Apresiasi untuk Dr. Andi Lukman: Kepemimpinan yang Menggerakkan Pendidikan Tinggi Sultanbatara

Apresiasi untuk Dr. Andi Lukman: Kepemimpinan yang Menggerakkan Pendidikan Tinggi Sultanbatara

Oleh
Dr. Misbahuddin, SE,M.Si, CLMA

MAKASSAR, UPEKS.Co.iid– Di tengah berbagai kompleksitas dan tantangan pendidikan tinggi, kepemimpinan Dr. Andi Lukman, M.Si. di LLDIKTI Wilayah IX Sultanbatara patut mendapatkan apresiasi yang tinggi.

Bacaan Lainnya

Memimpin ekosistem pendidikan tinggi yang sangat besar dan beragam bukanlah pekerjaan sederhana. LLDIKTI Wilayah IX menaungi perguruan tinggi di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat, dengan karakteristik institusi, program studi, kapasitas kelembagaan, serta persoalan yang sangat beragam. Dalam konteks tersebut, kepemimpinan Dr. Andi Lukman menunjukkan pentingnya pendekatan pembinaan yang tidak sekadar administratif, tetapi semakin diarahkan pada peningkatan mutu, tata kelola, kolaborasi dan dampak perguruan tinggi bagi masyarakat.

Apresiasi tersebut menjadi semakin penting karena transformasi pendidikan tinggi tidak dapat dilakukan dengan pendekatan business as usual. Perguruan tinggi sedang menghadapi perubahan besar akibat digitalisasi, kecerdasan artifisial, perubahan kebutuhan dunia kerja, tuntutan hilirisasi riset, serta semakin kuatnya tuntutan agar perguruan tinggi memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan.

Dalam situasi seperti itu, LLDIKTI tidak cukup hanya menjadi regulator dan administrator. LLDIKTI harus menjadi orkestrator ekosistem pendidikan tinggi. Di sinilah kepemimpinan Dr. Andi Lukman menjadi penting.

Komitmen LLDIKTI Wilayah IX dalam mengawal agenda Perguruan Tinggi Berdampak 2026 patut dipandang sebagai langkah strategis. Agenda tersebut menempatkan perguruan tinggi bukan hanya sebagai institusi pendidikan dan penghasil lulusan, tetapi sebagai bagian dari ekosistem pembangunan yang harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, dunia usaha, pemerintah dan daerah.

Bagi saya, inilah salah satu sisi penting yang patut diapresiasi: upaya mendorong perguruan tinggi untuk keluar dari zona nyaman dan mulai mengukur dirinya berdasarkan dampak.

Kampus tidak boleh hanya bertanya berapa banyak mahasiswa yang diterima dan berapa banyak mahasiswa yang diwisuda. Kampus harus mulai bertanya: berapa banyak lulusan yang bekerja, berapa banyak yang menjadi entrepreneur, berapa banyak penelitian yang digunakan masyarakat, berapa banyak inovasi yang dikembangkan, serta seberapa besar kontribusi perguruan tinggi terhadap pembangunan ekonomi daerah.

Dr. Andi Lukman juga layak diapresiasi karena kepemimpinan pendidikan tinggi hari ini membutuhkan kemampuan membangun kolaborasi. Tidak mungkin LLDIKTI bekerja sendiri. Perguruan tinggi harus terhubung dengan pemerintah daerah, dunia usaha dan dunia industri, asosiasi profesi, alumni, lembaga keuangan, organisasi masyarakat, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Karena itu, keberhasilan Dr.Andi Lukman memimpin LLDIKTI IX semestinya tidak hanya dilihat dari aspek administratif, tetapi dari kemampuannya membangun ecosystem governance pendidikan tinggi Sultanbatara.

Saya melihat bahwa tantangan ke depan justru menjadi peluang untuk memperkuat warisan kepemimpinan tersebut.

Jika periode kepemimpinan selama ini telah memperkuat fondasi tata kelola dan pembinaan perguruan tinggi, maka tahap berikutnya dapat diarahkan pada lompatan transformasi: membangun sistem pendidikan tinggi yang semakin berbasis data, AI, industri, kewirausahaan, riset terapan dan employability lulusan.

Dengan demikian, apresiasi kepada Dr. Andi Lukman bukan sekadar apresiasi personal. Ini adalah apresiasi terhadap sebuah ikhtiar untuk membawa pendidikan tinggi Sultanbatara menuju tata kelola yang semakin adaptif, kolaboratif dan berdampak.

Tentu tidak ada kepemimpinan yang sempurna. Setiap capaian selalu memiliki ruang untuk ditingkatkan. Justru karena itulah apresiasi harus disertai harapan.

Harapannya, fondasi yang telah dibangun dapat terus diperkuat sehingga LLDIKTI Wilayah IX tidak hanya dikenal sebagai lembaga pembina perguruan tinggi, tetapi tampil sebagai motor transformasi pendidikan tinggi Indonesia Timur.

Pada akhirnya, sejarah akan mencatat sebuah kepemimpinan bukan semata dari berapa banyak kebijakan yang pernah dibuat, tetapi dari seberapa besar perubahan positif yang ditinggalkan bagi generasi sesudahnya.

Dan untuk itu, Dr. Andi Lukman layak mendapatkan apresiasi yang tinggi atas ikhtiar dan kepemimpinannya selama ini dalam mengawal pendidikan tinggi di wilayah Sultanbatara.

Semoga kepemimpinan tersebut terus menjadi energi bagi lahirnya perguruan tinggi yang semakin bermutu, adaptif, inovatif, inklusif dan yang paling penting—benar-benar berdampak bagi masyarakat dan pembangunan daerah.(**)