruh rangkaian selama enam hari pelatihan.
“Sebagian besar dari Indonesia Timur dan ini full 100 peserta. Kami tekankan kepada peserta sertifikasi pembimbing agar dalam 6 hari ini, pergunakan waktu untuk mengasah diri agar dapat menjadi pembimbing yang profesional,” ucapnya.
Sementara itu, Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar, Prof. Abd. Rasyid Masri, turut memberikan penguatan pada sesi pembukaan. Ia mengungkapkan bahwa suasana kegiatan berjalan baik dan penuh pencerahan.
“Malam ini suasananya seperti biasa. Tradisi pelaksanaan sertifikasi haji dan umrah ini semuanya mendapatkan pencerahan. Karena ini adalah pembukaan. Dan Alhamdulillah dibuka oleh Bapak Dirjen Haji. Kebetulan juga saya sendiri sebagai dekan memberikan masukan dan penguatan kepada seluruh peserta,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa ada penekanan khusus bagi peserta, yakni mengikuti seluruh alur dan aturan pelatihan agar mampu mencapai kompetensi yang ditargetkan.
“Intinya adalah bagaimana mengikuti seluruh alur, aturan-aturan yang ada agar dia bisa melahirkan kompetensi yang memang ditargetkan oleh tujuan daripada pelatihan ini,” tekannya.
Prof. Rasyid juga menyoroti perubahan struktur kerja sama dibanding tahun-tahun sebelumnya. “Dulu kami MoU atau kerjasama ini dikelola dengan Kementerian Agama. Sekarang dengan Kementerian baru, Kementerian Haji dan Umrah. Tentu atmosfernya itu agak berbeda,” terangnya.
“Penanganannya berbeda, karena di sini sudah menguasai betul ekosistem perhajian. Dan materi-materinya itu nanti cukup relatif, sangat representatif untuk mereka bisa menjadi calon pembimbing haji yang kompeten,” tutupnya.(Jay)




