MAROS, UPEKS.co.id — Pagi baru saja menyapa Kampung Kuri Caddi, Desa Nisombalia, Kecamatan Marusu, Kabupaten Maros.
Laut tampak tenang. Perahu-perahu nelayan mulai bergerak perlahan meninggalkan bibir pantai untuk mencari nafkah.
Namun, bagi warga yang telah puluhan tahun hidup di pesisir, ketenangan laut tak pernah benar-benar menjamin rasa aman.
Warga sudah khatam, setiap musim selalu membawa cerita yang berbeda. Musim hujan menghadirkan ombak yang menggerus daratan, sementara kemarau menyisakan persoalan air bersih.
Realitas inilah yang dijalani Sumaena. Perempuan yang telah menghabiskan hampir setengah abad hidup di Kampung pesisir Kuri Caddi.
Sumaena belajar bahwa tinggal di pesisir berarti harus berdamai dengan alam, sekaligus tak pernah berhenti mencari ikhtiar agar kampung halamannya tetap ada.
“Hidup di pesisir membuat kami tidak pernah mengenal kata jemu. Jika musim hujan, siap basah, kemarau siap kering. Tapi kami harus terus mencari jalan agar kampung halaman tetap bertahan dan stok pangan di dapur, aman,” tutur Sumaena saat ditemui Upeks, di rumah bambu Blue Forests, Selasa 23 Juli 2026.
Selama puluhan tahun, Sumaena menyaksikan perubahan wajah kampungnya. Garis pantai yang dulu jauh dari permukiman kini perlahan bergeser mendekati rumah-rumah warga.
Ingatan masa kecilnya masih begitu jelas membekas. Dahulu kata dia, hamparan pasir di depan kampung terbentang luas. Anak-anak bebas bermain sepak bola hingga senja, sementara area pemakaman warga berada jauh dari bibir laut.
Kini pemandangan itu tinggal kenangan dikepalanya. Abrasi telah mengikis daratan sedikit demi sedikit.
Bahkan, ungkap dia, warga beberapa kali menemukan tulang-belulang manusia yang terbawa ombak dari area pemakaman yang ikut tergerus.
“Dulu anak-anak bisa bermain bola di pesisir yang sangat luas. Sekarang laut sudah sangat dekat dengan rumah,” ujarnya sambil memandang ombak yang hanya berjarak beberapa langkah dari pemukiman warga.
Kata Sumaena, abrasi datang perlahan, tetapi dampaknya begitu cepat.
Ironisnya, selama bertahun-tahun warga tidak menyadari bahwa hutan mangrove yang tumbuh di sepanjang pesisir merupakan benteng alami yang mampu meredam gelombang dan menahan laju abrasi.
Kata Sumaena, mangrove saat itu hanya dipandang sebagai tanaman biasa di tepi pantai, bukan penyangga kehidupan.
Belajar dari Alam
Sumaena melanjutkan ceritanya, perubahan mulai hadir sekitar 2014 silam. Ketika Tuhan mengirim Yayasan Blue Forests datang mendampingi kami, di Kuri Caddi.

