Pemilihan Rektor UNM; Bukan Memilih “Orang Kita”, Tapi untuk UNM yang Lebih Besar dari Ego Kita

Pemilihan Rektor UNM; Bukan Memilih “Orang Kita”, Tapi untuk UNM yang Lebih Besar dari Ego Kita

Penulis: Najamuddin (Dosen FISH Universitas Negeri Makassar)

Makassar, Upeks.co.id – Ada masa ketika suasana sebuah kampus diuji bukan oleh akreditasi, jumlah publikasi, ketercapaian IKU, ataupun peringkat. Masa itu adalah ketika kursi tertinggi kepemimpinan kosong dan arah besar sebuah universitas akan ditentukan melalui satu pilihan: siapa yang akan menjadi pemimpin puncak.

Bacaan Lainnya

Hari ini, UNM berada di titik itu.

Setelah masa kepemimpinan rektor sebelumnya harus berakhir lebih cepat karena dinonaktifkan, kita semua—mulai dari dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, alumni, hingga masyarakat—berdiri di persimpangan.

Di depan kita ada dua jalan.

Jalan pertama: kembali ke pola lama. Memilih berdasarkan asal daerah, fakultas, atau karena alasan sederhana: “Ini orang kita.” Kita sibuk menghitung suara, membangun blok, saling curiga, dan menganggap kampus ini milik kelompok tertentu.

Jalan kedua: naik kelas. Memilih berdasarkan gagasan, integritas, dan kecintaan yang sama terhadap UNM. Kita bersatu bukan karena semuanya sama, melainkan karena kita memahami bahwa UNM jauh lebih besar daripada ego kita masing-masing.

Tulisan ini adalah ajakan untuk memilih jalan kedua.

1. UNM Bukan Milik Fakultas, Bukan Milik Daerah, UNM Milik Ide Besar Bernama Pendidikan

Universitas Negeri Makassar lahir dari cita-cita besar. Dari IKIP Ujung Pandang yang kemudian menjelma menjadi Universitas Negeri Makassar. Nama boleh berubah, tetapi jiwanya tetap: mencetak guru, pemikir, dan manusia yang memuliakan Sulawesi Selatan serta Indonesia.

Mari kita jujur. Setiap kali pemilihan rektor berlangsung, kita sering mendengar bisik-bisik: harus dari fakultas ini, harus orang Bugis, harus orang Makassar, atau harus yang dulu satu almamater dengan saya.

Saya tidak sedang menuduh. Saya sedang mengajak kita berkaca.

Sosiologi menyebutnya primordialisme. Ikatan primordial—baik suku, daerah, fakultas, angkatan, maupun kelompok lainnya—adalah sesuatu yang wajar. Ia memberikan rasa aman dan kedekatan.

Namun, jika ikatan tersebut dibiarkan menjadi satu-satunya kompas dalam memilih pemimpin, kampus akan tercerai-berai.

Bayangkan UNM seperti sebuah kapal besar. Di dalamnya ada banyak sekat: FT, FIP, FEB, FISH, FIKK, FMIPA, Psikologi, dan Fakultas Kedokteran. Ditambah sekat-sekat daerah seperti orang Toraja, Mandar, Jawa, dan kelompok lainnya yang mengabdi di sini.

Jika setiap sekat sibuk menarik kemudi ke arahnya sendiri, kapal tidak akan bergerak. Ia akan berputar di tempat atau, lebih buruk lagi, bisa pecah.

Padahal, badai di luar sana nyata. Persaingan antar-PTN-BLU dan PTN-BH semakin ketat. Dana riset semakin kompetitif. Kepercayaan publik terus diuji. Dunia pendidikan berubah sangat cepat.

Dalam situasi seperti ini, UNM tidak membutuhkan rektor yang menang karena didukung kelompoknya. UNM membutuhkan rektor yang menang karena dipercaya semua kelompok.

2. Luka Lama Bernama “Sektarian” Harus Kita Akhiri Sekarang

Kita semua tahu ceritanya. Pemilihan-pemilihan sebelumnya meninggalkan luka. Ada fakultas yang merasa tidak dianggap selama lima tahun. Ada daerah yang merasa tidak pernah mendapatkan tempat. Ada dosen muda yang merasa suaranya tidak diperhitungkan karena tidak memiliki “orang dalam”.

Luka itu mungkin tidak terlihat dalam surat keputusan, tetapi terasa di koridor fakultas. Terasa ketika rapat senat berlangsung dengan suasana dingin. Terasa ketika program lintas fakultas sulit berjalan karena muncul anggapan, “Itu programnya fakultas sebelah.”

Inilah yang disebut sosiolog Pierre Bourdieu sebagai kekerasan simbolik. Kita tidak saling memukul, tetapi saling mengecilkan melalui bahasa, alokasi, maupun perlakuan. Lama-kelamaan, kita percaya bahwa kondisi tersebut adalah sesuatu yang wajar.

