ENREKANG, UPEKS.co.id – Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Sulawesi Selatan, Dr. Fatmawati, menegaskan pembangunan keluarga menjadi fondasi utama dalam menyiapkan sumber daya manusia (SDM) unggul menuju Indonesia Emas 2045. Karena itu, upaya percepatan penurunan stunting harus dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan.
“Untuk menuju Indonesia Emas 2045, kita harus mengoptimalkan bonus demografi. Kualitas manusia yang unggul harus dipersiapkan sejak dari keluarga,” tegas Dr. Fatmawati saat menghadiri silaturahmi bersama Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Disdalduk-KB) Kabupaten Enrekang dan para Penyuluh KB, Kamis (6/8/2026).
Menurutnya, pembangunan keluarga harus berjalan selaras dengan Grand Design Pembangunan Keluarga, Rencana Strategis (Renstra), serta Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). Keselarasan tersebut menjadi landasan dalam menyukseskan Program Bangga Kencana sekaligus mempercepat penurunan angka stunting.
Sebagai bentuk nyata komitmen tersebut, Perwakilan BKKBN Sulsel memperkuat implementasi Program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING) di Kabupaten Enrekang melalui sinergi bersama Pemerintah Kabupaten Enrekang dan Lembaga Amil Zakat Hadji Kalla.
Dalam kesempatan itu, BKKBN Sulsel bersama Lembaga Amil Zakat Hadji Kalla menyerahkan bantuan bedah rumah layak huni kepada dua keluarga berisiko stunting, masing-masing Angga Pradana (32) dan Samuel Duma (54). Selain itu, disalurkan pula bantuan kebutuhan pokok berupa beras, telur, dan minyak goreng guna mendukung pemenuhan gizi keluarga.
Tak hanya itu, BKKBN Sulsel juga menyerahkan intervensi Program GENTING kepada keluarga berisiko stunting yang memiliki baduta (bayi di bawah dua tahun) dan ibu pascasalin. Penyaluran bantuan dilakukan bersama Kepala Disdalduk-KB Kabupaten Enrekang, Sekretaris Dinas, Koordinator Penyuluh KB Kecamatan Enrekang, serta Tim Pendamping Keluarga (TPK) dari Desa Lewaja dan Kelurahan Puserren.
Kepala Disdalduk-KB Kabupaten Enrekang, Nurjannah Mandeha, SKM., M.Si., mengatakan kolaborasi lintas sektor menjadi kunci keberhasilan pembangunan keluarga di Kabupaten Enrekang yang memiliki 12 kecamatan dan 129 desa/kelurahan.
“Sinergi seluruh pemangku kepentingan sangat penting agar program pembangunan keluarga dan percepatan penurunan stunting dapat menjangkau seluruh masyarakat hingga ke tingkat desa dan kelurahan,” ujar Nurjannah.
Ia berharap sinergi antara pemerintah daerah, BKKBN, penyuluh KB, Tim Pendamping Keluarga, serta mitra seperti Lembaga Amil Zakat Hadji Kalla terus diperkuat sehingga intervensi kepada keluarga berisiko stunting dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.
Melalui kolaborasi tersebut, BKKBN Sulsel optimistis target penurunan stunting dapat dicapai seiring meningkatnya kualitas keluarga Indonesia. Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari upaya menyiapkan generasi sehat, cerdas, dan berdaya saing menuju Indonesia Emas 2045. (Sry)

