MAKASSAR, UPEKS.co.id — Aroma cabai menyengat langsung terasa saat memasuki sebuah rumah di Jalan Sulawesi Nomor 204, Melayu Baru, Kecamatan Wajo, Kota Makassar. Di tempat itulah proses produksi Lombok Kuning bermerek “Simpati” berlangsung.
Laporan: Muhammad Aking
Sejumlah karyawan tampak sibuk di ruang produksi. Dua karyawan tampak sibuk di depan panci besar berisi cabai yang sedang dimasak, lainnya sibuk mengoperasikan mesin penggiling hingga proses pengemasan.
“Proses pembuatan Lombok Kuning kami ini mulai dari mencuci bahan baku, lalu dimasak hingga layu. Setelah itu cabai masuk proses giling kasar bersama bawang putih, kemudian digiling halus lagi, dicampur, dan diendapkan selama dua hingga tiga hari, sebelum masuk tahap pengemasan. Untuk daya simpannya bisa sampai satu tahun,” ujar Ridwan Wahyudi Chandra, Pemilik usaha Lombok Kuning Simpati.
Usaha Lombok Kuning Simpati berawal dari bisnis bakmi bakso milik orang tua Ridwan. Namun seiring berjalannya waktu, pelanggan justru lebih banyak mencari sambal lombok kuning dibanding menu utama. Dari situlah Ridwan melihat peluang untuk mengembangkan usaha ini lebih serius.
Hasilnya, Lombok Kuning Simpati kini berhasil menembus pasar ekspor. Produk sambal khas Makassar itu sudah dipasarkan hingga ‘Negeri Sakura’ Jepang dan Selandia Baru. Ke depan, Ridwan menargetkan ekspor produk ke Malaysia dan Thailand.
Tak hanya pasar luar negeri, Lombok Kuning Simpati juga dipasarkan ke berbagai provinsi di Indonesia. Di Makassar, produknya telah masuk jaringan ritel modern sejak 2017.
“Produk kami sudah masuk Carrefour dan Giant sejak 2017. Kemudian jaringan distribusinya diperluas masuk ke Hypermart dan Lottemart. Karena respons pasarnya sangat bagus, kami lalu menambah mesin produksi dan mulai menembus jaringan minimarket modern seperti Alfamart, Alfamidi hingga Indomaret,” ungkap Ridwan.
Untuk bahan baku, Ridwan bekerja sama dengan para pengepul dari Kabupaten Takalar, Jeneponto, dan Enrekang. Menurutnya, tantangan terbesar usaha ini adalah fluktuasi harga cabai akibat faktor cuaca.
“Produk lombok kuning kami ini murni berbahan cabai tanpa campuran wortel atau singkong, jadi pedasnya punya ciri khas sendiri. Kalau kendala sebenarnya hanya pada masalah harga saja. Biasanya kalau cuaca buruk, pasokan berkurang dan harga melonjak,” jelasnya.

Sementara istri Ridwan, Melyana Khohari, menambahkan, perkembangan usaha mereka tidak terlepas dari pendampingan Rumah BUMN BRI Makassar. Sejak menjadi binaan pada 2018, usaha tersebut berkembang pesat, mulai dari perbaikan logo, kemasan, hingga perluasan pasar.
Selain mendapatkan pelatihan dan pendampingan ekspor, Melyana juga memanfaatkan fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BRI saat pandemi Covid-19 dengan nilai pinjaman hingga Rp250 juta.
“Setelah menjadi binaan Rumah BUMN BRI Makassar, berbagai pelatihan intens kami ikuti. Mulai dari cara memasak yang baik, desain logo dan kemasan, hingga digital marketing dan manajemen keuangan. Semua kami dapat dari BRI, termasuk KUR,” katanya.
Menurut Melyana, ilmu digital marketing yang diperoleh dari pendampingan tersebut, terbukti ampuh membantu usaha mereka berkembang pesat saat puncak pandemi pada 2020 silam.
“Ketika pandemi masuk, justru penjualan digital kami naik. Omzet meningkat hingga 80% dibanding masa sebelum pandemi. Orang mulai tahu produk kami dan mereka belanja dalam jumlah besar sekaligus,” ungkap Melyana.
Pesatnya perkembangan usaha membuat Lombok Kuning Simpati kini mempekerjakan 10 karyawan. Sebanyak enam orang merupakan pegawai tetap, sementara sisanya bekerja dengan sistem komisi. “Kami merekrut warga sekitar yang tidak tamat SMA. Yang penting mereka bisa baca tulis dan punya etos kerja,” imbuh Melyana.
Sementara itu, Koordinator Rumah BUMN BRI Makassar Muhammad Asliddin, menilai, kesuksesan pelaku UMKM seperti Lombok Kuning Simpati memaksimalkan potensi bisnis, merupakan salah satu bentuk komitmen BRI yang menghadirkan Rumah BUMN untuk melakukan pendampingan kepada pelaku usaha.
Didin, sapaan Muhammad Asliddin, menegaskan, perkembangan pesat UMKM sejatinya tidak datang begitu saja. Butuh komitmen, kerja keras, dan profesional dalam pengelolaan usaha.
Dalam mendorong UMKM naik kelas, sambung Didin, Rumah BUMN BRI Makassar ini hadir untuk menggelar pelatihan secara rutin selama tujuh hari setiap bulan. Materi yang diberikan disesuaikan dengan kebutuhan pelaku usaha, mulai dari penguatan pasar lokal hingga persiapan ekspor. (eky)




