Jalan Melingkar AI

Jalan Melingkar AI

Oleh: Andi Tenri Abeng, M.Pd

Indonesia kini menjadi salah satu negara kerajinan Artificial Intelligence (AI). Berdasarkan analisis AItools.xyz, Indonesia menempati posisi ketiga di bawah AS dan India sebagai pengguna AI terbesar di dunia, khususnya penggunaan OpenAI berupa ChatGPT. Selain ChatGPT, aplikasi AI lain seperti Google Gemini, Claude, Gamma dan beberapa jenis AI lain juga cukup populer.

Bacaan Lainnya

Salah satu segmen tertinggi pengguna AI di Indonesia yakni di bidang pendidikan. Survei penggunaan AI menyebutkan bahwa 87% hingga 95% pelajar dan mahasiswa di Indonesia menggunakan AI Generatif untuk membantu menyelesaikan tugas dan proses pembelajaran. Masifnya penggunaan AI tersebut tentu menjadi dinamika tersediri dalam konteks proses pembelajaran.

Sebelum mengenal AI generatif, evolusi cara belajar manusia mengalami perjalanan panjang. Di era saat manusia mulai mengenal tulisan, konsep belajar fokus pada pembacaan teks-teks tertulis. Basis pengetahuan ada pada bahan cetak seperti kitab, buku, dan dokumen-dokumen lain. Cara paling sederhan untuk memahaminya adalah membaca, menghafalnya dan atau memahaminya. Mereka yang tekun dan telaten membaca buku kemudian menjadi bintang-bintang di kelas.

Setelah itu hadir era internet. Sumber pengetahuan jauh lebih terbuka. Mereka yang punya fasilitas dan akses menjadi pemenangnya. Keterampilan dasarnya adalah kemampuan untuk mencari informasi. Tidak lama berselang, sosial media kemudian hadir. Sosial media kini menjadi salah satu sumber pengetahuan. Konsep belajarnya kemudian berbasis alogaritma. Apa yang sering ditonton, disukai, dan dikomentari, itulah yang hadir di layar-layar kita. Ringkasnya, pengetahuan yang mendatangi kita.

Setelah sosial media, era selanjutnya adalah AI gerenatif. AI menjadi semacam asisten pribadi yang siap menerima perintah dalam menjalankan tugas. Karena basisnya adalah perintah atau yang lebih dikenal dengan istilah promt, masalah satu keterampilan dasar yang harus dimiliki penggunanya adalah memberi perintah.

Kita ambil contoh misalnya tugas menulis artikel. AI tidak akan bisa menulis artikel hanya dengan perintah “Tuliskan saya artikel!”. AI akan mengaja pengguna untuk berdialog dengan menanyakan tema atau topik artikel apa yang Anda inginkan? Pada tahap itu, paling minimal pengguna harus tahu apa sebenarnya yang diinginkan dari AI tersebut.

Jika ingin mendapatkan tulisan artikel yang menarik, maka pengguna harus tahu lebih dalam terkait dengan topik yang ingin dituliskan. Pengetahuan itu tentu tidak didapatkan begitu saja, tetapi butuh proses belajar, baik itu membaca atau proses penyerapan pengetahuan yang lain.

Setelah tahu dan paham apa yang diinginkan, maka perintah harus dirimuskan dalam bentuk sintesis. Pengetahuan, informasi, dan pengelaman dijahit menjadi satu perintah utuh untuk menghasilkan tulisan artikel yang baik. Lebih dari sekadar baik dari segi isi, hal lain yang mungkin untuk ditambahkan adalah gaya penulisan.

Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana cara seseorang menentukan gaya kepenulisan yang baik dan menarik jika mereka tidak pernah bersentuhan dengan berbagai macam gaya penulisan. Maka dari itu, dibutuhkan berbagai macam elaborasi, baik itu pengetahuan hingga pengalaman berdialektika dengan bentuk-bentuk pengetahuan tertentu.

Tahapan lain yang tidak bisa diabaikan adalah fase dialog. Penelitian berjudul “AI Wellbeing: Measuring and Improving the Functional Pleasure and Pain of AIs” menunjukkan bahwa sikap pengguna memengaruhi kinerja sebuah AI. Dialog yang lebih diskursif akan menghasilkan jawaban yang lebih positif. Bisa dikatakan bahwa pengguna harus tetap kritis dan mendalam pada proses dialog tersebut untuk hasil kerja yang terbaik.

Poin menarik dari persoalan tersebut bahwa pada akhirnya, penggunaan AI dalam konteks cara belajar dan cara manusia menggunakan AI seperti sebuah jalan melingkar. Agar penggunaan AI bisa maksimal, kita harus kembali ke dasar yaitu pembacaan mendalam dan berpikir kritis. Mereka yang proses membacanya lebih intens mampu memberi perintah yang baik. Mereka yang mampu mensintesis dan mengabtraksi pengetahuan dengan baik, mampu tetap kritis terhadap jawaban-jawaban AI.

AI hadir dalam dunia pendidikan untuk membantu insan pendidikan untuk bekerja lebih optimal. AI tak ubahnya seperti mobil yang bisa memangkas jarak waktu perjalanan seseorang dibandingkan berjalan kaki. Demikian dengan AI, pada pekerjaan tertentu, AI bisa sangat membantu, baik itu mempercepat pekerjaan, akurasi, koreksi, hingga hal-hal kecil lainnya.

Hal lain yang penting tetapi sering diabaikan dalam penggunaan AI adalah etika. Sebagai sebuah mesin, bisa dikatakan bahwa pembeda utama manusia dengan AI adalah kesadaran dan etika yang melingkupinya. AI adalah alat, dan penggunaannya sangat bergantung pada penggunanya. Maka dari itu, etika penggunaan AI memiliki posisi penting dalam konteks kependidikan.

Salah satu hal paling mendasar dalam etika penggunaan AI adalah kejujuran akademik. Dalam dunia pendidikan, AI seharusnya menjadi alat bantu untuk memperkuat proses berpikir, bukan menggantikan kerja intelektual manusia. Mahasiswa tetap perlu memahami materi, menganalisis, dan bertanggung jawab atas hasil pekerjaannya. Ketika AI digunakan tanpa proses pemahaman, yang hilang bukan hanya integritas akademik, tetapi juga kesempatan untuk berkembang secara intelektual. Pada titik ini, AI bisa menjadi paradoks: teknologi yang seharusnya membantu manusia justru dapat melemahkan daya pikir kritis jika digunakan secara serampangan.

Pada akhirnya, AI hanyalah alat, sementara manusialah yang menentukan arah penggunaannya. Dunia pendidikan tidak sedang menghadapi ancaman teknologi, melainkan tantangan menjaga nilai-nilai pembelajaran di tengah kemudahan yang ditawarkan AI. Sebab, secanggih apa pun AI berkembang, ia tetap tidak dapat menggantikan kesadaran, etika, dan kebijaksanaan manusia.

Mungkin benar bahwa perjalanan belajar manusia adalah sebuah jalan melingkar. Di tengah teknologi yang semakin canggih, manusia justru dituntut kembali pada fondasi paling dasar: membaca secara mendalam, berpikir kritis, dan bertindak etis.

*Andi Tenri Abeng, M.Pd adalah Dosen Jurusan Administrasi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Makassar