Celoteh Pendidikan

Celoteh Pendidikan

 

Oleh : Randiawan

Bacaan Lainnya

Dosen Pendidikan Kewarganegaraan FIS-H Universitas Negeri Makassar (UNM)

 

Pagi dihari Senin, saya mengajar di salah satu program studi dengan mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan tepat pada hari itu topik perkuliahan membahas mengenai Pendidikan Demokrasi, suasana yang khas seperti biasanya mahasiswa masih menata fokus, sebagian membawa sisa lelah akhir pekan, sebagian lain sudah bersiap dengan catatan terbuka. Alih-alih langsung memulai materi, saya memilih membuka perkuliahan dengan sebuah pertanyaan reflektif yang sederhana namun setidaknya ini dapat mengganggu kenyamanan berpikir mahasiswa “dalam pengalaman anda selama menjadi mahasiswa, kapan terakhir kali Anda merasa tidak berani menyampaikan pendapat karena merasa ‘tidak cukup berhak’?” pertanyaan itu sengaja diajukan untuk mengundang kesadaran kritis, bahwa proses pendidikan bukan hanya berkaitan dengan transfer pengetahuan, tetapi juga relasi kuasa yang biasanya tidak disadari hadir di dalam proses pendidikan.

Tiba-tiba kelas menjadi hening, tapi kemudian perlahan diisi dengan tanggapan-tanggapan beragam, diskusi mulai mengalir ke arah yang lebih substansi. Sebuah respon yang menarik salah satu mahasiswa mengatakan “saya tidak berani menyampaikan pendapat ataupun kritik karena takut salah dan dianggap tidak benar” jawaban yang membuat saya berpikir bahwa diruang-ruang pendidikan pun tercipta ketakutan-ketakutan seperti ini. Pertanyaan lanjutan saya ajukan kepada mahasiswa: “Apakah gelar akademik dan posisi struktural seharusnya membatasi siapa yang boleh berbicara dan siapa yang harus diam?”

Setidaknya pertanyaan ini menjadi pintu masuk untuk mengaitkan pengalaman individu mahasiswa dengan fenomena yang lebih luas, yakni apa yang kita sebut sebagai Sindrom Intelektual. Karena ini dalam lingkungan perguruan tinggi refleksi ini penting untuk membongkar asumsi-asumsi normatif tentang otoritas pengetahuan, sekaligus sebagai penegasan bahwa ruang pendidikan idealnya menjadi ruang dialog yang setara di mana pendapat ataupun kritik bukan dilihat sebagai ancaman, tapi sebagai bagian satu kesatuan dari proses pembelajaran.

Di sudut ruang kelas itu, celoteh-celoteh kecil terdengar spontan dan sering kali luput dari perhatian kita. Terselip cerita-cerita sederhana seperti keinginan untuk sekadar dipahami, tentang rasa ragu ataupun takut yang disembunyikan, hingga mimpi-mimpi kecil yang tumbuh diam-diam di bangku paling belakang. Celoteh itu mungkin terdengar remeh, bahkan biasanya dianggap sebagai gangguan dari “keseriusan” belajar, padahal itulah suara paling jujur dari pengalaman pendidikan untuk tumbuh.

Celoteh-celoteh itu bukan sekadar suara latar, tetapi sebagai gambaran keinginan para mahasiswa yang berusaha menemukan tempatnya dalam sistem yang sering kali kaku menaggapi hal tersebut. Suara-suara yang mencoba mempertanyakan kebijakan, mengoreksi arah, atau sekadar membuka ruang diskusi disalahartikan sebagai bentuk yang mengganggu stabilitas. Ketika kritik pandang sebagai sesuatu yang menganggu, sesungguhnya terjadi bukan lagi meredam kegaduhan, tapi membatasi ruang berpikir. Jika ini terjadi maka pendidikan berisiko kehilangan salah satu arahnya yaitu keberanian untuk mempertanyakan.

