MAKASSAR, UPEKS —BukuWarung penyedia platform solusi keuangan terintegrasi bagi pelaku UMKM di Indonesia, menggelar BukuAgen Roadshow 2026 di Makassar (22/4/2026). BukuAgen Roadshow 2026 di Makassar dihadiri ratusan pelaku UMKM dari Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah. Dengan semangat #BanggaJadiBukuAgen, kegiatan ini memberi kesempatan BukuAgen untuk belajar meningkatkan penghasilannya dari sesama agen.
Untuk lebih memperkenalkan produk ini tim BukuWarung melakukan kunjungan kepada salah satu Merchant BukuAgen di daerah Tamangapa Kecamatan Manggala, yakni Rahmat pemilik Azhar Celular.
BukuAgen adalah layanan agen pembayaran resmi dari BukuWarung yang memungkinkan UMKM melayani transfer, tarik tunai, cek saldo, dan pencairan bansos menggunakan mesin EDC.
Melalui solusi BukuAgen, UMKM tidak hanya menjalankan usahanya dan meningkatkan penghasilan, tetapi juga berperan sebagai penghubung akses keuangan di tingkat komunitas. Mulai dari melakukan penarikan uang, menabung, hingga pengecekan saldo.
Brand & Community Manager BukuWarung Riyan Prayugo, menjelaskan kunjungan ini sebagai inspirasi bagi jaringan yang lebih luas di seluruh Indonesia, khususnya di kawasan timur.
Lebih jauh Riyan menyampaikan, bahwa masih banyak cerita inspiratif dari para pengguna Buku Warung yang belum tersebar secara maksimal.
“Hari ini kami ingin memperlihatkan cerita dari agen-agen kami yang sudah menggunakan Buku Agen dan telah berkembang di berbagai daerah. Harapannya, kisah seperti milik Pak Rahmat bisa menginspirasi agen lain,” ujarnya.
Rahmat sendiri disebut sebagai salah satu dari 10 agen dengan transaksi tertinggi di Provinsi Sulawesi Selatan. Menurut Riyan, profil tersebut dinilai relevan untuk menjadi contoh bagi agen lain, terutama di wilayah Indonesia Timur.
Ia juga menegaskan bahwa program Buku Agen dirancang fleksibel tanpa persyaratan rumit.
“Untuk bergabung tidak ada syarat khusus. Buku Agen bisa langsung dibeli melalui website, aplikasi, maupun marketplace seperti Shopee. Tidak ada target bulanan maupun dana awal yang ditentukan,” jelasnya. Modal operasional, lanjutnya, disesuaikan dengan kemampuan masing-masing agen.
Buku Warung sendiri awalnya dikenal sebagai aplikasi pembukuan sebelum berkembang menjadi platform yang lebih luas, termasuk layanan agen. Di Makassar, layanan ini mulai hadir sejak 2022 masih dalam bentuk aplikasi BukuWarung.
Secara nasional, jumlah agen Buku Warung telah melampaui 250 ribu. Sekitar 30 persen di antaranya berada di Indonesia Timur, mencakup wilayah Sulawesi, Papua, Bali, dan Nusa Tenggara. “Sulawesi menjadi salah satu daerah dengan konsentrasi merchant terbesar,” tambah Riyan.
Dengan pertumbuhan tersebut, BukuWarung optimistis ekosistem agen di Indonesia Timur akan terus berkembang dan memberikan dampak ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat setempat.
Dalam kesempatan itu, Rahmat membagikan pengalamannya mengembangkan usaha melalui layanan Buku Agen yang kini semakin diminati masyarakat.
Rahmat mengaku telah menggunakan layanan mini ATM dari Buku Agen selama kurang lebih tiga tahun, dimulai sejak 2023. Awalnya ia hanya memanfaatkan aplikasi pembukuan, sebelum akhirnya beralih menggunakan mesin EDC (Electronic Data Capture) untuk memperluas layanan transaksi.
“Pertamanya dulu cuma aplikasi, sekarang sudah pakai mesin. Dalam sehari bisa sekitar 20 sampai 30 transaksi,” ujarnya.
Menurut Rahmat, kehadiran layanan ini memberikan banyak manfaat, baik bagi dirinya sebagai pelaku usaha maupun masyarakat sekitar. Salah satu keunggulannya adalah kemudahan akses layanan keuangan tanpa harus pergi ke bank atau ATM yang sering kali jauh dan antre.
“Bisa membantu orang untuk tarik tunai, jadi lebih dekat. Tidak perlu antre ke ATM atau ke bank,” jelasnya.
Selain tarik tunai, Rahmat juga melayani berbagai transaksi lain seperti pembelian voucher listrik, pembayaran PDAM, isi ulang pulsa, hingga pembayaran layanan transportasi seperti Maxim dan Grab.
Perjalanan Rahmat menjadi agen bermula secara tidak sengaja. Ia yang awalnya hanya membuka kios campuran kemudian ditawari untuk mencoba mesin Buku Agen. Dari situ, usahanya berkembang pesat.
“Awalnya cuma coba-coba, ternyata banyak peminatnya dan transaksinya juga banyak,” katanya.
Dalam operasionalnya, Rahmat menyebut nominal penarikan tunai bisa mencapai maksimal Rp10 juta. Biaya administrasi pun bervariasi, misalnya Rp5 ribu untuk penarikan Rp1 juta, dan Rp10 ribu untuk Rp5 juta.
Seiring waktu, ia merasakan peningkatan signifikan dalam jumlah transaksi dan pendapatan. “Perkembangannya semakin meningkat dari sebelumnya,” ungkapnya.
Dari usaha tersebut, Rahmat kini bisa meraup pendapatan sekitar Rp3 juta hingga Rp5 juta per bulan. Hasil itu bahkan mampu mendukung pendidikan anaknya, Azhar, yang saat ini menempuh pendidikan di tingkat SMA di Kairo, Mesir.
Rahmat juga berencana mengembangkan usahanya dengan menambah mesin dan memperluas layanan jika memiliki rezeki lebih. Kios yang dijalankannya saat ini merupakan usaha pertamanya, yang kini terus berkembang seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap layanan keuangan yang mudah diakses. “Kalau ada rezeki, rencana mau tambah lagi,” tutupnya. (jar)