Hari ini kita memiliki kesempatan untuk memutus mata rantai itu.

Pemilihan rektor kali ini bukan sekadar memilih seseorang. Ini adalah referendum moral: apakah kita masih ingin menjadi kampus yang dipecah-pecah oleh identitas kecil, atau menjadi kampus yang menyatu karena cita-cita besar?

Jika kita memilih rektor karena dia “orang kita”, maka empat tahun ke depan kita akan kembali disibukkan dengan konflik internal.

Namun, jika kita memilih rektor karena dia adalah orang yang paling mampu memajukan UNM, maka empat tahun ke depan energi kita dapat diarahkan untuk mengurus mahasiswa, riset, pengabdian, dan reputasi institusi yang terus ditagih kementerian.

3. Harmonisasi Bukan Berarti Tidak Ada Perbedaan

Ada yang salah memahami makna “bersatu”. Seolah-olah bersatu berarti semua harus sama, satu suara, atau berasal dari fakultas yang sama.

Bukan.

Bersatu di kampus ibarat sebuah orkestra. Ada biola, drum, piano, dan terompet. Nadanya berbeda. Perannya berbeda. Namun, ketika dirigen mengangkat tangan, semuanya bermain untuk satu lagu: UNM Satu, UNM Maju.

Dosen FT memiliki cara berpikir sistem dan teknik. Dosen FIP memiliki perspektif pendidikan dan psikologi. Dosen FISH memiliki cara berpikir sosial, budaya, dan hukum. Dosen FE memiliki perspektif ekonomi. Semua fakultas berjalan dengan alur pikir masing-masing.

Mahasiswa memiliki daya kritis dan idealisme. Tenaga kependidikan memiliki perspektif layanan dan administrasi.

Semua berbeda. Dan perbedaan itu adalah kekayaan.

Yang harus kita lawan bukanlah perbedaan, melainkan ketika perbedaan digunakan untuk saling menjatuhkan. Ketika perbedaan dijadikan tembok yang membedakan “kami” dan “mereka”.

Rektor yang kita butuhkan adalah seorang dirigen. Ia harus mampu membuat biola tidak bermain sendiri, drum tidak mendominasi, dan seluruh instrumen bekerja dalam harmoni.

Ia harus mampu mengatakan: “Sekarang bagian FT maju untuk riset terapan. Bagian FIP maju untuk penguatan guru. Bagian FISH maju untuk pelestarian budaya.” Semua untuk satu nama: UNM.

4. Ciri Rektor UNM yang Kita Idamkan Bersama

Agar tidak kembali terjebak dalam politik identitas, mari kita sepakati terlebih dahulu seperti apa rektor yang kita cari.

Bukan dari mana asalnya, tetapi bagaimana karakternya.

Pertama, visi yang melampaui fakultas.

Ia harus memiliki peta besar UNM untuk 10 tahun ke depan. Bukan sekadar mampu mengatakan, “Memajukan fakultas saya”, tetapi mampu menjawab bagaimana UNM menjadi rujukan ilmu pengetahuan, pendidikan vokasi, keguruan, serta riset sosial-humaniora di kawasan Timur Indonesia.

Kedua, integritas yang diuji waktu.

Dalam masa transisi seperti ini, godaan politik, anggaran, dan lobi sangat besar.

Kita membutuhkan orang yang ketika ditawari, “Bantu saya, nanti saya bantu kelompok Anda,” mampu menjawab, “Maaf, saya membantu UNM.”

Ketiga, kemampuan merangkul.

Ia harus mampu duduk bersama guru besar dari semua fakultas, berdialog dengan mahasiswa, berbicara dengan alumni, serta menjelaskan kepada pemerintah daerah dan pusat mengapa UNM penting.

Pemimpin yang hanya piawai di satu komunitas tidak akan sanggup memimpin kampus yang majemuk.

Keempat, rekam jejak, bukan sekadar janji.

Lihat karyanya. Lihat bagaimana ia memperlakukan orang ketika tidak ada kamera. Lihat bagaimana ia membangun tim lintas unit sebelumnya.

Janji mudah dibuat. Rekam jejak tidak mudah dibohongi.

Jika kita menggunakan empat kompas ini, secara otomatis kita akan keluar dari jebakan sektarian. Sebab, tidak satu pun dari empat poin tersebut mensyaratkan seseorang harus berasal dari daerah tertentu atau fakultas tertentu.

5. Peran Kita Semua: Dosen, Mahasiswa, Tendik, dan Alumni

Pemilihan rektor bukan hanya urusan senat. Ini adalah tanggung jawab seluruh warga UNM.

Untuk para guru besar dan dosen:

Anda adalah penentu arah intelektual kampus. Tolong, jangan gunakan forum akademik untuk kampanye terselubung. Gunakan forum tersebut untuk menguji gagasan.

Tanyakan kepada calon: Bagaimana strategi Anda meningkatkan publikasi internasional UNM? Bagaimana Anda menyelesaikan ketimpangan sarana antar-fakultas?