Celoteh Pendidikan lahir dari percakapan-percakapan sederhana itu. Ia bukan sekadar kritik atau pujian, tapi potret jujur bagaimana pendidikan dijalani dan dirasakan. Ada tawa di balik kebingungan, ada keluh di balik tuntutan, dan ada harapan yang terus bertahan meski sering kali terpinggirkan. Dari celoteh inilah kita bisa melihat bahwa pendidikan bukanlah sesuatu yang kaku dan satu arah, tapi ruang hidup yang penuh dinamika dan cerita.

Melalui celoteh-celoteh ini, kita diajak untuk mendengar dan memahami bahwa setiap individu memiliki pengalaman yang berbeda dalam dunia pendidikan. Barangkali, dari suara-suara itu yang selama ini diabaikan, kita justru menemukan jalan untuk memperbaiki, menyentuh, dan memanusiakan kembali makna pendidikan itu.

Di antara celoteh-celoteh itu, ada satu nada yang perlahan mengeras sebuah kegelisahan yang tak selalu berani diucapkan terang-terangan. Ketika pendidikan dipandang sebagai hirarki yang kaku, di mana gelar dan jabatan menjadi semacam tameng yang tak boleh disentuh kritik, lahirlah jarak yang semakin lebar antara yang “dianggap tahu” dan yang “dipaksa diam”. Di titik ini kira-kira Sindrom Intelektual mulai menemukan ruang sebuah kecenderungan untuk mengultuskan otoritas pengetahuan. Di ruang-ruang pendidikan, keyakinan ini berubah menjadi sikap yang halus namun sangat terasa. Kebenaran tidak lagi dipahami sebagai hasil dari proses pencarian bersama, tapi sebagai sesuatu yang diwariskan secara vertikal.

Sindrom Intelektual mungkin tidak kita temukan sebagai diagnosis resmi dalam dunia psikologi atau medis. Tapi ini menjadi fenomena sosial khususnya dilingkungan perguruan tinggi, terasa begitu nyata karena hidup di ruang-ruang kelas dan lingkungan kerja. Bukan penyakit tapi menjadi kecenderungan cara berpikir dan bersikap yang secara perlahan membentuk jarak antara pengetahuan dan kebijaksanaan.

Fenomena ini sering kali tidak disadari, dan seringkali kita temukan dilingkungan pendidikan tinggi karena ia dibungkus dengan alasan yang terdengar rasional dilihat dari pengalaman, keahlian, atau otoritas. Tentunya ini akan berdampak pada penyempitan ruang berpikir. Kritik tidak lagi dinilai dari isinya, tetapi dari status sosial yang menyampaikannya. Seolah-olah kebenaran itu memiliki syarat administratif seperti gelar tertentu, jabatan tertentu, atau posisi tertentu.

Sejarah dan kehidupan menunjukkan hal yang sebaliknya. Banyak ide besar lahir dari orang-orang yang tidak memiliki kekuasaan, jabatan, dan posisi tertentu. Banyak kesalahan justru dilakukan oleh mereka yang memiliki otoritas. Relasi menjadi terbalik bahwa otoritas dianggap identik dengan kebenaran, sementara pendapat dan kritik dari bawah dipandang sebagai gangguan.

Akibatnya, ruang dialog menjadi sempit. Orang-orang yang sebenarnya memiliki perspektif yang lebih baik memilih diam, karena merasa tidak memiliki “hak” untuk berbicara. Sementara itu, mereka yang berada di posisi yang lebih tinggi secara struktur dan kedudukan semakin jarang diuji, karena seolah kritik dianggap sebagai bentuk ketidaksopanan, bukan sebagai bagian dari proses berpikir yang sehat.

Mungkin yang perlu kita ubah bukan hanya cara kita berbicara, tetapi juga cara kita mendengar. Belajar untuk memisahkan antara siapa yang berbicara dan apa yang dibicarakan. Karena pada akhirnya, kebenaran tidak pernah eksklusif milik mereka yang memiliki otoritas. Ia bisa datang dari mana saja dari pengalaman sederhana, dari pengamatan sehari-hari, bahkan dari mereka yang tidak pernah duduk di bangku pendidikan tinggi. Selamat Hari Pendidikan Nasional…