Tidak ada ruang kelas ataupun bangku sekolah. Alam menjadi tempat belajar.
Warga diperkenalkan pada fungsi mangrove, mempelajari teknik rehabilitasi melalui pendekatan Ecological Mangrove Rehabilitation (EMR), hingga melihat langsung bagaimana ekosistem pesisir perlahan pulih ketika mangrove kembali tumbuh.
“Kami didampingi, diedukasi merawat mangrove, hingga belajar bagaimana merehabilitasi kawasan pesisir. Kami melihat sendiri perubahan ketika mangrove mulai tumbuh dengan indah,” imbuh Sumaena.
Sumaena menambahkan, perubahan paling terasa mulai sekitar 2020. Meski sempat menghadapi penolakan dari sebagian masyarakat, pendampingan Blue Forest terus berlanjut hingga perlahan menumbuhkan kesadaran.
Bagi Sumaena, perubahan bukan sekadar soal meningkatnya penghasilan. Yang lebih penting kata dia, adalah tumbuhnya pemahaman bahwa mangrove merupakan pelindung kehidupan masyarakat pesisir.
“Kini setiap bibit yang kami tanam adalah jalan ikhtiar dan simbol harapan agar anak cucu kami tidak kehilangan kampung halaman dan menjadi ruang untuk menyambung penghidupan baik untuk membeli kebutuhan pangan hingga biaya pendidikan anak,” tuturnya.
Menjaga Alam, Menjaga Penghidupan
Kepala Dusun Kuri Caddi, Sapri, mengatakan menjaga mangrove berarti menjaga kehidupan sekitar 200 kepala keluarga yang sebagian besar bekerja sebagai nelayan rajungan.
Dia menyebutkan, akar mangrove menjadi tempat hidup berbagai biota laut, termasuk rajungan yang menjadi sumber penghasilan utama masyarakat.
“Rajungan adalah mata pencaharian utama warga. Untuk itu mangrove harus terus dilestarikan karena menjadi rumah bagi berbagai biota laut,” jelas Sapri.
Sapri juga mengingatkan ancaman pesisir bukan hanya abrasi, tetapi juga praktik penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan.
Untuk itu, masyarakat terus didorong menangkap rajungan secara bijak, termasuk melepas rajungan yang sedang bertelur agar populasinya tetap lestari.
“Kalau mangrovenya terjaga, sumber penghasilan masyarakat juga akan tetap terjaga,” tutur Sapri.
Hal ini, tambah dia, bisa dicapai berkat kerjasama yang searah dari berbagai pihak termasuk Yayasan Blue Forests yang terus mendampingi masyarakat secara berkelanjutan pastinya.
“Kami berharap, tim Blue Forests akan selalu hadir untuk masyarakat Kuri Caddi,” pinta Sapri.
Menanam Harapan untuk Masa Depan
Perubahan di Kuri Caddi tidak datang dalam semalam. Ia tumbuh perlahan, setenang akar-akar mangrove yang merambat ke dalam lumpur, menguatkan tanah yang dulu nyaris hilang diterjang abrasi.
Hingga 2026, hasil rehabilitasi mulai tampak nyata. Di hamparan pesisir seluas sekitar 12 hektare, sedikitnya 14 spesies mangrove kembali tumbuh.
Rimbunnya pepohonan itu bukan hanya mengubah warna pesisir menjadi hijau, tetapi juga menghidupkan kembali ekosistem yang sempat meredup
Di sela-sela akar mangrove, kepiting bakau kembali mencari makan. Udang windu, bandeng, kerang hijau, hingga rumput laut perlahan berkembang. Laut yang dulu kehilangan pelindungnya kini kembali menjadi ruang hidup bagi beragam biota.
Namun, bagi warga Kuri Caddi, manfaat mangrove tidak berhenti pada pulihnya alam. Hutan pesisir itu juga menghadirkan harapan baru bagi ekonomi keluarga.
Harapan tersebut dirasakan Cora, salah seorang warga binaan Yayasan Blue Forest di Kuri Caddi.

Ibu tujuh anak ini, kini mengolah daun mangrove jenis Acanthus menjadi minuman herbal yang diberi nama Teh Kalli-Kalli.
Daun dipetik secara selektif agar tanaman tetap lestari. Setelah itu dikeringkan selama lebih dari dua pekan sebelum dikemas dan dijual seharga Rp15 ribu per bungkus.
Ditanyai terkait omset, Cora belum bisa merinci. Tapi kata dia, hasil penjualan dari Teh Kalli-Kalli ini, selain untuk penyangga kebutuhan sehari-harinya juga dia peruntukan untuk investasi seperti beli emas.
Siapa sangka, tanaman yang dulu dianggap sekadar semak liar kini menjadi sumber penghasilan.
“Dulu saya menganggap mangrove hanya tanaman liar. Sekarang mangrove menjadi sumber kehidupan sekaligus harapan baru bagi saya untuk membesarkan tujuh anak seorang diri,” tutur Cora dengan senyum yang tak mampu menyembunyikan rasa syukurnya.
Bagi Cora, setiap lembar daun mangrove bukan hanya bahan baku teh. Di dalamnya tersimpan keyakinan bahwa alam yang dijaga akan selalu memberi jalan bagi kehidupan.
Cora berharap pendampingan kepada masyarakat terus berlanjut. Sehingga kata dia, semakin banyak warga yang mampu mengelola potensi mangrove secara berkelanjutan.
Harapan yang sama juga dibawa Yayasan Blue Forests. Partnership Assistant Blue Forests, Mato, menjelaskan Kampung Kuri Caddi dipilih sebagai lokasi percontohan penerapan Ecological Mangrove Rehabilitation (EMR) dan Integrated Mangrove and Sustainable Aquaculture (IMSA).

Apalagi kata dia, lokasinya yang dekat dengan Kota Makassar dinilai strategis untuk menjadi laboratorium alam yang mudah diakses masyarakat, akademisi, hingga para pengambil kebijakan.
“Kami ingin Kuri Caddi menjadi contoh bagaimana rehabilitasi mangrove dilakukan dengan pendekatan yang tepat sehingga dapat menjadi rujukan dalam penyusunan kebijakan konservasi mangrove,” ujarnya.
Di kampung kecil di pesisir Maros ini, warga telah membuktikan bahwa mangrove bukan sekadar ornamen yang tumbuh di tepi laut.
Mangrove adalah penjaga pesisir, penyangga kehidupan, dan juga harapan untuk generasi mendatang. (Hasmiati Mus)


