Eric Horas Soroti Maraknya Begal di Makassar

Eric Horas Soroti Maraknya Begal di Makassar

Korban Jangan Dibiarkan Menanggung Luka Sendiri

Makassar, Upeks.co.id — Malam di Makassar tak selalu tenang sekarang. Di beberapa jalan, anak-anak muda pulang dengan luka busur di tubuhnya. Ada yang kehilangan motor. Ada yang kehilangan rasa aman.

Bacaan Lainnya

Di sebuah reses di Jalan Gunung Lompobattang, Wakil Ketua DPRD Makassar, Eric Horas bicara pelan tapi keras maknanya—korban begal tidak boleh dibiarkan menghadapi biaya rumah sakit sendirian.

Wajah-wajah warga tampak serius ketika persoalan begal kembali dibicarakan dalam reses ketiga masa persidangan ketiga tahun sidang 2025/2026 yang digelar di Jalan Gunung Lompobattang, RT 3 RW 2, Kelurahan Pisang Utara, Kecamatan Ujung Pandang, Jumat (22/5/2026).

Di sana, Wakil Ketua DPRD Makassar, Eric Horas, menyoroti maraknya aksi begal yang belakangan sering memakan korban, terutama kalangan anak muda.
Menurutnya, pemerintah kota tidak cukup hanya berbicara soal keamanan. Ada korban yang harus ditolong cepat. Ada luka yang tak bisa menunggu urusan administrasi.

Ketua DPC Partai Gerakan Indonesia Raya Makassar itu meminta Dinas Kesehatan menghadirkan solusi nyata bagi korban begal, terutama mereka yang terkena busur dan membutuhkan tindakan medis segera.

“Nah ini mungkin bisa juga dipikirkan sama Dinas Kesehatan. Karena bagaimanapun itu kan adalah korban. Jadi harus ada penanganan khusus,” kata Eric.

Ia menegaskan, tidak ada orang yang ingin menjadi korban kejahatan di jalanan. Karena itu, pendekatan kemanusiaan harus didahulukan dibanding persoalan biaya.

Menurut Eric, jika ada warga yang terkena busur akibat aksi geng motor, rumah sakit dan Dinas Kesehatan harus hadir lebih dulu menyelamatkan nyawa korban tanpa membebani mereka dengan biaya operasi.

“Paling tidak, harus ada solusi dari Dinas Kesehatan memikirkan apabila warga ada yang terkena busur, apalagi korban. Karena memang sekarang marak geng motor,” lanjutnya.

Selain penanganan korban, Eric juga menyoroti pentingnya langkah mitigasi. Ia mengingatkan kembali usulan warga pada reses sebelumnya mengenai pengadaan kamera CCTV di setiap lorong.

Baginya, kamera pengawas bukan sekadar alat elektronik yang menempel di tiang. CCTV bisa menjadi mata bagi kota yang mulai gelisah pada malam hari.

Dengan pemantauan secara langsung, aktivitas warga dapat diawasi dan rekaman aksi kriminal bisa menjadi bukti untuk membantu pihak kepolisian mengungkap pelaku.

“Paling tidak sangat gampang dideteksi ketika ada hal-hal kriminal yang dilakukan di jalan-jalan,” ujarnya.

Di akhir pernyataannya, Eric mendorong pemerintah kota untuk memberi perhatian lebih kepada generasi muda. Ia menilai pelatihan keterampilan dan bantuan modal usaha bisa menjadi jalan agar anak-anak muda tidak terseret ke lingkungan negatif.

“Bisa juga ada permodalan saya pikir, karena kalau setelah dilatih terus enggak dimaksimalkan, ya terbuang juga, percuma ya,” tutupnya.(rls)