Bukan sekadar: “Anda mendukung siapa dalam pemilihan rektor?”

Untuk mahasiswa:

Anda adalah jantung UNM. Suara Anda mungkin tidak menentukan pilihan secara langsung, tetapi suara Anda tetap menggema.

Jangan mau ditukar dengan kaus atau nasi kotak untuk mendukung kandidat dari fakultas sendiri.

Tuntut debat terbuka. Tuntut visi tertulis. Tuntut komitmen terhadap kesejahteraan mahasiswa.

Untuk tenaga kependidikan:

Anda adalah urat nadi layanan kampus. Anda tahu persis di mana birokrasi tersendat dan di mana layanan berjalan lambat.

Jangan diam. Sampaikan.

Pilih pemimpin yang menghargai kerja Anda, bukan yang hanya mengingat Anda ketika membutuhkan suara.

Untuk alumni:

Anda adalah wajah UNM di luar kampus. Anda yang membawa nama UNM ke dunia kerja dan masyarakat.

Dukung calon yang berani membawa nama UNM ke tingkat nasional dan internasional. Jangan mendukung hanya karena ia teman satu SMA atau berasal dari satu kampung.

6. Bayangkan UNM Lima Tahun Mendatang Jika Kita Bersatu

Mari kita berimajinasi sebentar.

Bayangkan tahun 2029. UNM mungkin sudah bergerak menuju PTN-BH yang lebih mandiri. Riset tentang kependidikan dan kewirausahaan Sulawesi Selatan menjadi rujukan dunia. Lulusan PPG UNM menjadi guru-guru terbaik di Indonesia Timur.

Kampus Gunungsari, Tidung, Banta-Bantaeng, dan Parangtambung terintegrasi dengan transportasi kampus.

Mahasiswa dari Papua, Maluku, NTT, dan Kalimantan Timur berbondong-bondong memilih UNM karena kualitasnya sudah setara dengan PTN terbaik di Pulau Jawa.

Itu bisa terjadi.

Namun, hanya jika lima tahun ke depan kita tidak menghabiskan energi untuk konflik internal.

Energi itu mahal.

Setiap kali kita menghabiskan rapat untuk membahas siapa mendapat proyek dan siapa tidak, kita kehilangan waktu untuk membahas bagaimana meningkatkan mutu pembelajaran.

Setiap kali kita menulis status untuk menyerang kelompok sebelah, kita kehilangan waktu untuk menulis proposal penelitian atau pengabdian.

Pemilihan rektor yang damai dan bermartabat adalah sebuah investasi. Investasi agar empat tahun ke depan energi kita digunakan untuk membangun, bukan untuk bertengkar.

7. Penutup: Sebuah Wasiat untuk Kampus Kita

Saya teringat pesan seorang guru besar senior di UNM. Beliau pernah berkata:

“Nak, kampus itu seperti keluarga besar. Pasti ada yang rewel, ada yang berbeda pendapat. Tapi kalau ada acara besar, semua harus duduk satu meja. Karena nama keluarganya sama.”

Nama keluarga kita sama: UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR.

Maka, dalam momentum pemilihan ini, mari kita letakkan terlebih dahulu bendera fakultas. Kita letakkan identitas daerah. Kita letakkan ego tentang saya dan kelompok saya.

Kita ambil satu bendera saja: bendera UNM.

Mari memilih bukan untuk memuaskan kelompok, tetapi untuk memuliakan institusi.

Mari memilih bukan untuk membalas masa lalu, tetapi untuk menata masa depan.

Sejarah akan mencatat pemilihan rektor kali ini. Sepuluh tahun dari sekarang, mahasiswa baru mungkin akan bertanya: Bagaimana UNM bisa sebesar ini?

Jawabannya ada di tangan kita hari ini.

Apakah kita memilih jalan perpecahan atau jalan persatuan?

Saya percaya, warga UNM adalah orang-orang cerdas dan beradab. Kita pernah sama-sama berduka ketika rektor dinonaktifkan. Mari kita sama-sama bangkit sekarang.

Bukan dengan saling curiga, tetapi dengan saling menguatkan.

Bukan dengan saling klaim, tetapi dengan saling memberi.

Bukan dengan memilih “orang kita”, tetapi dengan memilih orang untuk kita semua.

Karena pada akhirnya, yang akan disebut orang bukanlah rektor dari Fakultas X. Yang akan disebut orang adalah Rektor UNM.

Semoga yang terpilih nanti benar-benar lahir dari keinginan untuk membawa seluruh warga kampus bersama-sama.

Rektor yang ketika berjalan di koridor, dari fakultas A sampai Z, dari Makassar sampai Toraja, dari dosen hingga mahasiswa, semua dapat menepuk bahunya dengan bangga dan berkata:

“Itu adalah rektor kita.”

Mari kita jaga UNM.

Mari kita besarkan UNM bersama.

Makassar, awal Agustus 2026

Untuk Almamater Tercinta